Siapa saya..???
"Hanya mahasiswa biasa yang banyak omong di kelas namun punya niat tulus membuat bangsa ini menjadi lebih baik suatu saat nanti.." (amin)

--- Tulisan di dalam blog ini adalah OPINI personal dari penulis. Baik berupa pendapat, pandangan, perspektif, dan tanggapan terhadap suatu kejadian, keadaan disekitar kita. Tulisan dalam blog ini adalah gagasan penulis tanpa maksud menyindir, menjatuhkan, bahkan membuat GALAU pembaca. Tulisan dalam Blog ini bersifat netral, tidak ditunggangi oleh PARTAI POLITIK apapun dan KEPENTINGAN PENGUASA termasuk KONSPIRASI. Penulis mohon maaf bila ada kesamaan karakter, isi, dan makna dalam setiap tulisan. Terima Kasih ---

Minggu, 29 Mei 2011

MIPA Cup 2011 is Over, But The Spirit Never Ends

by : Choirudin Anas

SALAM OLAH RAGA..!!

Akhirnya, walau sedang disibukkan dengan tekanan “badai” UAS yang begitu berat, masih saya sempatkan untuk menulis di blog ini. Awalnya agak sedikit bingung mau menulis tentang apa, tapi akhirnya saya akan review sedikit tentang MIPA CUP 2011 yang ALHAMDULILLAH penyelenggaraannya sudah berakhir tepat tanggal 23 MEI kemarin.

“ Setiap memulai perjuangan kadang berat dan terasa pahit namun yakinlah, semua itu akan berakhir dengan manis dan penuh kebanggaan..!!”

MIPA Cup sebenarnya adalah program kerja UKOR yang paling besar. Karena selain membutuhkan waktu penyelenggaraan yang paling lama yaitu hampir sebulan, proker ini juga membutuhkan dana besar dan persiapan yang matang. Dari tahun ke tahun memang penyelenggaraan acara ini selalu dinanti-nanti 6 departemen yang ada di MIPA, terutama mereka yang ikut terlibat langsung dalam acara baik sebagai panitia, altit, maupun supporter jurusan yang selalu setia mendukung tim kesayangannya bertanding.

Memutuskan melakukan penyelenggaraan MIPA cup 2011 sebagai proker pertama UKOR 2011 memang menjadi tantangan yang cukup berat. Pada saat itu, UKOR 2011 yang kebetulan saya pimpin memang baru menjabat sebulan, untuk standar sebuah organisasi butuh waktu yang cukup panjang dalam proses adaptasi awal dan melakukan konsolidasi yang baik demi kesatuan tim satu tahun kedepan. Ada beberapa kendala dan tantangan yang ada di hadapan kami saat berniat menyelenggarakan acara mipa cup 1 bulan yang lalu.

Pertama adalah faktor lapangan yang rusak dan tidak memadai. Saya tidak mau naïf kalau mau bilang bahwa kondisi lapangan MIPA rusak PARAH dan berbahaya bagi anak-anak saat bermain baik futsal, basket, maupun voli. Banyak lubang dimana-mana, debu dan pasir yang membuat licin, serta cor-coran yang mengelupas di setiap bagian lapangan. Menjadi sesuatu yang riskan dan berbahaya jika memaksakan penyelenggaraan MIPA cup diadakan di kondisi lapangan seperti ini. Dan tentu saja masalah lapangan adalah kendala dan tantangan terbesar di hadapan kami.

Kedua, adalah masalah fasilitas alat untuk olah raga. Fasilitas yang dimaksud meliputi bola untuk basket, futsal,dan voli, gawang futsal, ring basket,serta tenis meja, dll. Beberapa fasilitas pendukung dalam olah raga ini memang tidak layak untuk digunakan, seperti jarring gawang yang putus, gawang yang patah, ring basket miring, dan papan basket yang mau lepas. Saat itu saya berpikir bagaimana anak-anak di MIPA bisa bermain maksimal jika kondisi peralatan olah raga seperti ini. Saya yakin bila peralatan dan fasilitas sesuai standar, dapat digunakan dengan baik serta ”comfort” bagi yang memakainya pasti kita akan disuguhkan sebuah permainan dan pertandingan yang cantik.

Ketiga adalah masalah koordinasi ke tiap-tiap departemen dan memilih PO serta panitia yang kapabel untuk MIPA cup 2011. Saat awal kepemimpinan di UKOR 2011 saya dituntut untuk melakukan konsolidasi serta membuka link dengan para ketua-ketua Bidang Olah raga tiap departemen. Memang sesuatu yang mudah apalagi dunia kita saat ini sudah di kelilingi oleh teknologi-teknologi yang canggih untuk berkomunikasi. Namun, tetap saja masalah koordinasi saya jadikan sebuah tantangan karena setiap hal atau acara tidak akan berjalan dengan baik dan maksimal bila koordinasi dan komunikasi tidak lancar. Sebulan yang lalu ketika berpikir MIPA cup diadakan di akhir semester ini sebelum UAS, ada satu tugas yang menantang bagi saya, yaitu memilih PO (project officer) untuk acara ini. Untuk menghasilkan ekspektasi yang baik dan sesuai memang dibutuhkan PO dan panitia yang capable, bertanggung jawab, dan tentu saja mau menerima tugas untuk memimpin dan menjalankan penyelenggaraan MIPA cup 2011 selama sebulan penuh dengan konsekuensi di sekitar mereka. Acara yang baik bergantung dengan SDM yang menjalankannya..!!

2 ekspektasi awal saya dalam penyelenggaraan MIPA Cup tahun ini adalah terselenggaranya acara MIPA CUP 2011 dengan baik dan lancar serta di peroleh bibit-bibit pada berbagai bidang olah raga yang ada di MIPA untuk di siapkan di OLIMPIADE UI 2011. Niat awal dalam penyelenggaraan saya berharap agar Target ini TERPENUHI, bahkan saya selalu berharap TERLAMPAUI dengan berbagai hasil yang baik selama penyelenggaraan acara ini.

Dan akhirnya semua USAHA ini memang selalu harus diawali dengan BISMILLAH.. (dengan menyebut nama ALLAH yang selalu akan merestui..!!)

--

“Mari menikmati setiap Proses Perjuangan yang ada disekitar kita…!!”

Tantangan dan kendala memang ada untuk membuat kita berpikir LEBIH.. Saya ingat sekali note dari Albert Einstein yang mengatakan, “Jangan kamu menggunakan satu tingatan pikiran yang sama ketika masalah itu di buat..!!” dan satu hal yang saya maknai dari kalimat ini adalah setiap manusia harus mampu berpikir lebih dan maksimal untuk menghadapi setiap tantangan dan kendala dalam hidupnya. Karena pada dasarnya Solusi terbaik dari setiap masalah berasal dari DIRI kita sendiri.

Semangat untuk mencapai ekspektasi yang sesuai target di MIPA CUP tahun ini membuat saya bersemangat untuk berjuang dan memberikan yang terbaik dalam kelancaran acara ini. Saya memulai dari apa yang bisa saya lakukan sekarang..!!

Pada saat itu, yang bisa saya lakukan adalah melakukan koordinasi dengan ketua-ketua bidang olah raga tiap departemen bahwa penyelenggaraan MIPA cup 2011 akan saya adakan pertengahan bulan April hingga akhir Mei. Koordinasi yang baik harus ada pada saat itu, karena saya menyadari bahwa ada beberapa departemen yang memang biasa mengadakan CUP (kompetisi oleh raga) intern departemen pada waktu tersebut. Namun, dengan satu visi yang sama dan satu tujuan untuk MIPA, akhirnya departemen-departemen tersebut rela berkorban untuk menunda atau memajukan CUP mereka demi penyelenggaraan MIPA cup 2011.

Kemudia memilih PO (Project Officer) MIPA Cup 2011. Awalnya saya berpikir akan melakukan bidding untuk PO dan panitia, tetapi akhirnya saya urungkan niat itu karena waktu yang mendesak dan segera harus diputuskan siapa orang yang sesuai untuk memimpin penyelenggaraan acara ini. Ada beberapa kriteria yang saya ajukan untuk memilih PO yang sesuai, sebenarnya persyaratan wajar seperti, bertanggung jawab, berkomitmen penuh, bisa memimpin di kepanitiaan, dan tentu saja harus familiar dengan olah raga terutama di MIPA. Dan akhirnya terpilih PO MIPA cup 2011 adalah Shinta (bio 09), yunior saya sendiri di Biologi..(hehe..!). Saya yakin dia orang yang tepat untuk memimpin penyelenggaraan MIPA cup tahun ini dengan timnya, sehingga akan berhasil dengan lancar dan baik. and They Proved it..!!

Kemudian untuk masalah lapangan, saat itu untuk lapangan memang sedikit membuat saya dan teman-teman panitia bingung. Apalagi saya dan teman-teman panitia menjanjikan bahwa kondisi lapangan akan baik selama penyelenggaraan mipa cup. Kalau meminta dana perbaikan ke dekanat sesuai sejarah susah turunnya. Kalau tidak diperbaiki, penyelenggaraan mipa cup bisa riskan dan bahaya bagi pemain. Berpikir JUST DO IT…!! Akhirnya kami memutuskan untuk memperbaiki sendiri semampunnya dengan tenaga dan biaya sendiri. Alhamdlah saat itu ada dana tambahan dari BEM dan dari anak2 sendiri. Uang sekitar 300rb terkumpul dan saya ingat waktu itu kami belikan satu sak semen, ember, 6 karung pasir, cat dan kuas. Hari Sabtu dengan dibantu beberapa orang kami berusaha dengan kemampuan “pertukangan” seadanya menutup lubang-lubang yang ada di lapangan. Memangg usaha yang kami lakukan ini tidak memberi hasil maksimal karena tidak semua lubang tertutup dan malah membuat kesan kotor.

“Tuhan akan mengabulkan setiap perjuangan sepenuh hati, tidak perjuangan setengah-tengah..!!”

Tuhan memang selalu memberi yang terbaik bagi hambanya yang terus berusaha. Waktu kita membetulkan lapangan ada pihak dekanat lewat di lapangan. Beliau merasa aneh ketika melihat ada mahasiswa yang memperbaiki lapangan sendiri. Akhirnya, saya dipanggil waktu itu dan saya berusaha menjelaskan semuanya termasuk kenapa memperbaiki lapangan ini sendiri. Setelah itu gayung bersambut, mereka memastikan bahwa perbaikan lapangan adalah tanggung jawab dekanat, dan memastikan akan ada perbaikan. Setelah beberapa kali berdialog, akhirnya tepatnya akan ada 2 kali perbaikan. Tahap satu sebelum mipa cup berlangsung, dan tahap dua untuk perbaikan lebih besar. ALHAMDULILLAH janji untuk memberikan kondisi lapangan yang baik terpenuhi.

MIPA CUP 2011 memang memasang uang pendaftaran yang lumayan tinggi untuk tiap departemen yaitu sebesar Rp. 350.000. Tapi dengan kenaikan uang pendaftaran ini, panitia komitmen memberikan sesuatu yang beda dan ada peningkatan pelayanan dari pada tahun-tahun sebelumnya. Termasuk dari kondisi lapangan, alat olah raga, wasit, dan kompetisi hiburan.

“Jika kita menanam bibit yang baik, pasti kita akan memanen buah yang baik pula..!!”

