by : Choirudin Anas
date (5 September 2009)
Di dalam kamar kos yang cukup sempit berukuran 4 x 3 aku mulai merenungkan 7 hari kegiatanku di sini. Setelah sekitar 3 bulan aku meninggalkan kota ini dengan begitu banyak tanggung jawab tapi kenapa aku merasa lumayan bangga dengan etos kerjaku yang sarat dengan kerja keras, tapi ternyata kini tubuhku nyaris habis kehabisan daya. Aku juga merasa hari ini begitu berat. Contohnya malam ini, malam yang sama satu minggu lalu aku mengakiri kegiatanku dengan sedikit gemetar, tapi malam ini telah menjadi gerak tak terkendali pada tangan kananku. Setelah pulang evaluasi Orientasi Mahasiswa Baru 2009 aku merasakan begitu dinginnya malam ini. Tanganku bergetar kuat tak terkendali, mungkin jika dilihat hampir sama dengan orang yang sedang sakit ayan di tengah umum. Tapi syukur aku berhasil menyembunyikan tanganku di depan umum dengan sengaja menaruh tangan yang satu di atas tangan yang lainnya atau dengan mengepalkan tinju sekuat-kuatnya ke depan berharap darah dari jantungku mengalir deras ke tangan agar ujung jariku merasakan panas yang ada di tubuhku.
Dalam suhu hampir seperti es di telapak tanganku, demi Tuhan, aku begitu sulit mengendalikan tanganku sampai-sampai memasukkan anak kunci ke pintu kamar kos pun aku tak sanggup. Sesudah tiga kali mencoba tanpa hasil, kesabaranku merosot sampai ke taraf yang membuatku menggumamkan kekesalanku pada angin yang berhembus. Menjelang putus asa, aku menaruh tas jinjingku, isinya sebenarnya hanya sebuah buku, Advanced Biology 2nd. Mugkin karena buku setebal 820 halaman ini yang membuat tasku terasa berat hari ini. Dengan konsentrasi penuh, setelah pundak kiriku terasa bebas dari kelebihan muatan, tangan kiriku mulai mencengkeram dan memandu pergelangan tangan kananku untuk memasukkan anak kunci berwarna keemasan itu ke dalam lubangnya. Dan sesudah 4 kali mencoba akhirnya aku bisa melihat dalam kamar kosku dengan perasaan senang tak tergambarkan. Yahhh…walaupun jauh dari kesan mewah, tapi aku merasa begitu bangga dan senang dengan perjuanganku sampai ke dalam kamar malam ini.
Malam ini aku keluar dari kamar dan naik ke atas balkon kamar kosku. Aku mengadah ke langit yang gelap untuk melihat bintang-bintang yang mulai terlihat setelah tertutup mendung sore ini. Aku pun berharap melihat bintang Timur yang jatuh malam ini. Ada mitos mengatakan bahwa semua keinginan kita akan terkabul jika memohon di atas bintang yang jatuh. Lama mencari bintang yang jatuh, pikiranku terbawa sampai ke mana-mana. Seperti terbawa angin yang berhembus kencang malam ini. Aku tiba-tiba membayangkan Dani, seorang pengemis kecil yang biasa mangkal di kios pertokoan di dekat kosku. Dua hari yang lalu aku bertemu dia. Pertemuan pertama kali setelah 3 bulan tidak bertemu.
Tapi berbeda dengan perasaan senang jika bertemu dengan teman dan sahabatnya, kebalikannya kemarin aku bertemu dia dengan perasaan miris. Aku melihat kaki kirinya terbungkus kain putih, bahkan kain itu sudah kehilangan warna aslinya karena menjadi hitam pucat. Setelah aku melihat lebih jelas,Astaghfirllah ternyata hitam itu adalah warna darah dari kaki Dani yang membeku karena waktu yang cukup lama. Hatiku semakin menangis ketika tahu bahwa seminggu setelah aku pulang ke Solo, Dani mengalami kecelakaan. Kaki Dani terserempet oleh motor di jalan Margonda. Aku mendengar dari mulut kecil Dani bahwa hari itu dia berniat mengemis di depan Mall Margo City, saat dia hendak menyeberang jalan, dia tidak sadar bahwa dari arah samping melaju sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Dan tabrakan pun tak terelakkan, kaki Dani pertama kali membentur roda sepeda motor itu dan mengalami sobekan 20 jahitan. Memang karena dia tidak mempunyai keluarga di jakarta, sehingga tidak ada yang mengurusnya. Hari itu dia hanya dibawa ke pos unit medis di Detos (Depok Town Square). Dan setelah luka sobekannya dijahit oleh tim medis hari itu juga dia harus pulang ke tempat mangkalnya di emperan toko depan Universitas Gunadarma.
Lamunanku membuatku terlena malam ini, aku kembali berpikir begitu beratnya perjuangan anak ini untuk mendapatkan uang untuk makan walaupun hanya 2 kali sehari. Bahkan dia pernah bilang pernah tidak makan sama sekali selama 2 hari. Tepatnya akhir tahun 2008 kemarin. Karena hujan deras yang mengguyur Jakarta dan Depok selama 2 hari berturut-turut, si Dani tidak bisa keluar untuk mengemis alhasil dia tidak mendapatkan uang sepeserpun. Akan tetapi dia bisa tetap kuat bertahan selama 2 hari hanya dari minum air hujan yang jatuh dari saluran air atap pertokoan di depan Gunadarma.
