Siapa saya..???
"Hanya mahasiswa biasa yang banyak omong di kelas namun punya niat tulus membuat bangsa ini menjadi lebih baik suatu saat nanti.." (amin)

--- Tulisan di dalam blog ini adalah OPINI personal dari penulis. Baik berupa pendapat, pandangan, perspektif, dan tanggapan terhadap suatu kejadian, keadaan disekitar kita. Tulisan dalam blog ini adalah gagasan penulis tanpa maksud menyindir, menjatuhkan, bahkan membuat GALAU pembaca. Tulisan dalam Blog ini bersifat netral, tidak ditunggangi oleh PARTAI POLITIK apapun dan KEPENTINGAN PENGUASA termasuk KONSPIRASI. Penulis mohon maaf bila ada kesamaan karakter, isi, dan makna dalam setiap tulisan. Terima Kasih ---

Sabtu, 07 Mei 2011

Matahari Redup di Jalur Gaza

by : Choirudin Anas
date : 30 Juni 2010

Angin kering berbau mesiu semakin menusuk hidung. Kabut asap semakin tebal menutup langit cerah Gaza siang ini.. Kabut ini semakin menutup indahnya kota Gaza sebelum kebiadapan ini terjadi. Terangnya sang surya semakin tertutup oleh kegalauan masyarakat Gaza akan kekejaman bangsa zionis yang berusaha menghisap darah warga Palestina untuk sebuah tanah kehidupan. Ada sedikit kesejukan ketika gerimis turun menyapa keheningan di jalur Gaza, mengencerkan ceceran darah di sepanjang jalan, mengusir asap kepedihan yang mengepul di balik bangunan yang telah menjadi puing.

Kurasakan tetesan mata Tuhan serasa menghapus kesedihan Gaza yang tak berujung kapan selesainya. Kulihat langit cerah siang ini, berwarna biru dengan awan putih yang saling berkejar-kejaran mengejar malam. Aku jamin keindahan langit yang Tuhan ciptakan dengan segala kebesaran-Nya ini tak akan berbeda walau aku melihat di tempat manapun di bumi ini. Namun, aku tersentak ketika melihat ada ribuan bahkan jutaan pasang mata yang menangis melihat indahnya langit indah ini di jalur Gaza. Ada kegalauan besar warga Gaza, ada penindasan oleh kaum penjajah zionis, dan ada perjuangan yang tak seimbang dari masyarakat Gaza, dan semua kepedihan ini hanya bisa membuat pemimpin-pemimpin negeri antah berantah hanya mengelus dada tanpa bisa berdaya mencari tindakan.

Dari puing-puing bangunan yang runtuh oleh bom fosfor malam tadi, kupandangi seorang gadis gaza di hadapanku. Untunglah karena perlindungan Tuhan wajah cantik gadis itu tak menjadi cacat oleh efek kimia fosfor yang berbahaya. Aku berpikir bagaimana bisa sebuah perjanjian perang antar negara bisa dilanggar dengan begitu mudahnya. Pelarangan penggunaan senjata pemusnah masal dalam perang telah lama di gaungkan oleh negeri yang selalu berkoar-koar akan keselamatan masyarakat sipil. Namun sering sekali mereka lupa dengan efek dari distorsi tindakan atas perjanjian yang mereka lakukan. Dan kembali, banyak negeri-negeri antah berantah yang tidak bisa berbuat apa-apa selain bersimpati di balik kursi empuk mereka.

Kulihat wajah cantik gadis itu menyembul di balik reruntuhan puing-puing yang dahulu menjadi tempat para anak-anak mendapatkan pendidikan. Bangunan sekolah yang seharusnya tidak menjadi target seranganpun menjadi bulan-bulanan agresi tanpa hati para zionis. Wajahnya penuh debu dan jilbabnya kumal, pakaiannya compang-camping dengan bekas percikan darah disana-sini. Meski lelah dan tak berdaya, wajah gadis itu tetap keras tak berubah, Cantik, secantik rembulan, Dingin, sedingin tiupan angin malam ini. Dan aku sangat tahu, hatinya sangat tersayat, dengan sebuah granat siap ledak ada dalam genggamannya. Setetes air mata mengalir dari sepasang mata indah gadis ini, merenungi kematian sanak keluarga yang mati syahid oleh agresi tanpa kompromi bangsa penjajah Israel.

Aku merasakan malam yang pendek di jalur Gaza begitu mencekam. Hiruk pikuk kekacauan ada di mana-mana. Semua orang tidak bersalah berusaha lari menyelamatkan diri. Tunggang langgang tanpa henti bagai maut mengejar untuk meminta kematian. Terbayang dimana malaikat maut itu siap menjemput para syahidah dari padang Palestina. Banyak ratapan, tangisan, dan jeritan semakin menyesakkan dada, sesak oleh kepedihan tiada akhir dan sesak oleh asap mesiu di malam yang dingin. Lelaki berkelompok mencoba melawan dengan senjata seadanya. Bahkan dengan batu. Api berkobar, orang-orang terkapar, menggelepar seperti ikan-ikan yang terlempar dari air kehidupan. Percikan darah mengalir di setiap ujung jalan, dan membentuk beberapa genangan pekat dan hitam.