Semangat Bismillah untuk memulai sesuatu yang baik.. Pembukaan Mipa Cup berlangsung pada tanggal 20 April kemarin. Pembukaan ini meriah dengan dihadiri Dekan FMIPA bp. Adi basukriadi, para petinggi dekanat dan tentunya dihadiri oleh semua kontingen dari jurusan di Mipa. Pada saat pembukaan bapak Dekan sangat “exited” melihat semangat anak2 untuk menyambut Mipa Cup 2011 dan senang melihat lapangan yang berubah lebih baik dengan kerja keras anak2 sendiri. Akhirnya beliau menjanjikan Hadiah uang tunai bagi para pemenang dengan hadiah total jutaan rupiah. Yang pertama dalam penyelenggaraan acara ini dengan hadiah yang begitu besarnya, semoga memotivasi para atlit MIPA untuk bertanding dan mengeluarkan potensi terbaik selama kompetisi berlangsung. ALHAMDLAH untuk setiap berkah yang datang ketika kita sedang melalui proses perjuangan.. !!

Mipa Cup 2011 berlangsung selama 5 minggu lebih dengan mempertandingkan berbagai macam olah raga, yaitu futsal, basket, voli, tenis meja, dan badminton. Serta berbagai kompetisi tambahan seperti 3 point kontes, juggling kontes, tarik tambang, adu panco, balap bakiak, dan balap karung. Memang selama pertandingan pasti selalu ada kekurangan dalam penyelenggaraan, namun itulah intrik dan hiasan yang akan selalu menghiasi sebuah kompetisi. Tapi Alhamdlah secara general semua berjalan dengan baik dan lancar.

Akhirnya tanggal 23 Mei 2011, Mipa Cup secara resmi di tutup dengan meninggalkan berbagai kenangan yang manis dan perjuangan pantang menyerah dari tiap-tiap kontingen departemen. Berikut ini adalah daftar perolehan medali dan pemenang personal beberapa penghargaan yang lain :

  1. FISIKA 5 1 1
  2. GEO 3 2 1
  3. BIO 2 5 4
  4. FARMASI 2 1 3
  5. MAT 1 3 3
  6. KIMIA 0 1 1

Dengan perolehan medali ini maka diumumkan :

Juara Umum 1 : FISIKA, berhak mendapatkan uang 2,5 juta +Piala Bergilir.
Juara Umum 2 : GEOGRAFI, berhak mendapatkan uang 1,5 juta
Juara Umum 3 : BIOLOGI, berhak mendapatkan uang 1 juta
Juara Umum 4 : FARMASI, berhak mendapatkan uang 500rb
Juara Umum 5 : MATEMATIKA, berhak mendapat uang 500rb
Juara Umum 6 : KIMIA, berhak mendapat uang 500rb

Serta beberapa beberapa penghargaan personal lainnya :

3 Point kontes : Janit (fis)

Juggling kontes : Hendar (geo)

MVP basket Pa : Fahmi (fis)

MVP basket Pi : Chintya (bio)

Top Skor Futsal Pa : Anas (bio)

Top Skor Futsal Pi : Wulan (geo)

Saya ucapkan Selamat buat para pemenang dan tetap berjuang tahun depan bagi yang belum beruntung di penyelenggaraan MIPA cup 2011 tahun ini.

Target TERPENUHI…!! Atau apakah TERLAMPAUI..??

Bersyukur harus selalu saya ucapkan untuk kelancaran MIPA Cup tahun ini. Selamat juga untuk para panitia yang terlibat. Saya masih ingat ketika penutupan MIPA cup tanggal 23 mei kemarin, bp. Dekan menghampiri saya dan bilang, “Saya bangga dengan kalian..!!”. Wah..Semoga ini menjadi semangat ke depan buat kita semua agar berjuang lebih baik lagi demi memajukan olah raga Mipa. Sekali lagi awal penyelenggaraan target saya dan panitia ada 2, yaitu pertama, acara Mipa Cup 2011 terselenggara dengan baik dan kedua, diperoleh banyak bibit untuk Olimpiade UI 2011. Dengan bangga dan berterima kasih sekali kepada panitia bahwa kedua target kita telah terpenuhi. Acara Mipa Cup 2011, berhasil selesei sesuai target yaitu selama 5 minggu dan berjalan dengan lancar. Memberikan rasa puas kepada semua yang terlibat di acara ini serta kenangan manis bagi para pemenang dan atlit yang bertanding. Kedua, banyak potensi-potensi atlit yang kita dapatkan selama penyelenggaraan, baik dari futsal, basket, voli, dll. Semoga kedepan program persiapan untuk OLIMPIADE UI 2011 berjalan dengan lancar juga.

Apakah target terlampaui..?? Alhamdlah penyelenggaraan ini memberikan kenangan manis bagi semua yang terlibat, dan memberikan kebanggaan bagi panitia dan para pemenang. Sehingga dengan alas an ini saya berani mengambil kesimpulan bahwa target kita terlampaui. Alhamdlah.

Target Pribadi..!!

Mipa Cup 2011 adalah even ketiga mipa cup yang saya ikuti tahun ini bersama biologi dan mungkin menjadi tahun yang terakhir. Tahun kemarin kita mendapatkan kehormatan sebagai Juara Umum. Namun, tahun ini kita harus berlapang dada karena kita harus turun peringkat di posisi ke tiga kalah bersaing dengan Fisika dan Geografi. Masih ingat di tulisan saya sebelumnya bahwa di Mipa Cup tahun ini saya turun di beberapa nomor pertandingan, dan berharap memberikan gelar bagi biologi.Memang belum memberikan hasil yang terbaik, namun saya merasa bersyukur karena telah memberikan perjuangan yang terbaik. Bersyukur pula karena semua nomor pertandingan yang saya ikuti di Mipa Cup 2011 mendapatkan medali, yaitu, futsal mendapat perunggu, basket mendapat perak, voli mendapatperak, lompat jauh perak, lari sprint 100 meter perak, dan pemenang tambahan menjadi Top Skor futsal putra dengan 7 gol. Alhamdlah, masih bisa berkontribusi dan berjuang maksimal dengan para atlet dari Biologi.

Terakhir saya ucapkan terima kasih kepada semua orang yang terlibat dalam penyelenggaraan acara ini. Terutama Shinta sebagai PO dan semua panitia Risya, Wulan, Asti, Ben, Ryan, Ikbal, Shera, Ridha, Ebeth, Andika, Handi, Timothy, Adi, Riza, Gibran, Yuan, Widya, Naya, Ari, Aji,ilham, Priska, Haris, Fajar, Dedi, Manda, BEM, dan tentunya bp. Dekan yang terhormat. *maaf kalo ada yang belum kesebut ;)

Memang MIPA cup 2011 telah selesei, namun SEMANGAT perjuangan kita tidak akan berhenti..!!

SALAM OLAH RAGA..!!

Team Mipa Cup 2011 dengan Dekanat



Team Mipa Cup 2011


Senin, 16 Mei 2011

I Love my Problem...!

by : Choirudin Anas
date : 15 Mei 2011

Hari-hari memang berat terutama untuk orang-orang yang menjalani hidup ini tanpa mimpi dan tanpa perjuangan..!!

Mungkin agak lebai kalau tulisan saya yang satu ini bakal membahas tentang arti perjuangan. Saya yakin tiap orang disekitar kita sudah familiar dengan kata PERJUANGAN. Ketika kita masih duduk di sekolah dasar sampai sekolah mengengah kita belajar bagaimana perjuangan para pahlawan merebut kemerdekaan. Tetes darah dan hilangnya ratusan bahkan ribuan nyawa rakyat Indonesia menjadi bukti begitu beratnya perjuangan yang mereka lakukan. Namun, bagai oase di padang pasir, perjuangan berat hampir selama 3,5 abad ini membuahkan hasil dengan digaungkan naskah proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh proklamator kita. Dan sekarang tinggal tugas kita sebagai anak bangsa untuk melanjutkan Perjuangan para pahlawan terdahulu untuk membawa Bangsa ini menjadi lebih baik.

Nilai Perjuangan sebenarnya telah diajarkan oleh para pendahulu kita sebelum kita lahir. Menurut saya arti PERJUANGAN adalah segala usaha dan upaya yang kita lakukan untuk mendapatkan hasil terbaik, bahkan perjuangan hidup tidak akan habis sampai kita menghembuskan nafas terakhir untuk terus mewujudkan setiap MIMPI kita baik di dunia maupun di akhirat. Setiap manusia dituntut untuk memperjuangkan hidupnya sampai akhir, secara hukum Tuhan usaha untuk mencapai keberhasilan setiap orang akan dihadapkan dengan berbagai masalah-masalah yang akan menghiasai warna hidup ini menjadi lebih berwarna. Dan seberapa besar perjuangan seseorang untuk keluar dari setiap masalah ini yang akan menentukan tingkat keberhasilannya kelak.

Saya mempelajari sebuah prinsip hidup yang sederhana bahwa yang terpenting untuk mencapai keberhasilan adalah mengatasi masalah yang muncul pada saat kita memperjuangkan KEBERHASILAN itu. Memang benar jika kita melihat orang-orang di sekitar kita, semua orang pasti ingin meraih prestasi atau keberhasilan setinggi-tingginya. Cuma sayangnya, hanya sedikit orang yang sanggup mengatasi masalah yang muncul saat sedang memperjuangkan keberhasilan itu. Bahkan tidak sedikit dari mereka berusaha lari dari masalah dan mencari jalan pintas dengan cara-cara yang tidak dibenarkan.

Bagaimana menghadapi sebuah Masalah..??

Kalau bicara tentang masalah atau problem dalam hidup ini memang tidak akan ada habisnya. Setiap orang dengan pekerjaan, status sosial, posisi, mimpi, dan cita-cita yang berbeda akan mempunyai masalahnya masing-masing. Masalah itu memiliki sumber bermacam-macam. Ada yang bersumber dari diri kita sendiri, dari orang lain, ataupun dari keadaan di sekitar kita. Ada masalah yang memang bisa kita kontrol dan kendalikan, namun ada pula masalah yang cuma bisa kita jalani atau hadapi. Saya berusaha mendeskripsikan beberapa masalah saya sebagai seorang mahasiswa semester 6 di Universitas Indonesia dan bagaimana cara mengatasi menurut pandangan saya.

Masalah yang pertama adalah rasa Malas. Menurut saya masalah ini adalah masalah utama yang bersumber langsung dari diri sendiri. Malas bukan sifat namun sebuah sikap. Malas merupakan sikap atau perilaku yang tidak mau melakukan sesuatu kegiatan dalam tempo waktu yang ditetapkan. Bisa dibayangkan seorang mahasiswa dengan banyaknya tugas, aktivitas, dan kewajiban lain baik akademik ataupun organisasi memiliki rasa malas yang tinggi. Banyak tugas yang akan menumpuk dan akhirnya tidak dapat diselesaikan sesuai jadwal, kewajiban belajar untuk mengejar materi tidak bisa dilakukan, managemen waktu tidak terkendali dan sampai akhirnya akan berdampak negatif pada setiap hasil yang akan saya peroleh di akhir. Ada sebuah pepatah yang mengatakan malas adalah tikarnya iblis. Bila kita membiarkan sikap malas ini dengan tidak berusaha memeranginya, maka tikar itu akan semakin lebar, sehingga semakin nyaman iblis bersemayam di atasnya. Kita akan menjadi semakin sulit keluar dari sikap malas itu dan hancurlah kita setinggi apapun ilmu kita, karena akan berakhir tanpa diamalkan. Rasa malas juga diprediksi akan membuat sebuah bangsa tidak akan maju. Mari kita melihat disekitar kita sikap malas yang semakin menjadi budaya bangsa Indonesia untuk tidak disipilin dan tepat waktu (ngaret) terhadap suatu janji atau pekerjaan.

