Ada sebuah kebanggaan tersendiri ketika melihat jutaan masyarakat Indonesia bergerak bersatu untuk mendukung timnas kebanggaan di kompetisi Piala AFF 2010 kemarin. Saya yakin setiap orang pada saat itu sangat bangga dengan sepak terjang timnas kita. Kemenangan-demi kemenangan diraih hingga mengantarkan Tim Indonesia menembus babak final pada perhelatan 2 tahunan ini. Saat itu saya berfikir bahwa rasa Nasionalisme Bangsa ini telah bangkit. Rasa cinta terhadap bangsa meleburkan semangat persaingan antar supporter, antar suku, bahkan para elit petinggi PSSI yang saat itu sedang diguncang isu menggulingkan rezim Nurdin Halid.
Indahnya Semangat kebersamaan mendukung Timnas semakin memuncak ketika Indonesia bertanding di babak final Piala AFF. Ratusan ribu masyarakat memaksa untuk masuk stadion Gelora Bung Karno yang hanya berkapasitas aman 80.000 orang. Segala atribut warna yang yang menjadi identitas klub, mereka lepaskan dan terjun ke lautan manusia berwarna merah membara untuk satu kemenangan, dan pertaruhan harkat martabat bangsa. Walaupun pada akhirnya kita harus mengakui kekalahan dari Malaysia secara agregat dan hasil sebagai Runner-up harus diterima bangsa Indonesia. Namun, tetap saja ada kebanggan tersendiri ketika melihat sepakbola mampu menyatukan segala unsur dari bangsa ini.
Indahnya jika rasa Kerbersamaan itu tidak hanya ada ketika bangsa ini sedang dipuncak prestasi, Namun, pada titik nadir sekalipun ketika kita berada di bawah..!!
Seminggu kemarin, ada 2 kekalahan besar yang dihadapi timnas sepakbola kita. Bagaimana tidak, bermula dari kekalahan Garuda U-21 yang dipaksa menelan kekalahan 1-3 dari tim Myanmar pada ajang Hasanah Bolkiah Trophy di Brunei, dan pertandingan selanjutnya Garuda U-23 yang mewakili Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2014 Zona Asia harus terpuruk ditangan Bahrain sepuluh gol tanpa balas.
Keterperukan dari hasil pertandingan tersebut membuat bangsa Indonesia "marah". Setelah kekalahan itu muncul banyak sekali cacian dan makian yang datang bukan dari Negara lain tapi berasal dari Bangsa dan masyarakatnya sendiri. Ditambah dengan bumbu penyedap dari berbagai media baik online, cetak, ataupun televisi, yang menyangkut pautkan kekalahan ini dengan kasus carut marut yang ada di PSSI, dualisme kompetisi kita, bahkan coba dihubungkan dengan perebutan kekuasaan antar elit politik di sepakbola kita.
Rasanya tidak bijak jika keterpurukan Garuda ini memicu munculnya hujatan dan cacian terhadap hasil yang didapat apalagi dengan menyeret konflik dalam persepak-bolaan nasional kita menjadi bumbu. Harus diingat bahwa setiap penampilan timnas, di level manapun, bukan lagi mewakili PSSI tetapi menjadi representasi negara dan bangsa Indonesia. Bangsa ini adalah bangsa yang beradap, tenggang rasa diutamakan, dan semangat gotong royong menjadi landasan bekerja. Namun, jika melihat sosial kemasyarakatan kita asas-asas mulia ini seperti dilupakan dan tergerus dengan kebebasan berpendapat.
Kekalahan 10-0 memang menjadi aib besar untuk negeri ini. Kekalahan terbesar sepanjang sejarah persebakbolaan Indonesia harus diterima dan akan selalu membekas seiring dengan upaya bangsa ini bangkit dari keterpurukan. Semua elemen bangsa ini sedih, perih, dan tentu saja malu. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah, Apakah bijak jika rasa marah dan rasa malu ini kita luapkan pada punggawa kita yang bertanding kemarin..???
Semua masyarakat sedih tak terperi menghiasi raut wajah mereka, laksana awan hitam yang menutupi cerahnya mentari menyinari bumi. Siapapun merasakan sakitnya keterpurukan. Tapi, Siapa yang paling merasakan kalutnya perasaan seperti ini? Tak lain dan tak bukan adalah para pemain yang telah berjuang sekuat tenaga demi menjalankan tugas negara untuk “berduel” di negara lain. Sebuah rasa pilu yang tak mungkin disembunyikan oleh para pahlawan kita ini.
Pejuang setangguh apapun tidak ingin merasakan kekalahan..!!