Aku teringat mulai kenal dengannya beberapa bulan yang lalu. Saat itu aku baru setengah tahun menjalani kuliahku di Universitas Indonesia. Biasa selesei kuliah aku suka duduk-duduk di emperan pertokoan gunadarma. Memang disana ada banyak makanan yang di jual sehingga aku betah berlama-lama disana. Saat aku melihat ke jalan, datang seorang anak kecil berumur sekitar 15 tahunan. Dia memakai baju putih lusuh dengan celana pendek warna hitam. Aku kaget sekali ketika di depanku dia mengadahkan tangannya sambil lirih mengatakan, “Mas, buat makan mas”.
Mungkin karena tidak biasa melihat pengemis kecil di daerahku aku merasa kasihan dan iba dengannya. Tapi saat itu bukan uang yang aku berikan, tapi aku mengajaknya untuk makan siomai bersama. Pertama kali dia menolaknya, tapi setelah aku membujukknya akhirnya dia mau juga. Dengan kepolosannya dia menceritakan nama dan asalnya. Namanya Dani dan asalnya dari Indramayu, Jawa Barat. Saat aku dan dia makan dengan lahap, tidak sengaja dengan spontan sebuah pertanyaan yang sebenarnya dalam hatiku udah aku pendam saat pertama kali melihatnya muncul, Kenapa jadi pengemis..?? Pertama kalinya dia ragu-ragu untuk menjawab. Aku tahu hatinya menolak untuk mengatakan betapa berat perjuangan hidupnya. Aku pun tidak memaksanya. Tetapi dengan kepolosan sifat anak seusianya dia menceritakan bahwa keluarganya adalah keluarga pengemis. Mereka memang sengaja ke Jakarta untuk mencari uang dengan mengemis. Mereka pertama kali datang ke Jakarta awal tahun 2007 dan karena suatu hal Dani berpisah dengan keluarganya pertengahan tahun 2008. Dan sampai sekarang dia mengemis sendiri dengan banyak teman sebayanya di lingkungan kampus Universitas Gunadarma.
Kadang aku bertanya dalam hati, apa anak ini tidak merasa marah dan kesal untuk menjalani kehidupannya yang begitu berat. ??
Mungkin kesibukan yang Dani jalani sebagai pengemis kecil, dan kemampuannya untuk mengotak-atik pikirannya agar merasa jauh dari kenikmatan dunia yang selalu dicari seseorang, merupakan upayanya untuk melindungi dirinya dari sikap tidak percaya akan kuasa Tuhan. Aku semakin yakin bahwa Tuhan menciptakan makhluknya dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Allah selalu memberi kebaikan pada setiap manusia, akan tetapi kadang manusia tidak tahu dan tidak sadar akan kebaikan tu. Alhasil tidak ada rasa syukur yang mereka berikan akan tetapi perasaan selalu kurang puas akan kenikmatan duniawi.
Jika Dani hidup secara normal dan mendapatkan pendidikan yang layak, dia layaknya sama dengan anak yang masih duduk di bangku SMP. Tapi aku yakin pola pikiran anak ini terhadap dunia melebihi pemikiran anak seusianya. Bahkan aku merasa saat masih SMP pun belum bisa menyamai pemikiran Dani. Dari matanya aku melihat dia memiliki jutaan alasan untuk tidak membuatnya kecil hati akan pekerjaannya sebagai pengemis. Dia selalu merasa tegar dalam tubuh kecilnya. Dan aku melihat sorot mata yang lugas dari mata Dani.
Kadang aku merasa menjadi orang yang hebat di dunia ini. Aku lahir dalam keluarga yang baik dan berpendidikan. Memiliki cukup banyak penghargaan yang dari aku raih dari kecil. Banyak keinginan pun yang sudah aku capai. Tapi sebenarnya dalam hati kecil, aku merasa kalah dari anak kecil ini. Aku merasakan dia melebihi pemikiranku untuk orang sebayanya. Walaupun sebagian orang memandang aku cukup dewasa, akan tetapi aku merasa sangat kurang dewasa dari Dani. Hidup Dani ibarat sebuah kapal baja raksasa yang melewati lautan dengan badai dan ombak dimana-mana. Akan tetapi kapal itu bebas berlayar ke manapun yang dia mau.
Hati Dani seperti kuatnya baja kapal yang bisa bertahan melalui hidupnya yang penuh dengan tantangan. Dia merasa tidak pernah marah dengan cercaan dan penghinaan atas dirinya karena dia merasa cercaan itu bisa membuat iba orang-orang sekitar sehingga dia mau memberi uang kepada Dani karena rasa kasihan. Dia selalu tertawa dan ceria di balik relung hatinya yang selalu meronta meminta kelayakan. Aku berharap dia akan menjadi orang yang sukses kelak...
Semakin dingin malam ini akhirnya membuyarkan ingatanku akan Dani. Ketika adrenalinku mulai menyurut, aku merasakan letih yang luar biasa. Mungkin hari ini aku akan tidur nyenyak dan besok bisa bertemu Dani yang tak bosannya bilang “Mas, buat makan mas..!!!”
by : CA

"Kadang aku bertanya dalam hati, apa anak ini tidak merasa marah dan kesal untuk menjalani kehidupannya yang begitu berat. ??"
BalasHapusSetuju dengan kalimat ini. :')
Thanks for sharing ^^