Bagaimana cara mengatasi ??

Hanya satu cara yang paling ampuh, yaitu berusaha memerangi rasa malas ini. Semakin banyak waktu kosong seseorang maka semakin tinggi pula rasa malas yang akan muncul. Isilah setiap waktu kosong anda dengan kegiatan yang bermanfaat. Mengerjakan tugas yang diburu deadline (jangan ditunda), belajar, membaca buku, atau menulis jika waktu senggang. Yang terpenting jangan sampai waktu kosong terbuang dengan percuma. Apalagi ada prinsip ekonomi yang mengatakan bahwa waktu itu adalah uang..!! Ketika di kamar, jauhkanlah diri anda dari kasur atau bantal, dan dekatilah meja belajar atau buku. Karena saya membuktikan sendiri bahwa rasa mala situ tidak hanya timbul dari keingingan pelaku namun juga dari keadaan yang mendukung.

Ketiduran di kelas karena tidak ada dosen. (malas karena keadaan)


Anda lebih baik pula mencatat setiap tugas-tugas anda sebagai seorang pelajar atau mahasiswa. Karena, catatan ini cukup efektif mengingatkan saya untuk tidak malas karena ada banyak tugas-tugas yang menunggu. Dan terakhir saran saya untuk memerangi rasa malas adalah mintalah pada orang-orang diserkitar anda bisa teman, pacar, orang tua, atau siapapun untuk selalu mengingatkan anda agar selalu meninggalkan rasa malas dan melakukan kegiatan yang bermanfaat.

Masalah yang kedua, adalah Takut akan kegagalan. Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri tentang apa yang kita inginkan dalam hidup ini? Akan timbul berbagai macam jawaban untuk menjawab pertanyaan ini. tapi kita pasti sepakat bahwa semua itu bermuara pada satu kata, yaitu KESUKSESAN..!!

Saya termasuk tipe orang yang memiliki impian dan mimpi yang tinggi. Setiap awal tahun saya berusaha membuat resolusi atau target pencapaian yang harus dicapai di tahun tersebut. Memang sering kali saya bimbang untuk menentukan resolusi-resolusi apa yang akan saya perjuangkan. Telah menjadi hukum Tuhan bahwa setiap orang mendambakan kesuksesan dalam hidupnya. Energi hidup kita tercurah dalam proses perjuangan untuk menggapai sukses. Obsesi yang terlalu tinggi untuk mencapai kesuksesan membuat sebagian kita menjadi takut berhadapan dengan kegagalan. Lalu, disadari atau tidak, kita mengembangkan semacam alarm ‘awas gagal’. Gejala khasnya adalah kepala pening, jantung berdenyut lebih cepat, badan berkeringat dingin dan sulit tidur.

Rasa takut akan kegagalan sering kali membuat kita buntu untuk terus berjuang pada level yang lebih tinggi, keberhasilan memang harus diperoleh dengan resiko kegagalan sama dengan tingkat kepuasan yang akan kita dapatkan ketika kita berhasil. Namun, kadang sulit menerima sebuah kegagalan dalam proses kehidupan ini, sulit untuk tidak meratapi, dan sulit untuk kembali bangkit dan terus berjuang.

Salahkah merasa takut gagal? Sebenarnya, dalam takaran proporsional, perasaan takut gagal adalah wajar. Bahkan, pengelolaan yang baik atas perasaan ini bisa menjadi semacam ruang penyediaan energi cadangan, manakala energi utama tersedot habis oleh sebuah program sukses yang belum terwujud. Perasaan takut gagal dalam takaran wajar akan menjadi penyeimbang yang membuat kita tidak tersungkur jatuh saat limbung akibat hantaman kegagalan.

Ironinya, banyak di antara kita yang terlalu keras memasang alarm ini sehingga alih-alih menjadi penyeimbang, malah memasung dan memandulkan potensi diri. Kita memilih no action daripada gagal. Kita memilih bungkam dan diam saja daripada salah omong dan berisiko pada diri. Kita memilih tidak bergerak daripada jatuh. Well, berapa banyak dari kita yang sengaja menghindari beban dan tanggung jawab lebih besar daripada gagal?! Berapa banyak kesempatan terlewatkan karena kita tidak berani menanggung risikonya? Dan semakin lama sikap ini akan membuat kita seorang pribadi yang minder dan pesimistis.


Setelah itu Masalah yang ketiga adalah Pesimistis atau tidak percaya akan kemampuan diri sendiri. Pesimistis adalah sikap yang membuat kita tidak berkembang dan terkungkung dalam kotak yang sempit. Rasa pesimis membuat kita takut maju, rasa pesimis membuat kita tidak All out dalam berjuang, dan tentu saja rasa pesimis membuat kita merasa menjadi pribadi yang lemah. Dunia ini diciptakan oleh Sang Pencipta dengan berbagai halangan dan rintangan, tentu saja cobaan ini sengaja dibuat oleh untuk mampu dilalui oleh pribadi-pribadi yang kuat. Dalam dunia pendidikan di Universitas, mungkin kita merasa minder di sekitar orang-orang yang pintar, rajin, dan mengetahui banyak hal. Namun, mari kita berpikir apakah kita harus merasa menjadi seorang yang lemah?? , menjadi seorang yang lebih bodoh?? Dan menerima hasil apapun yang akan kita dapatkan walaupun hasil jelek sekalipun.

Untuk dua masalah terakhir akan saya bahas cara mengatasinya di tulisan berikutnya karena kebetulan sudah mengantuk waktuk menulis…hha

Namun secara garis besar inti dari semuanya adalah masalah penyikapan dari diri sendiri. Memang benar terdapat berbagai macam masalah yang ada di sekitar kita, coba anda manfaatkan setiap masalah di sekitar anda menjadi energi positif untuk terus maju dan memperjuangkan hidup ini. Secara hukum alam, Kita pasti akan sepakat bahwa sebuah masalah, apaun itu bentuknya dan sumbernya pasti rasanya berat dan tidak enak bagi kita. Namun, kalau berbicara kegunaannya, ini tergantung setiap orang yang menghadapi. Masalah itu bisa kita pilih untuk menggelapkan dan memperburuk jiwa kita atau bisa pula kita pilih untuk mencerahkan jiwa kita. Masalah bisa kita pilih sebagai materi yang mendorong ke arah perubahan yang lebih bagus, dan bisa pula kita pilih sebagai materi yang menghadang perubahan.

I LOVE MY Problem....:)
Tetap bersemangat dan terus jalani hidup ini dengan PERJUANGAN sesungguhnya….!!

Continue….

Senin, 09 Mei 2011

Mipa Cup 2011

Alhamdlah, MIPA CUP 2011 tahun ini kembali digelar yaitu dari tanggal 20 April 2011-20 Mei 2011. Mipa cup adalah kompetisi olah raga di fakultas MIPA yang diadakan satu tahun sekali. Peserta Mipa Cup tahun ini ada 6 departemen yaitu, Fisika, Kimia, Geografi, Farmasi, Matematika, dan tentunya Sang Juara Bertahan alias departemen saya BIOLOGI..hhe. Tahun ini ada 6 cabang olah raga yang dilombakan seperti, futsal, tenis meja, basket, voli, badminton, dan altetik. Ditambah games seperti tarik tambang, adu panco, serta bakiak.

PO Mipa Cup tahun ini adalah Shinta (Bio 2009) dan dibantu kepanitiaan yang sebagian besar anak 2009 dan 2010. Kebetulan tahun ini adalah tahun ke tiga saya ikut berpartisipasi di MIPA Cup.

Tahun pertama, 2009 : Cuma jadi peserta karena Maba (alias Mahasiswa Baru) waktu itu sepertinya cuma ikut 1 cabang yaitu basket.

Tahun Kedua, 2010 : Naik jabatan (ciee..) megang cabang basket di Mipa Cup. Kebetulan waktu itu udah gabung di UKOR (Unit Kegiatan Olah Raga FMIPA UI 2010) jadi Koordinator Basket. dan waktu itu cuma ikut satu cabang juga basket. Sebenarnya sih disuruh ikut banyak cabang tapi prinsip saya biar adil banyak yang mau ikut soalnya..hha

Tahun Ketiga, 2011 : Tahun ini Alhamdlah naik jabatan lagi (ciee..) jadi Penanggung Jawab Mipa CUP 2011, Penanggung Jawab itu kedudukannya di atas PO atau Project Officer. Kebetulan tahun ini diamanahkan menjadi Ketua UKOR FMIPA UI periode 2011-2012. dan InsyaAllah saya maen di beberapa cabang seperti Basket, Voli, Futsal, dan Atletik. Jadi kalo mau lihat saya maen silahkan nonton ke lapangan..hha *narsis...Saya berharap mudahn2n dari beberapa cabang tersebut bakal memberikan gelar buat Biologi..Amin

gambar : Logo Mipa Cup 2011


Apa yang beda dari Mipa Cup 2011 ini..??

Mipa Cup 2011 diadakan di Semester Genap yaitu bulan April-Mei. Pada saat ini kepengurusan UKOR 2011 sebenarnya baru berjalan selama 1 bulan, namun penyelenggaraan Mipa Cup secepatnya menjadi prioritas karena kita ingin mendapatkan bibit awal atlet untuk dipersiapkan di Olimpiade UI 2011 yang diadakan pada bulan November. Persiapan yang matang mudah2n bisa memberi sedikit perbaikan pada prestasi olah raga di MIPA...amin

Mipa Cup 2011 tahun ini menggunakan lapangan yang "lumayan" bagus. Sebelum Mipa Cup saya dibantu anak-anak akhirnya berhasil memperbaiki kondisi lapangan yang awalnya sangat berbahaya untuk dipake karena berlubang dimana-mana. Mungkin karena Pihak dekanat merasa "terharu" dengan perjuangan kami, akhirnya pihak dekanat membantu menurunkan dana untuk perbaikan lapangan tahap awal. Mengapa saya bilang tahap awal, karena saya menginginkan ada perbaikan lapangan tahap dua yang lebih "serius" seperti mengecor total lapangan. Doakan saja semoga proposal perbaikan lapangan tahap dua tembus...amin

Ada hadiah Uang bagi Juara Umum.....:). Ini yang membedakan Mipa Cup 2011 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada saat pembukaan Mipa Cup 2011 bapak Dekan kita, Bp. Adi Basukriadi, merasa senang dan exited dengan pembukaan Mipa Cup pada tanggal 20 April kemarin dan senang melihat perjuangan anak-anak memperbaiki lapangan. Akhirnya, beliau berjanji di depan anak-anak akan memberikan hadiah bagi Juara Umum Mipa Cup 2011, yaitu :

Juara Umum 1 : Rp 2.500.000,-
Juara Umum 2 : Rp 1.500.000,-
Juara Umum 3 : Rp 1.000.000,-

Mudah2n hadiah ini bisa menjadi pemancing anak-anak Mipa dari semua departemen untuk mengeluarkan talenta terbaiknya di Bidang Olah raga. amin

Mipa Cup 2011 juga ditambah beberapa games seru (bakiak, adu panco, tarik tambang, dan balap karung) serta Skill Challenge (3 point contest dan Jugling contest)..dijamin seruuu dehh...hhe

Di akhir cerita ini, Mipa Cup 2011 telah berlangsung 3 minggu, dan masih 2 minggu lagi. Saya berharap sampai akhir penyelenggaraan MIPA CUP 2011 dapat berjalan dengan lancar, baik, dan meriah. amin

Untuk teman-teman yang bertanding, Selamat Berjuang dan Jaga terus Sportivitas...;)
dan Untuk semua PANITIA.......Semangaaatttt teruss sampe akhir..!!