Mari kita coba berpikir dan berempati untuk berada di posisi para punggawa kita yang lelah berjuang. Saya yakin penyesalan tertinggi ada di pundak mereka karena merekalah yang langsung ada didepan ketika negeri ini sedang dipermalukan. Ada yang langsung down ketika hasil pengorbanannya hanya berbuah makian, Segala macam penyesalan timbul karena serangan psikis yang mereka terima. Ada yang tak bisa tidur menyesali kontribusinya dihujat, ada yang ingin mundur saja dari timnas ketika mengetahui cacian yang dialamatkan kepada dirinya, Dan yang sungguh sangat disayangkan adalah, segala macam hujatan, cacian, makian, dan seabrek komentar negatif ini datang bukan dari bangsa lain, melainkan datang dari Warga Negara Indonesia, tempat kita belajar arti tenggang rasa dan semangat kebersamaan.
Saya yakin kondisi terberat yang dirasakan para punggawa timnas kita adalah ketika mereka harus pulang ke tanah air dari Bahrain. Pada saat itu kondisi Skuad Garuda bisa dibilang “pulang menanggung malu”. Semua itu terbukti benar, sungguh miris ketika mereka tiba di bandara dan berjalan menuju bus penjemput, cacian dan makian orang-orang disekitar bandara pun mereka luapkan kepada pejuang-pejuang kita ini.
Belajar dari kasus ini kita sebenarnya bisa melihat tingkat kedewasaan bangsa ini. Kedewasaan yang bukan hanya dilihat dari segi usianya saja, namun kedewasaan terutama dari segi tanggung jawabnya. Segera bisa kita saksikan bersama dengan menggunakan hati nurani, siapa dan siapakah orang yang akan memberikan simpati dan empatinya atas kekalahan ini. Bila timnas sedang berjaya (meski tanpa mahkota) semua pihak akan berlomba-lomba saling mengakui peran dan keikutsertaannya. Tapi coba bandingkan saat timnas terpuruk, siapa sajakah orang-orang yang peduli untuk setidaknya merangkul pundak, mengangkat dagu, dan menatap wajah para pemain dengan perasaan bangga atas jerih payah yang mereka lakukan serta memberikan apresiasi dukungan moral sebagai pelecut mental anak-anak ini. Ini adalah tanggung jawab moral bangsa terhadap setiap orang yang berjuang mengangkat harkat dan martabat bangsa ini di level Internasional. Tanggung jawab kita adalah memberikan dukungan kepada timnas yang sedang bertanding. Semakin dewasa, semakin besar tanggung jawabnya, dan semakin besar pula kewajibannya, tak hanya sekedar bersenang-senang saat merayakan kemenangan tim.
Nasionalisme kita di ujung tanduk..??
Bangsa ini tidak hanya harus belajar bagaimana memajukan sepakbola kita, namun menurut saya bangsa ini juga harus belajar menjadi bijak menghadapi keterpurukan. Keterpurukan bukanlah akhir dari segalanya, ini merupakan fase kritis dari sebuah harmonisasi roda kehidupan. Memang pada saat ini kita sedang berada di titik nadir di bawah. Namun, jangan sampai kondisi ini membuat kita semakin terpecah belah dan menyalahkan pihak-pihak tertentu. Rasa Nasionalisme seharusnya harus tetap berdiri kokoh dalam upaya membangkitkan persepakbolaan kita. Rasa Nasionalisme tak mengenal kalah atau menang.
Nasionalisme membuat Bangsa ini tidak hanya menghargai sebuah kemenangan, namun membuat bangsa ini belajar menghargai kekalahan, lawan, dan proses pertandingan.
Karena nasionalisme membuat kita satu hati untuk mencintai bangsa ini dalam kondisi apapun. Dalam sebuah pertandingan sepakbola, tentu saja menang, imbang, maupun kalah adalah hal yang lumrah, karena itulah sebuah harga yang harus dibayar dari sikap sportifitas. Yang penting harus diperhatikan adalah, bagaimanakah proses mendapatkan hasil tersebut. Kalah dengan cara fair-play tentu saja lebih terhormat daripada menang dengan cara-cara ilegal seperti indikasi penyuapan maupun “sudah diatur bandar judi”. Kekalahan yang membuat kesadaran, jauh lebih berharga daripada kemenangan yang akhirnya malah menjadikan diri terlena dan terbuai hingga tak sadar ada batu penghalang persis di depan langkah kita.
Yang terakhir saya berharap bahwa Bangsa ini akan selalu belajar untuk menghargai hasil kontribusi orang-orang kita yang dengan jerih payahnya berusaha mengharumkan nama bangsa walaupun hasil pahit yang harus diterima.
Jika saya diberi kesempatan ketika melihat kontribusi mereka, Saya akan pertama memeluk mereka dan berkata “KALIAN TETAP MENJADI PAHLAWAN BANGSA INI…!!”