MIPA CUP 2011, Playing With The Passion of Winning..;)
-----


beberapa foto seputar mipa cup 2011 yang telah berjalan 3 minggu :


gambar 2 : Tendangan Pembukaan oleh Dekan, Bp Adi Basukriadi


gambar 3 : Pejabat-pejabat dekanat saat pembukaan (ada saya loh..!! *g penting)


gambar 4 : Perwakilan Kontingen Matematika


gambar 5 : Perwakilan Kontingen Geografi


gambar 6 : Perwakilan Kontingen Farmasi


gambar 7: Perwakilan Kontingen Biologi





Sabtu, 07 Mei 2011

MENATAP MASA DEPAN YANG CERAH LEWAT OPTIMISME

by : Choirudin Anas

Kadang kala kita selalu berpikir kenapa kita tidak diberi sesuatu yang lebih oleh Tuhan. Sering juga kita merasa tidak puas maupun kecewa terhadap segala sesuatu yang telah kita dapatkan. Dan merasa bahwa diri kita selalu kurang, baik itu dimata kita sendiri ataupun orang lain. Walaupun kita harus yakin bahwa semua ini adalah takdir Tuhan. Kita harus mengerti bahwa hiidup adalah roda yang berputar. Kadang kala kehidupan kita berada di titik terendah. Tetapi kadang kala kita akan berada di titik tertinggi. Kehidupan yang dialami bangsa Indonesia saat ini mungkin sedang berada di titik pertengahan.

Titik awal untuk menuju titik tertinggi telah dimulai ketika “Indonesia merdeka” berkumandang. Artinya, tak sulit untuk menuju titik tertinggi. Sekarang, saatnya untuk membangun harapan yang disertai optimisme untuk mewujudkan mimpi kita bersama.

HARAPAN ADALAH AWAL DARI SEGALANYA

Hidup ini dibangun dari tumpukan batu harapan. Sama halnya dengan bebatuan yang merupakan pondasi sebuah bangunan, harapan merupakan pondasi dari kehidupan. Tumpukan harapan itu mengokohkan pondasi sebuah bangunan, yang kita kenal dengan kehidupan. Harapan dan imajinasi menyusun diri layaknya bongkahan tulang yang menyusun tubuh manusia. Harapan dan imajinasi membangun impian dan cita-cita tentang hari esok yang lebih cerah.

Mengutip Helen Keller,, “Optimisme is the path that leads to achievement. Nothing can be done without hopes and confidence“. Tak ada yang dapat dilakukan tanpa harapan dan rasa pecaya diri. Harapan akan menumbuhkan energi dan spirit baru dalam hidup. Harapan merupakan sebuah perencanaan untuk menuai masa depan yang lebih baik.

Ketika harapan itu diyakini, muncullah sebuah rasa percaya diri. Keyakinan yang kuat untuk mewujudkan harapan tersebut. Memunculkan rasa optimis dalam diri, yang menjadi motivator terbesar untuk menggapainya. Optimisme merupakan energi yang besar untuk mewujudkan mimpi.

Kita tak akan bertemu dengan kehidupan yang dikelilingi oleh kemajuan teknologi dan sains seperti saat ini, tanpa orang-orang yang berani membuat mimpi, tanpa adanya orang-orang yang menginginkan sebuah perubahan.

Tanpa orang-orang seperti Thomas Alfa Edison, Alexander Graham Bell, dan pemimpi sukses lainnya, mungkin saat ini kita masih hidup dalam dunia yang hanya disinari terang bulan, dan remang-remang cahaya lilin. Mungkin kita masih hidup dalam dunia yang terkurung oleh jeruji-jeruji penjara sosialisasi bermasyarakat, karena terhambat oleh sulitnya komunikasi. Dan masih banyak kendala lainnya, jika pemimpi-pemimpi tersebut tidak optimis, dan tidak mau berjuang untuk mewujudkan mimpinya.

Dalam hal ini, jelas bahwa kita harus berani bermimpi. Karena hidup ini seringkali bermula dari impian-impian yang terkesan impossible, tapi ternyata itu possible.

Dengan harapan yang disertai dengan rasa optimisme, tak sulit untuk menjadikan dreams come true. Karena turn point atau titik balik dari tidur yang panjang telah dimulai. Ketika rasa optimisme muncul, tak ada lagi yang namanya mimpi. Karena optimisme, membangunkan setiap insan yang larut dalam mimpi di tidurnya, menuju sebuah dunia nyata.

Pertanyaannya adalah “Bagaimana cara membangun sebuah rasa optimisme di tengah keraut-mautan bangsa ini?”

OPTIMISME TAK SELALU DATANG DI AWAL

Tak terlambat untuk memunculkan rasa optimisme di tengah krisis yang berkepanjangan. Optimisme tidak selalu datang ketika kita akan memulai transformasi mimpi menjadi kenyataan. Tapi optimisme bisa datang di tengah berjalannya proses transformasi itu.

Optimisme tersebut terbangun setelah timbul kesadaran akan kesalahan yang diperbuat. Akan timbul sebuah dorongan yang amat dahsyat untuk bekerja keras sebagai manifestasi permohonan ampun terhadap kesalahan yang diperbuat.

Dalam hal ini optimisme muncul sebagai cambuk diri untuk menjadi lebih baik. Cambuk untuk berkaca dari pengalaman masa lampau. Cambuk untuk mensugesti diri agar tidak mengulangi kesalahan yang telah diperbuat. Dan optimisme menjadi semakin dahsyat ketika ikhlas dan tawakal mencapai puncaknya.

Inilah tantangan kita sebagai bagian dari bangsa ini. Kita harus mampu keluar dari krisis yang berkepanjangan. Krisis yang dialami masyarakat harus dijadikan sebagai cerminan untuk menata hidup yang lebih baik. Krisis tersebut harus dijadikan pelajaran untuk memperbaharui diri dalam segala aspek kehidupan.

Jangan lanjutkan bermimpi mengenai hal lain, sebelum mimpimu yang dulu belum tercapai. Tapi jangan pula buat dirimu menjadi penat untuk bermimpi. Tapi berinovasilah dengan mimpi-mimpimu.

Mimpi kita yang lama, masih menjadi mimpi kita saat ini. Mimpi untuk menjadikan bangsa ini dari hari ke hari semakin membaik. Untuk mewujudkan hal itu, bangsa ini mebutuhkan putra-putrinya. Anak-anak bangsa yang mampu memberikan udara segar, memberikan kebanggan terhadap bangsa ini.

Bangsa ini memerlukan rasa optimisme dari anak-anak bangsa yang memiliki pemikiran dan pandangan hidup yang maju ke depan. Pemikiran yang dinamis dan berenergi. Pemikiran-pemikiran yang mempunyai tempat bersemayam yang lebih tinggi daripada dunia yang tampak, dan langitnya tidak tertutup keindahan. Imajinasi menemukan jalannya menuju wilayah kerajaan para dewa, dan di sanalah bangsa ini dapat melihat apa yang akan terjadi setelah pembebasan jiwa dari dunia hakikat.

Bangsa ini menggantungkan nasib pada jutaan anak bangsa, yang memiliki jutaan mimpi. Tak bisakah bangsa ini mewujudkan segelintir dari jutaan mimpi itu? Bukan hal yang sulit untuk mewujudkannya. Tapi hal itu akan menjadi tak mudah, ketika mimpi hanya sekedar mimpi dan ketika pengetahuan hanya sekedar pengetahuan.

Memiliki sedikit pengetahuan namun dipergunakan untuk berkaya, jauh lebih berarti daripada memiliki pengetahuan luas namun mati tak berfungsi. Bangsa ini tidak hanya memerlukan orang yang pintar, tapi bangsa ini juga memerlukan orang yang mampu berkarya. Bangsa ini membutuhkan orang yang optimis dalam menghasilkan karyanya. Bangsa ini perlu mimpi, perlu visi. Tapi tak akan berarti tanpa misi. Bangsa ini butuh realisasi mimpi putra-putrinya.

Dan sekali lagi, dalam realisasi mimpi, butuh optimisme.

Menatap masa depan yang lebih cerah lewat optimisme

Mengapa anak-anak bangsa selalu membanggakan negara lain?

Membanggakan betapa bersih dan teraturnya Singapura, betapa demokratisnya negara-negara barat, dan yang lainnya. Mengapa kita selalu berkaca pada sesuatu yang indah? Mengapa tak dimulai dari negeri kita ini.

Rasa kagum terhadap negara lain, jangan sampai membuat kita pesimis terhadap kondisi Indonesia. Tetapi rasa kagum tersebut, seharusnya menjadi pemicu bagi kita, untuk menjadikan bangsa kita seperti yang kita harapkan.

Mengapa kita tidak berkaca pada momentum masa lalu? Ketika Sumpah Pemuda mampu menjadi titik bangkit rasa kesatuan dan kesatuan bangsa guna meraih kemerdekaan. Sumpah tersebut bukan sekedar “janji manis”, tapi merupakan sebuah bukti bahwa para pemuda saat itu menginginkan sebuah perubahan. Menginginkan masa depan yang lebih cerah.

Apa bedanya pemuda saat itu dengan masa kini?

Mengapa kita tidak mampu untuk membangun sebuah bangsa yang lebih baik? Dengan optimisme dan kebulatan tekad bersama, Saya yakin bahwa pemuda-pemudi Indonesia mampu memecahkan bongkahan es krisis yang sudah sejak lama membeku.

Mengutip Kahlil Gibran, “Anak-anak masa depan adalah mereka yang disebut dengan kehidupan, dan mereka mengikuti kehidupan itu dengan langkah-langkah pasti dan kepala tegak. Mereka adalah fajar dengan benteng-benteng baru, tak ada kabut yang menghalangi pandangan mata mereka dan tak ada nyanyian jingle berantai yang akan menghilangkan suara mereka”.

Para pemuda merupakan benih-benih yang ditaburkan di ladang oleh Tuhan, membuka kelopaknya dan menggerak-gerakkan daun-daunnya di hadapan wajah matahari.

Dengan optimisme, kita yakin bahwa pemuda masa kini mampu menggemparkan dunia, dan menunjukkan citra yang baik tentang Indonesia pada dunia.

Negara kita telah dikenal oleh bangsa lain. Bangsa ini telah diakui keberadaannya. Tetapi mengapa bukan untuk sesuatu yang baik? Mengapa negara kita harus dikenal sebagai negara teroris, negara koruptor, produsen narkotika, dan sejenisnya?

Aapakah dengan kondisi seperti itu, kita sebagai “manusia baru” masih berpangku tangan, dan menyerahkan semuanya pada nasib? Tak terbesitkah keinginan untuk merubah paradigma tersebut? Haruskah selalu golongan tua yang menyelesaikan masalah-masalah di negeri ini?

Ini saatnya bagi anak bangsa untuk mengaplikasikan ilmunya ke dalam dunia real. Sekali lagi, tak ada kata terlambat untuk menciptakan perubahan. Jika orang mampu, mengapa kita tidak?

Kita tidak boleh kehilangan harapan, dan bersikap pesimis. Anak bangsa harus yakin dan percaya, bahwa dunia masih menyisakan tempat yang begitu lapang untuk Indonesia, untuk berdiri sebagai kekuatan baru di dunia. Bangsa ini masih memiliki sumber daya yang berlimpahan.

Anak-anak bangsa harus mampu membangkitkan rasa percaya diri untuk mengaktualisasikan sejuta kreasi yang dimilikinya. Jika saat ini kita gagal, jadikanlah kegagalan sebagai tolak ukur dan penyemangat bagi kita untuk berhasil.

Menatap masa depan yang lebih cerah lewat optimisme, selayaknya bukan hanya sebuah slogan. Tapi hal ini mampu dimaknai dan diresapi oleh setiap insan. Jangan tunggu hujan emas untuk menjadi seorang konglomerat. Jangan tunggu bintang jatuh untuk mewujudkan harapan.

Sekarang bukan saatnya menunggu, tapi sekarang adalah saatnya untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Harus ada keyakinan bahwa pemuda masa kini mampu menghasilkan cabang-cabang besar, yang akan menjulang tinggi ke langit. Saatnya kita memasuki lorong waktu, menuju dunia yang lebih baik, menuju masa depan yang lebih cerah. Optimislah, bahwa proses ini akan membawa kita ke tempat yang benar. Di mana di tempat itu, hari ke hari semakin baik. Dan tempat itu adalah Indonesia-ku.Optimis teman-temanku!!! Bersemangat!!!

MARI BERSAMA KITA MENJADI MANUSIA YANG BERGUNA DAN LEBIH BAIK ...!!

Doa dari Kolong Jembatan : Buat Negeriku..!!

by : Choirudin Anas

date : 17 Agustus 2010


Bertahun-tahun kami hidup di bawah kolong beton. Tegar menjalani hidup yang berat sekokoh beton jembatan jaman orde baru. Tak goyah sedikitpun karena badai, bergeser karena banjir, dan tak lapuk dimakan usia. Jembatan besar ini melindungi kami lebih dari para pemimpin yang mengumbar janji. Janji untuk hidup layak, janji untuk tinggal di rumah beratap, janji pekerjaan, dan janji-janji yang tak berujung mana rimbany. Kami bagai golongan minoritas, yang tak terlihat di bawah manusia beradap di atas sana. Rela diinjak-injak, dipinggirkan, dan di tenggelamkan oleh semangat pembangunan di negeri ini. Sayangnya kami selalu menangis karenasemangat itu tak pernah menyentuh kami, golongan di bwah kolong beton. Kami selalu semangat melepas peluh untuk bertahan hidup,Rakyat dimana-mana dibawah kolong beton ini, tidak mau ditindas oleh kemiskinan, tidak mau di ekploiter oleh golongan apapun, meskipun golongan itu adalah dari bangsaku sendiri. Rakyat dimana-mana dibawah kolong beton ini, menuntut kebebasan dari kemiskinan dan kebebasan dari rasa takut, kami memang tak mengenal pendidikan namun kami mengenal hak-hak yang menjadi hajat hidup kami untuk terus hidup. Rakyat dimana-mana dibawah kolong beton ini, menuntut kebebasan untuk menggerakkan secara konstruktif aktivitas sosialnya, untuk mempertinggi kebahagian individu dan kebahagiaan masyarakat yang terpinggirkan. Rakyat dimana-mana dibawah kolong beton ini, menuntut kebebasan untuk mengeluarkan pendapat yaitu menuntut hak yang lazimnya dinamakan demokrasi. Sebenarnya kami ingin menjerit dan memekakkan telinga orang-orang diatas sana. Karena dalam kehidupanyang tak layak ini, golongan kami masih bersuara lantang bahwa kami tetap Satu Hati, Satu Bahasa, dan Satu Bangsa, yaitu sebagai Bangsa Indonesia.


Kami selalu berdoa agar pemimpin kami tak terjajah oleh sifat binatang. Apabila hati para Pemimpin Rakyat Indonesia masih terjajah oleh sifat-sifat binatang, maka secara langsung akan mempengaruhi tatanan masyarakat dan pemerintahan yang penuh dengan ketidakpastian,dan kesemrawutan, yang pada akhirnya mempengaruhi bangsa ini. Golongan minoritas seperti kamilah yanag bakal kena imbas ketidakadilan ini. Kami juga selalu berdoa agar keadilan hukum diIndonesia selalu ditegakkan. Hukum Indonesia sekarang bagaikan The Spider Law bahwa hanya orang-orang kecil saja bisa dihukum sementara orang besar tak pernah tersentuh manakala hukum bisa dibeli. Korupsi merajalela tanpa terkendali, penggusuran,mafia peradilan dan sederet tindakan kesewenang-wenangan akan terus menghiasi negeri tercinta. Maka selanjutnya, kemerdekan tinggal mimpi dan hanya di angan-angan bagi kami, golongan kolong jembatan. Marilah kita petik arti sebuah Ramadhan yang berdampingan dengan Kemerdekaan.Karena kita juga tidak bisa melaksanakan Ramadhan dengan damai kalau hati kita belum merdeka.


Wahai para rakyat di atas sana, dengarlah doa-doa dari minoritas bawah seperti kami. Karena sebenarnya doa orang-orang kecil dan teraniaya lebih mustjab. Indonesia tidak akan ada perdamaian, sebelum ada damai dihati rakyatnya.! Dan hati kita akan tetap tidak damai, akan tetap memberontak, selama kemerdekaan negara kita belum kembali sepenuh-penuhnya. Saatnya kita membebaskan jiwa dari nafsu angkara dengan kemerdekaan pengendalian diri masing masing rakyat yang implementasinya akan terlihat pada makna kemerdekaan bangsa yang sesungguhnya.


DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE 65.....!!! MERDEKAAA...!!!


Matahari Redup di Jalur Gaza

by : Choirudin Anas
date : 30 Juni 2010

Angin kering berbau mesiu semakin menusuk hidung. Kabut asap semakin tebal menutup langit cerah Gaza siang ini.. Kabut ini semakin menutup indahnya kota Gaza sebelum kebiadapan ini terjadi. Terangnya sang surya semakin tertutup oleh kegalauan masyarakat Gaza akan kekejaman bangsa zionis yang berusaha menghisap darah warga Palestina untuk sebuah tanah kehidupan. Ada sedikit kesejukan ketika gerimis turun menyapa keheningan di jalur Gaza, mengencerkan ceceran darah di sepanjang jalan, mengusir asap kepedihan yang mengepul di balik bangunan yang telah menjadi puing.

Kurasakan tetesan mata Tuhan serasa menghapus kesedihan Gaza yang tak berujung kapan selesainya. Kulihat langit cerah siang ini, berwarna biru dengan awan putih yang saling berkejar-kejaran mengejar malam. Aku jamin keindahan langit yang Tuhan ciptakan dengan segala kebesaran-Nya ini tak akan berbeda walau aku melihat di tempat manapun di bumi ini. Namun, aku tersentak ketika melihat ada ribuan bahkan jutaan pasang mata yang menangis melihat indahnya langit indah ini di jalur Gaza. Ada kegalauan besar warga Gaza, ada penindasan oleh kaum penjajah zionis, dan ada perjuangan yang tak seimbang dari masyarakat Gaza, dan semua kepedihan ini hanya bisa membuat pemimpin-pemimpin negeri antah berantah hanya mengelus dada tanpa bisa berdaya mencari tindakan.

Dari puing-puing bangunan yang runtuh oleh bom fosfor malam tadi, kupandangi seorang gadis gaza di hadapanku. Untunglah karena perlindungan Tuhan wajah cantik gadis itu tak menjadi cacat oleh efek kimia fosfor yang berbahaya. Aku berpikir bagaimana bisa sebuah perjanjian perang antar negara bisa dilanggar dengan begitu mudahnya. Pelarangan penggunaan senjata pemusnah masal dalam perang telah lama di gaungkan oleh negeri yang selalu berkoar-koar akan keselamatan masyarakat sipil. Namun sering sekali mereka lupa dengan efek dari distorsi tindakan atas perjanjian yang mereka lakukan. Dan kembali, banyak negeri-negeri antah berantah yang tidak bisa berbuat apa-apa selain bersimpati di balik kursi empuk mereka.

Kulihat wajah cantik gadis itu menyembul di balik reruntuhan puing-puing yang dahulu menjadi tempat para anak-anak mendapatkan pendidikan. Bangunan sekolah yang seharusnya tidak menjadi target seranganpun menjadi bulan-bulanan agresi tanpa hati para zionis. Wajahnya penuh debu dan jilbabnya kumal, pakaiannya compang-camping dengan bekas percikan darah disana-sini. Meski lelah dan tak berdaya, wajah gadis itu tetap keras tak berubah, Cantik, secantik rembulan, Dingin, sedingin tiupan angin malam ini. Dan aku sangat tahu, hatinya sangat tersayat, dengan sebuah granat siap ledak ada dalam genggamannya. Setetes air mata mengalir dari sepasang mata indah gadis ini, merenungi kematian sanak keluarga yang mati syahid oleh agresi tanpa kompromi bangsa penjajah Israel.

Aku merasakan malam yang pendek di jalur Gaza begitu mencekam. Hiruk pikuk kekacauan ada di mana-mana. Semua orang tidak bersalah berusaha lari menyelamatkan diri. Tunggang langgang tanpa henti bagai maut mengejar untuk meminta kematian. Terbayang dimana malaikat maut itu siap menjemput para syahidah dari padang Palestina. Banyak ratapan, tangisan, dan jeritan semakin menyesakkan dada, sesak oleh kepedihan tiada akhir dan sesak oleh asap mesiu di malam yang dingin. Lelaki berkelompok mencoba melawan dengan senjata seadanya. Bahkan dengan batu. Api berkobar, orang-orang terkapar, menggelepar seperti ikan-ikan yang terlempar dari air kehidupan. Percikan darah mengalir di setiap ujung jalan, dan membentuk beberapa genangan pekat dan hitam.

Aku tertegun melihat negeriku, sebuah negeri yang terkenal makmur dengan sumber daya, demokrasi di agung-agungkan, ekonomi di dewakan, dan kekuasaan menjadi incaran. Hati ini bagai tersandung oleh batu kerikil tajam melihat pemimpin-pemimpin negeriku hanya bersimpatik di balik kemewahan duniawi di sekitar mereka, perih dan sakit melihat kebiadaban dibiarkan tanpa tindakan. Hanya ucapan kata politis yang tidak akan bisa menghapus derita rakyat Palestina.

Di mana HAM dijunjung..??
Di mana pasukan perdamaian ??
Di mana traktat perdamaian itu berimbas.??
Hanya kaum marginal yang benar-benar berteriak dari hati terdalam. Memang hanya berkoar-koar tanpa tahu apa hasilnya. Namun, yang utama kami tidak berkhianat kepada Allah dan Rasull, dengan segala daya upaya untuk memikirkan semua saudara muslim di seluruh penjuru dunia.

Semakin hening aku merasakan kepedihan malam ini. Pikiranku terus menerawang di atas langit yang penuh dengan asap pembantaian malam ini. Di negeri seberang aku melihat sekawanan negara adidaya yang selalu berteriak akan HAM dan perdamaian manusia. Namun, kenapa mereka hanya diam melihat pembinasaan di negeri Palestina. Apakah ini hanya sebuah konspirasi dengan nyawa manusia sebagai pertaruhan harga, dan bahkan terlihat seperti kebohongan besar oleh negara-negara yang berkawan dengan biadap. Dimana juga peranan pemimpin-pemimpin negara muslim. Hanya diam membisu tanpa tindakan nyata demi kebaikan umat muslim.

Bagaimana mereka merasa bangga hanya dengan kehidupan yang sementara. Nilai-nilai kemanusiaan dihempaskan tanpa harga diri. Berceceran di jalan-jalan, bertaburan di langit kelam, dan mengalir bersama air keruh kehidupan yang semakin kejam. Manusia tanpa nurani itu tak melihat warga Gaza yang rela mempertaruhkan nyawa demi mengais nilai-nilai kemanusiaan ini sampai ke ujung dunia. Aku menangis ketika melihat warga Gaza mencari nilai-nilai kemanusiaan itu sampai di ujung laras meriam siap tembak milik zionis biadap. Perjuangan tanpa lelah demi kebenaran dan tak akan pernah bendera PUTIH akan dikibarkan di langit palestina. Semua ini semata-mata demi sebuah negeri yang telah di dzolimi.

Melihat nasib saudaraku, aku berharap bahwa tetesan darah dan jeritan menyayat dari negeri yang tercabik-cabik ini semakin menggetarkan semua orang yang benar-benar berjuang mengatasnamakan HAM. Tak peduli urusan pribadi, lembaga, atau negara. Yang utama adalah kebenaran akan selalu di junjung tinggi. Suatu saat tak akan lagi ada pertumpahan darah demi sepetak tanah, tak akan lagi ada ratapan karena kematian, dan tak akan lagi melihat keheningan malam pecah oleh suara ledakan bom.

Pagi ini matahari merambat naik dengan perlahan. Mengawali perjuangan masyarakat Gaza untuk keadilan yang lebih baik. Kutapaki setiap langkahku di negeri yang selalu berjuang demi keadilan ini. Tak jauh di depan kulihat wanita cantik itu menegaskan langkahnya memasuki gerbang perjuangan. Berjalan menunduk dengan muka tertutup jilbab hitam. Namun, jilbab itu tidak dapat menutupi matanya yang selalu menitikkan air mata kepedihan. Aku mendengar untaian syahadah selalu keluar dari mulut kecilnya. Semakin menguatkan batinnya untuk terus berjuang demi tanah kelahirannya. Sekali dia menoleh ke arahku dengan senyuman manis khas wanita timur tengah. Semalam aku melihat matanya yang bengkak penuh dengan kepedihan kuat yang selalu dirasakan oleh warga palestina lainnya. Namun, pagi itu berbeda, dia terlihat tersenyum tanpa beban sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Dengan lirih dia berujar,

“aku bangga menjadi seorang Palestina, yang mengajarkan kepada semua orang di dunia arti perjuangan tak takut mati demi sebuah nilai kemanusiaan dan keadilan.”

Dengan perasaan tersayat dan bangga aku hanya bisa menyaksikan dia terus berjalan tegas kedepan menuju barak militer Israel. Matahari pagi ini seperti sengaja menuntunnya untuk terus berlari mengejar semua impian dan tujuan hidup bangsa Palestina. Wanita itu terlihat mengeluarkan bongkahan dari bajunya yang ternyata adalah sebuah granat siap ledak. Dengan keyakinan dia masuk ke dalam barak itu saat tentara-tentara Israel masih terlelap tidur. Aku hanya bisa melihat dari kejauhan tanpa berani mendekat.

“Allahuakbar....Allahuakbar....Allahuakbar...!!”terdengar teriakan wanita itu.

Kemudian diikuti dengan ledakan hebat yang menyesakkan dada ini. Puluhan tentara Israel meninggal dan tentu saja wanita itu ikut di dalamnya. Air mataku tiba-tiba mengalir deras tanpa henti. Aku merasakan sebuah perjuangan dan kematian seorang wanita pemberani. Semoga dia menjadi Syahidah di mata Allah.

Kabut asap ledakan itu membumbung tinggi dan buyar oleh angin kering padang pasir. Menutup terangnya sinar sang surya di jalur Gaza. Namun, aku yakin perjuangan bangsa palestina tak akan redup sampai keadilan dijunjung tinggi.....

AMIN

Ujian Akhir Semester = "Emang Gue Pikirin..!!"

by : Choirudin Anas
date : 17 Mei 2011

Akhir-akhir ini, beberapa note yang saya buat menggunakan kalimat ”emang gue pikirin”. Dimulai dari sebuah fokus pembahasan kemudian saya berusaha membiaskan dalam pengertian yang dapat teman-teman interpretasikan sendiri. Penggunaan kalimat tersebut sejatinya tidak tanpa dasar. Saya berusaha menggunakan istilah sederhana untuk menunjukkan bahwa akhir-akhir ini orang-orang lebih bersifat apatis atau ”acuh tak acuh” terhadap masalah-masalah yang ada di sekitar kita. Walaupun masalah-masalah ini ada dan sedang melingkupi masyarakat. Namun, mereka lebih memilih memposisikan diri sebagai ”uncare people”. Berpikir bahwa ada banyak orang yang lebih memikirkan masalah itu dan menunggu saja masalah-masalah ini hilang sendirinya di masyarakat. Pendidikan Nasional : ”emang gue pikirin”(previous note), masalah dalam bidang ini, adalah sebuah contoh permasalahan bangsa yang seharusnya perlu dipikirkan bersama oleh semua masyarakat. Memberikan sebuah wacana, pemikiran, arahan kebijakan, bahkan selalu mengkritisi merupakan bukti bahwa mereka ikut ”memikirkan” masalah ini, serta berharap akan didapat sebuah keputusan yang terbaik untuk masyarakat, walaupun mereka tidak sebagai pihak ”decision maker”.

Budaya ”memang saya pikirkan” harus selalu berada di dalam hati kita semua, menghindari budaya apatisme dan pragmatisme Insyaallah akan membawa kondisi bangsa ini menjadi lebih baik. Budaya ”urun rembug” di jawa, terbukti mampu meningkatkan solidaritas masyarakat dan mampu menyelesaikan masalah-masalah baik kecil maupun besar. Semoga kita juga akan mengingat perkataan Mario Teguh, ”Jika ingin menjadi pribadi yang baik, jangan menunggu kondisi di sekitar anda baik terlebih dahulu, karena sebenarnya andalah yang akan mengubah sendiri kondisi tersebut”

Masuk dalam pembahasan yang lain, Ujian Akhir Semester. Dua minggu kedepan mahasiswa di beberapa perguruan tinggi khususnya di Universitas Indonesia akan menghadapi UAS atau Ujian Akhir Semester. Sebuah rutinitas wajib ini memang diselenggarakan untuk melengkapi salah satu agenda wajib dalam bidang akademis di sebuah lembaga pendidikan. Pihak Universitas berharap dari ujian ini diharapkan mampu didapat standar nilai-nilai kelulusan yang meningkat dari tahun ke tahun. Dari mahasiswa sendiri akan berharap mampu ”melewati” ujian ini dengan baik dan mendapatkan nilai setinggi-tinginya. Walaupun ada beberapa mahasiswa yang tidak berharap ”muluk-muluk” hanya berharap lulus dan tidak mengulang.

Rutinitas wajib ini membawa dampak lumayan besar bagi aktivitas harian mereka. Dapat diamati bagaimana beberapa hari sebelum ujian, mereka akan mempersiapkan berbagai keperluan untuk menghadapi ujian akhir ini. Mulai dari bersih-bersih kamar untuk membuat nyaman belajar, membeli lampu untuk mewaspadai jika mati lampu, membeli alat-alat tulis, makanan yang banyak, bahkan mulai meminjam materi-materi dan buku-buku untuk bahan belajar. Kegiatan belajar mereka juga akan meningkat secara drastis, yang awalnya sehari hanya belajar 1-3 jam atau bahkan tidak pernah sama sekali akan meningkat menjadi 5-7 jam perhari. Tiap waktu akan mereka isi dengan belajar dan belajar. Kegiatan begadang pun tidak akan dapat dihindari karena kebanyakan mahasiswa masih mendewakan Sistem Kebut Semalam (SKS). Saya sendiri juga menganggap bahwa sistem ini adalah sistem gerilya untuk ujian dan masih saya pakai sampai sekarang.

Ibarat peribahasa ”sedia payung sebelum hujan”, kegiatan belajar merupakan satu-satunya payung yang mereka gunakan untuk menghadapi ujian. Belajar memberikan mereka persiapan baik materi maupun mental. Jarang sekali ditemukan orang yang berhasil menghadapai ujian tanpa belajar sama sekali. Namun, perlu digaris bawahi bahwa orang-orang seperti ini akan menggunakan cara-cara yang tidak dihalalkan baik oleh Tuhan maupun pelaksana ujian. Mereka tidak memikirkan bahwa ilmu yang akan mereka dapatkan sebenarnyalah yang lebih penting dari sebuah nilai. Orang-orang yang tidak mau belajar sebelum ujian, harus siap menghadapi kemungkinan terburuk yaitu kegagalan. Ada sebuah pepatah, orang bijak mau mendengar dan tekun menambah ilmu. Orang yang bijak tidak akan pernah merasa puas, tidak pernah merasa pintar, tidak pernah merasa segalanya ada pada dirinya. Orang-orang bijak akan selalu melihat segi-segi kelemahan yang ada pada dirinya. Apalagi jika membayangkan bahwa dirinya adalah Hamba Tuhan. Dengan berpikir seperti ini InsyaAllah akan selalu membuat kita bersemangat untuk belajar dan mendorong kita untuk selalu meraih yang terbaik.

”Saya lebih menghargai usaha saya sendiri, dari pada nilai yang akan saya dapatkan nanti”

Ujian merupakan sebuah sarana untuk mengukur berapa besar kita mampu berkorban untuk diri kita sendiri. Setiap pribadi mempunyai hak untuk menjadi yang terbaik, memperoleh hasil yang memuaskan dan mendapatkan pengakuan dari orang lain. Dalam hukum Termodinamika I dijelaskan bahwa, Aksi = Reaksi. Untuk mendapatkan reaksi ataupun hasil yang memuaskan dan terbaik otomatis usaha awal yang harus kita lakukan harus yang terbaik pula. Persiapan yang matang dan mental yang siap akan membawa dampak besar pula dengan hasil yang akan kita dapatkan nanti. ”Orang bijak akan menghargai usaha keras yang dia lakukan walaupun hasilnya belum memuaskan”. Terkadang manusia akan dihadapkan dalam dua hasil, hasil baik dan buruk. Kita akan menerima jika usaha keras kita akan diganjar dengan hasil yang terbaik, namun, bagaimana jika usaha keras kita ternyata membuahkan hasil yang buruk dan tidak sesuai dengan target kita..??

Sering sekali dalam setiap awal melakukan tindakan seperti ujian, saya merasa sedang melakukanbargaining life dengan Tuhan untuk merundingkan keberhasilan dan kegagalan apa yang akan saya hadapi. Walaupun hasil dari setiap tindakan ini akan saya jadikan sebuah dimensi amal. Kita akan lebih memaknai bahwa nilai dari sebuah kehidupan, barangkali bukan hanya dari keragaman hasil pencapaian “gagal atau berhasil” dan energi positif yang dikeluarkan dalam menyelami liku-liku kehidupan. Melainkan dari kesungguhan nurani dan pemikiran manusia dalam menjalani ujian ini. Saya lebih menghargai usaha keras yang telah saya lakukan daripada merenungkan kegagalan hasil yang saya capai. Dengan berpikiran seperti ini InsyaAllah saya merasa siap menghadapi ”ujian kehidupan” yang sesungguhnya di depan saya.

Memaknai Sebuah Ujian

”Tidaklah seseorang dikatakan beriman sebelum mereka Aku uji”

Begitulah firman Allah SWT dalam Surat Al- Ankabut 2-3. Tentunya firman tesebut menegaskan bahwa memang sudah menjadi bagian dari rencana Allah SWT menempatkan berbagai ujian semata- mata untuk mengangkat derajat kita hingga menjadikan kita menjadi manusia pilihan-Nya. Dan begitu pula hakekat dengan Ujian Akhir Semester pada umumnya, yang tidak lain tidak bukan adalah meningkatkan derajat kita dari segi ilmu atau pendidikan.

Ujian memberikan sisi evaluatif dan sisi instropeksi (anonim: 2010). Kemasan yang rapi dalam pelaksanaan ujian pendidikan memiliki sifat evaluative. Allah memberikan kita ujian tidak tanpa dasar, Beliau ingin mengetahui sejauh mana penguasaan materi manusia akan sisi kehidupannya. Manusia yang diciptakan memiliki cipta, rasa, dan karsa mempunyai kelebihan untuk belajar dari kehidupan dan berbagai fenomena-fenomena kebesaran Allah SWT. Ujian yang diberikan Allah pun tidak akan diluar batas kemampuan manusia karena Allah tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuannya (Al Baqarah : 286). Sehingga tidaklah mungkin juga seorang Dosen atau pengajar akan memberikan soal ujian di luar batas kemampuan siswanya. Karena pada dasarnya ujian merupakan satu bentuk evaluasi atas penguasaan materi-materi yang tentu sudah dipelajari oleh penerima ujian tersebut sebelumnya. Dengan sifat evaluaif ini maka akan menunjukkan apakah peserta ujian atau mahasiswa layak menapaki tingkat yang lebih tinggi berikutnya.

Dan yang kedua, ujian juga memiliki sifat intropeksi. Hasil akhir dari ujian akhir ini tidaklah tepat kiranya jika hanya dijadikan sebatas stempel kelulusan akan mata kuliah yang diambil. Namun, harus menjadi sebuah materi berharga yang menunjukkan dimana letak kelemahan dan kekurangan kita dan sebesar apa kelemahan dan kekurangan tersebut. Jika kita mampu melihat sisi ini, InsyaAllah kita akan selalu belajar dari kekurangan kita dan berusaha memperbaiki kekurangan tersebut.

Walau samar-samar, terlihat senyuman indah dibalik ujian berat ini.

Aku merasa riskan akan kemampuanku,

Namun aku tidak menduakan keadilan Tuhan,

Kau menuntunku ke arah yang benar

Dimana kejujuran dijunjung tinggi,

Pondasi kuat kutancapkan tanpa lelah

Tak ingat hari, tak ingat waktu

Semua demi hasil terbaik.

Bukan nilai, bukan pengakuan

Namun Hanya Ridho Sang Illahi.
(CA :2010)

Well...!! apapun yang akan anda rasakan.. saya cuma mau mengatakan Ujian Akhir Semester : ”emang gue pikirkan” (red- Memang saya pikirkan)


SELAMAT MENEMPUH UAS
SEMOGA KITA SEMUA MENDAPAT HASIL TERBAIK


Pendidikan Nasional = "Emang Gue Pikirin..!!"

by : Choirudin Anas
date : 5 Mei 2010

Setiap tanggal 2 Mei Bangsa Indonesia memperingati hari kelahiran Ki Hajar Dewantara sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ki Hajar Dewantara yang mendirikan lembaga pendidikan Taman Siswa ini di daulat sebagai salah satu pelopor perubahan intelektualitas bangsa. Masyarakat Indonesia pada zaman penjajahan khususnya kaum nonbangsawan mengalami keterbatasan untuk memperoleh hak-hak tertentu khususnya hak untuk mendapatkan pendidikan. Pada saat itu pendidikan hanya dapat dirasakan oleh para keturunan raja, bangsawan, cendikiawan muda, dan tuan-tuan tanah. Perjuangan yang diharapkan timbul dari pemikiran dan intelektualitas bangsa sulit dilakukan karena minimnya jumlah orang-orang terpelajar di Indonesia. Ki Hajar Dewantara, pendidik asli Indonesia , melihat bahwa arah perjuangan bangsa yang hanya dilakukan secara fisik sangatlah sulit membuahkan hasil. Perjuangan Indonesia harus menyinergikan antara kekukuhan semangat perjuangan fisik dengan strategi berdiplomasi. Melalui diplomasi, intelektualitas sebuah bangsa akan terlihat. Hal ini mampu menjadi salah satu parameter tingkat keberadaban masyarakat sehingga suatu bangsa patut disegani oleh bansa lain, dan menjadi salah satu indikator utama keberhasilan suatu bangsa.

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2010 pemerintah mengambil tema “Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa”. Tema ini memang sangat relevan jika melihat arah pendidikan Indonesia yang hanya berpegang teguh pada sisi kontekstualitas tanpa melihat moralitas para pelaksana pendidikan. Sekjen Kemendiknas, Bambang Indriyanto menjelaskan bahwa pentingnya pembangunan karakter dalam pendidikan. Siswa dengan karakter yang kuat pada akhirnya akan meningkatkan mutu pendidikan nasional. “Pembangunan karakter adalah bagian penting dalam pembangunan peradaban bangsa,” katanya. (kompas 29/4)

Namun, bila kita melihat situasi secara langsung dapat jelas terlihat karakter apa saja yang harus diperbaiki dan dikembangkan oleh bangsa Indonesia. Pendidikan karakter merupakan tema yang strategis karena memang amat kontekstual dengan situasi kekinian yang dinilai makin mengabaikan persoalan-persoalan aklak dan budi pekerti (Tuhusetya :2010). Degradasi moral dan involusi budaya telah menjadi fenomena rutin yang makin menenggelamkan kemuliaan dan martabat bangsa. Perilaku kekerasan, vandalisme, korupsi, dan berbagai perilaku tidak jujur lainnya telah menjadi sebuah kesalahan kolektif. Jika kita belajar dari sejarah, bangsa Indonesia didirikan oleh para proklamator dengan memegang teguh ideologi perjuangan yang luhur. Perjuangan pantang menyerah untuk mendapatkan kemerdekaan menjadi sebuah karakter kuat bangsa ini. Bangsa yang akan selalu berusaha melawan berbagai bentuk penindasan, kekhilafan, dan upaya okupasi para penjajah. Distorsi kebudayaan mulai muncul ketika arus perkembangan teknologi menjadi pesat, realita menjelaskan bahwa perkembangan teknologi ini membuat penyebaran informasi sudah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Berbagai paham dan kebudayaan mampu menembus dimensi pada sistem kebudayaan yang telah terbentuk sebelumnya, termasuk di Indonesia.

Kebudayaan “tidak jujur” di negeri ini mulai banyak kita rasakan telah menyebar ke setiap relung-relung di masyarakat dalam berbagai strata sosial. Untuk mendapatkan harta, pangkat, dan kedudukan tak jarang ditempuh dengan cara-cara curang ala Machiavelli, bahkan jika perlu menggunakan dunia mistik yang tak kasat mata. Pergeseran tatanan sosial di masyarakat secara tidak langsung telah mampu menghapus budaya-budaya luhur, jujur dan sopan santun khas Bangsa Indonesia. Tak ayal lagi, negeri ini tak lebih dari sebuah pentas kolosal yang menyuguhkan skenario yang tragis serta repertoar yang pilu dan menyesakkan dada.

Dalam mengembangkan karakter suatu bangsa melalui pendidikan, diharapkan anak bangsa mampu kembali pada nilai-nilai luhur yang secara historis telah membuat kesejatian diri bangsa menjadi lebih terhormat dan bermartabat. Menurut Tuhusetya (2010), bangsa Indonesia perlu kembali melihat romantisme masa silam. Bangsa ini perlu belajar pada nilai-nilai kearifan lokal masa silam sebagai dasar perilaku untuk memasuki pusaran global yang begitu kuat. Pusaran ini yang siap membawa bangsa Indonesia menuju dimensi yang semakin rumit dan syarat kompleksitas. Filter dan barier suatu bangsa akan diuji apakah mampu membendung berbagai paham-paham dan ideologi yang siap menggrogoti nilai-nilai historis bangsa. Namun, dengan optimis dan perjuangan intelektual sepenuh hati dari masyarakat, tidak mustahil bangsa ini dapat maju dan modern tanpa harus kehilangan pijakan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Jamrud di khatulistiwa dengan kemajemukan dalam soal budaya, agama, etnis, ras, dan berbagai kekuatan primordial lainnya itu sejatinya bisa membangun sebuah ikatan peradaban yang diharapkan oleh bangsa Indonesia. Peradaban yang menggambarkan mozaik keindonesiaan yang toleran, demokratis, sopan santun, berbudaya, dan beradab.

Terdapat sebuah puisi ciptaan Cahiril Anwar yang berjudul “Perjanjian dengan Bung Karno” , dan menggambarkan perjuangan bangsa ini,

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang di atas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api, aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
1948.


Puisi tersebut menyimpan makna yang sangat mendalam untuk dipahami dan dianalisis bahwa dinamika sejarah suatu bangsa di masa lalu, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masa kini, sehingga suka atau tidak suka, kita harus menyadari bahwa hal tersebut merupakan bagian dari perjalanan hidup dan sejarah Indonesia. Negara yang beradap tidak akan melupakan setiap awal tonggak perjuangan bangsanya. Apapun yang telah diraih oleh bangsa ini di masa sekarang, tidak bisa terlepas dari buah perjuangan para pendahulu di masa lalu, sudah sepantasnya generasi masa kini untuk menghormati dan menghargai segala pengorbanan para pahlawan yang diberikan kepada bangsa dan negara.

Pembangunan karakter sebuah bangsa tidak semudah membalikan telapak tangan. Kelemahan bangsa Indonesia adalah sangat mudah terprovokasi dan terjerumus akan setiap budaya-budaya baru yang masuk tanpa melihat apakah budaya ini berseberangan dengan ideologi bangsa Indonesia. Perlu kita akui, 65 tahun hidup merdeka, bangsa kita justru terjerumus dan kian tenggelam ke dalam budaya pragmatis, instan dan barbar, yang dinilai telah gagal memerdekakan rakyat dari kemiskinan dan kelaparan. Jika kita lihat pembangunan infrastruktur bangsa yang begitu pesat, terlihat bahwa pencapaian pembangunan ini hanya bersifat lahiriah atau fisik. Rohaniah bangsa kita justru kering kerontang, tak sanggup membebaskan diri dari kesewenang-wenangan, ketidak adilan, dan penindasan yang mulai terlihat kasat mata.

Pada masa sekarang, untuk keluar dari belenggu intelektualitas ini bangsa Indonesia harus kembali belajar kepada Ki Hajar Dewantara. Seorang pendidik asli Indonesia yang melihat bahwa manusia lebih utama terlihat pada sisi kehidupan psikologiknya. Menurut beliau manusia memiliki daya jiwa yaitu, cipta, karsa, dan karya. Pembangunan manusia yang bertujuan untuk meningkatkan keberadaban suatu bangsa dituntut untuk mampu mengembangkan daya secara seimbang. Pendidikan yang hanya menitikberatkan pada aspek intelektualitas belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari sistem masyarakat. Padahal kita tahu bahwa semua pijakan nilai-nilai luhur bangsa terdapat pada tatanan sistem masyarakat. Terbukti bahwa sampai sekarang pengembangan pendidikan hanya menekankan pada daya cipta saja, dan kurang memperhatikan pengembangan rasa dan karsa. Pemerintah harus melihat jika hal ini diteruskan, maka kedepan akan tercipta manusia-manusia Indonesia layaknya produsen robot yang tidak memiliki sisi humanis dan manusiawi.

Pedekatan karakter bangsa melalui budaya adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah ini. Indonesia telah memiliki pijakan yang kuat setelah tonggak berdirinya bangsa ini didirikan, bahkan telah tertuang dalam falsafah tertinggi kita, Pancasila. Melalui media kebudayaan berlaku pepatah : “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya“. Manusia akan menjadi manusia bila mereka hidup dengan budayanya sendiri (T. Riyanto, 2004). Dengan kemajemukan ras, budaya, dan etnis di Indonesia, upaya pembentukan karakter bangsa akan lebih efektif bila para pelaku pendidikan menggunakan pijakan budaya dalam kegiatan belajar. Peningkatan kualitas guru juga menjadi sebuah pekerjaan rumah yang besar bagi negara ini. Walaupun guru dituntut hanya menjadi sebuah fasilitator akan tetapi seorang pengajar tetap yang akan memegang kendali bila kegiatan belajar-mengajar sedang berlangsung. Seorang guru juga harus memiliki cara untuk melakukan pendekatan psikologik kepada muridnya karena telah dibahas sebelumnya bahwa pendidikan yang hanya mementingkan kontekstualitas tidak akan menghasilkan output yang baik. Seorang pendidik tidak harus menjadi Ksatria yang menjadi seorang pengajar, tetapi menjadilah Seorang Pengajar yang Berjiwa Ksatria. Karena apabila jiwa-jiwa ksatria ini yang mendidik putra-putri bangsa InsyaAllah, anak-anak bangsa besok yang mampu membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang beradab dengan karakter kuat budaya nasionalis.

Manusia seutuhnya adalah manusia berkarakter nasional yang dilingkupi oleh budayanya masing-masing (Ki Hajar Dewantara)

Namun, setiap upaya dan kebijakan pendidikan di Indonesia patut kita apresiasi penuh. Jika terdapat kekurangan kita kritisi dan bila ada kebaikan selalu kita dukung...Yahhh apapun yang terjadi,Pendidikan Nasional :”emang gue pikirin”. (baca : memang saya pikirkan)

Perundingan Kehidupan Menyambut 2010

by : Choirudin Anas
date : 31 Desember 2011

Sekitar 1,5 tahun yang lalu, ketika pertama kali diterima perguruan tinggi dan menyandang sebuah nama “mahasiswa”, motivasi saya hanya dua. Pertama, berusaha menyelesaikan study secepat mungkin dengan hasil yang maksimal. Kedua, mencapai hasil terbaik dalam kehidupan sesuai yang saya cita-citakan. Sering sekali dalam setiap awal menentukan pilihan, saya merasa sedang melakukanbargaining life dengan Tuhan untuk merundingkan keberhasilan dan kegagalan apa yang akan saya hadapi. Walaupun hasil dari setiap tindakan ini akan saya jadikan sebuah dimensi amal. Kita akan lebih memaknai bahwa nilai dari sebuah kehidupan, barangkali bukan hanya dari keragaman hasil pencapaian “gagal atau berhasil” dan energi positif yang dikeluarkan dalam menyelami liku-liku kehidupan. Melainkan dari kesungguhan nurani dan pemikiran manusia dalam menjalani hidup ini. Pribadi yang baik, seringkali kita temukan bahwa mereka hidup bukan hanya dengan logika materiil, namun dengan nurani yang menjadi inspirasi dan jiwa dari setiap tindakan yang mereka ambil. Spiritual yang menjadi sebuah orientasi terbukti lebih dominan dalam menentukan keberhasilan kehidupan seseorang. Pemikiran yang kritis dan penuh dengan force driving akan Tuhan juga mendorong manusia untuk memaknai dikotomi makna kehidupan yang sebenarnya yaitu keseimbangan dunia dan akhirat.

Bargaining life terjadi secara “vertikal”. Proses tawar menawar kehidupan (bargaining life) ini melibatkan manusia dengan Sang Pencipta. Menurut dasar filosofi teologi, Bargaining life menjadi sebuah proses prestige yang akan dijalani setiap manusia. Ketika manusia menjalani proses kehidupannya, ada empat komponen utama penting yang secara hakiki melekat dalam setiap individu, yaitu; kekuatan (strengths), kelemahan (weakness), tindakan (action), dan hasil (result). Empat komponen tersebut akan terakumulasi melalui satu rangkaian proses dalam proses pencapaian cita-cita.

Menyelesaikan tahun 2009 ini saya merasa sebagai pribadi yang jauh dari standar yang saya cita-citakan. Terkadang saya melihat kelebihan (strenghts) yang saya miliki dalam sudut pandang yang terlalu besar tanpa melihat potensi kelemahan yang tinggi, sehingga prioritas-prioritas yang diambil akan memiliki resiko yang besar pula. Resiko ini sebenarnyalah yang memiliki potensi besar untuk mengarahkan diri saya pada sebuah ‘kegagalan’. Seringkali pula saya memulai sesuatu di bawah bayang-bayang dimensi weakness pada diri sendiri, oleh karena itu saya sering memulai sesuatu dengan keyakinan pencapaian yang rendah. Dan apabila proses itu saya jalani seperti sebuah garis linear maka hasil yang tercapai tidak akan maksimal pula. Semua konflik ini mewakili diri saya dalam menentukan resolusi yang saya ambil di awal 2009.

Mulailah dengan sebuah tujuan

Saya belajar dari Bill gates, pendiri perusahaan microsoft adalah seorang yang paling berhasil di pentas bisnis perangkat lunak di dunia, bahkan perusahaan ini membawanya menjadi manusia terkaya di dunia sekarang. Kita tidak akan mengira bahwa Bill Gates memulai usahanya hanya dari sebuah garasi kecil di bawah rumahnya. Namun karena kegigihannya dalam berjuang, dia berhasil memutar balikkan nasib sesuai dengan cita-citanya. Kata-katanya yang terkenal adalah: “If you have a clear vision, you’ll even forget your breakfast,” (apabila anda memiliki tujuan yang jelas maka anda akan lupa dengan sarapan anda).

Cerita di atas melukiskan bahwa seseorang dapat berhasil dalam hidupnya apabila mereka selalu menentukan tujuan yang hendak dicapai secara jelas sebelum memulai. Tujuan itu mampu terealisasi dalam sebuah resolusi. Sebenarnya Resolusi di awal tahun bukanlah sebuah kewajiban ataupun kebutuhan yang dianggap mendesak. Resolusi ini hanya bersifat rekomendasi (should to do) karena resolusi mengandung artian tujuan yang akan dicapai. Menurut Ary ginandjar, semua orang harus mendahulukan visi (mental creation) dari pada tindakan nyata (physical creation). Banyak orang yang sering berpikiran terbalik, karena memang lebih mudah untuk melanjutkan kehidupan yang sudah ada di depan mata atau memperbaikinya, ketimbang mewujudkan sebuah resolusi baru yang sama sekali belum ada dan terlihat kasat mata. Seseorang berhak membuat sebuah resolusi ataupun tidak dalam menjalani pergantian waktu dalam hidupnya. Setiap manusia diciptakan memiliki modal waktu yang sama, 24 jam dalam satu hari, 7hari dalam seminggu, 4 minggu dalam sebulan, dst. Resolusi akan membuat seseorang mengerti dan memaknai bahwa waktu yang mereka miliki sangatlah berharga dalam mencapai cita-cita. Sehingga mereka tidak akan membuang waktu yang mereka miliki begitu saja. Bagi pribadi saya, resolusi sangatlah penting, ibarat seorang pelari, resolusi merupakan panjang garis finish yang harus dicapai. Dengan resolusi mereka akan menentukan apakah harus berlari 100m, 200m, ataupun 300m untuk mencapai garis finish. Dan tentunya mereka akan melihat kemampuan masing-masing dalam menentukan pilihan tersebut.

2009 merefleksikan emosi dan spiritual yang campur aduk. Ada keberhasilan yang saya dapatkan. Namun tidak sedikit pula saya menemukan kegagalan yang bersifat kontemporer baik atas proses memperbaiki kegagalan tahun sebelumnya atau melaksanakan resolusi yang baru dibuat di awal tahun. Baik itu dalam bidang akademis, prinsip hidup, spiritual, lingkungan, ataupun pergaulan. Dalam 1 tahun terakhir banyak hal yang saya jadikan sebuah literatur untuk menjadi sumber inspirasi. Selain berusaha mencapai target yang telah di tetapkan saya berusaha mengerjakan proses “belajar” dan penggalian yang mendalam terhadap sumber inspirasi tersebut. Semakin dalam penggaliaan tersebut maka semakin saya merasa mendapat ‘kesimpulan’ dari keseluruhannya sebagai sebuah titik terang pencerahan. Saya berharap kesimpulan ini dapat memberikan saya sebuah konsep pemikiran yang baru dan bisa membimbing diri ke arah “kesuksesan” dan menjadikannya sebagai sebuah pedoman atau penuntun hidup. Walaupun saya menyadari konsep ini akan memiliki ‘keterbatasan’ dalam menjawab masalah-masalah dan tantangan yang akan muncul besok terutama di tahun 2010. Dan menimbulkan satu pertanyaan besar dalam diri saya, apabila saya memutuskan memilih resolusi merubah arah ‘kesuksesan’, apakah itu merupakan titik terang yang terbaik.??(retorik)

Seringkali resolusi yang telah kita tetapkan adalah bersifat horizontal atau duniawi. Keberhasilan dalam bidang akademis, keberhasilan dalam pergaulan, ekonomi, cita-cita, dll adalah contoh pencapaian yang kita inginkan dan prioritaskan dalam sebuah resolusi. Tapi tak lupa kita harus ingat bahwa dasar ‘vertikal’ yang menjadi dalil utama dalam kehidupan. Setelah membuat sebuah resolusi, kita akan menjalani proses bargaining life dengan Tuhan. Spiritual kita akan bermain dalam proses ini karena kita mempercayai bahwa segala hasil dari proses perjuangan hidup kita ditentukan oleh Sang Pencipta. Kemampuan yang kita miliki ini akan menjadi modal dalam proses ‘tawar menawar’ dengan Tuhan. Semoga setiap resolusi yang kita ‘tawarkan’ kepada Tuhan dapat diterima dan mampu terealisasi di kemudian hari kelak.

2010.??

“Masalah besar yang akan kita hadapi tidak dapat dipecahkan dengan tingkat pemikiran yang sama ketika masalah itu terjadi”..(Albert Einstein)

Saya meyakini bahwa semakin lama saya hidup dan semakin tua umur saya maka masalah dan tantangan yang timbul akan semakin tinggi kualitasnya. Saya melihat bahwa tahun depan adalah tahun yang berat dan penuh perjuangan, karena masalah yang akan timbul dan muncul akan mengambil banyak space otak dalam memecahkan masalah. Semakin rumit masalah yang muncul maka semakin memancing tingkat kedewasaan kita. Saya berharap di tahun 2010 memiliki tingkat kedewasaan lebih baik dan kualitas memecahkan masalah yang baik pula, Sehinggaa mampu mengerjakan dan memecahkan tantangan dalam setiap resolusi yang saya prioritaskan dalam dalam tahun 2010. Terakhir di 2010 berharap bisa membebaskan diri dari kegagalan-kegagalan buruk yang membelenggu pikiran, dan berpikir lebih merdeka.


MAAFKAN KESALAHAN SAYA DI 2009 YA..!!


SELAMAT TAHUN BARU 2010..!!