Aku tertegun melihat negeriku, sebuah negeri yang terkenal makmur dengan sumber daya, demokrasi di agung-agungkan, ekonomi di dewakan, dan kekuasaan menjadi incaran. Hati ini bagai tersandung oleh batu kerikil tajam melihat pemimpin-pemimpin negeriku hanya bersimpatik di balik kemewahan duniawi di sekitar mereka, perih dan sakit melihat kebiadaban dibiarkan tanpa tindakan. Hanya ucapan kata politis yang tidak akan bisa menghapus derita rakyat Palestina.

Di mana HAM dijunjung..??
Di mana pasukan perdamaian ??
Di mana traktat perdamaian itu berimbas.??
Hanya kaum marginal yang benar-benar berteriak dari hati terdalam. Memang hanya berkoar-koar tanpa tahu apa hasilnya. Namun, yang utama kami tidak berkhianat kepada Allah dan Rasull, dengan segala daya upaya untuk memikirkan semua saudara muslim di seluruh penjuru dunia.

Semakin hening aku merasakan kepedihan malam ini. Pikiranku terus menerawang di atas langit yang penuh dengan asap pembantaian malam ini. Di negeri seberang aku melihat sekawanan negara adidaya yang selalu berteriak akan HAM dan perdamaian manusia. Namun, kenapa mereka hanya diam melihat pembinasaan di negeri Palestina. Apakah ini hanya sebuah konspirasi dengan nyawa manusia sebagai pertaruhan harga, dan bahkan terlihat seperti kebohongan besar oleh negara-negara yang berkawan dengan biadap. Dimana juga peranan pemimpin-pemimpin negara muslim. Hanya diam membisu tanpa tindakan nyata demi kebaikan umat muslim.

Bagaimana mereka merasa bangga hanya dengan kehidupan yang sementara. Nilai-nilai kemanusiaan dihempaskan tanpa harga diri. Berceceran di jalan-jalan, bertaburan di langit kelam, dan mengalir bersama air keruh kehidupan yang semakin kejam. Manusia tanpa nurani itu tak melihat warga Gaza yang rela mempertaruhkan nyawa demi mengais nilai-nilai kemanusiaan ini sampai ke ujung dunia. Aku menangis ketika melihat warga Gaza mencari nilai-nilai kemanusiaan itu sampai di ujung laras meriam siap tembak milik zionis biadap. Perjuangan tanpa lelah demi kebenaran dan tak akan pernah bendera PUTIH akan dikibarkan di langit palestina. Semua ini semata-mata demi sebuah negeri yang telah di dzolimi.

Melihat nasib saudaraku, aku berharap bahwa tetesan darah dan jeritan menyayat dari negeri yang tercabik-cabik ini semakin menggetarkan semua orang yang benar-benar berjuang mengatasnamakan HAM. Tak peduli urusan pribadi, lembaga, atau negara. Yang utama adalah kebenaran akan selalu di junjung tinggi. Suatu saat tak akan lagi ada pertumpahan darah demi sepetak tanah, tak akan lagi ada ratapan karena kematian, dan tak akan lagi melihat keheningan malam pecah oleh suara ledakan bom.

Pagi ini matahari merambat naik dengan perlahan. Mengawali perjuangan masyarakat Gaza untuk keadilan yang lebih baik. Kutapaki setiap langkahku di negeri yang selalu berjuang demi keadilan ini. Tak jauh di depan kulihat wanita cantik itu menegaskan langkahnya memasuki gerbang perjuangan. Berjalan menunduk dengan muka tertutup jilbab hitam. Namun, jilbab itu tidak dapat menutupi matanya yang selalu menitikkan air mata kepedihan. Aku mendengar untaian syahadah selalu keluar dari mulut kecilnya. Semakin menguatkan batinnya untuk terus berjuang demi tanah kelahirannya. Sekali dia menoleh ke arahku dengan senyuman manis khas wanita timur tengah. Semalam aku melihat matanya yang bengkak penuh dengan kepedihan kuat yang selalu dirasakan oleh warga palestina lainnya. Namun, pagi itu berbeda, dia terlihat tersenyum tanpa beban sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Dengan lirih dia berujar,

“aku bangga menjadi seorang Palestina, yang mengajarkan kepada semua orang di dunia arti perjuangan tak takut mati demi sebuah nilai kemanusiaan dan keadilan.”

Dengan perasaan tersayat dan bangga aku hanya bisa menyaksikan dia terus berjalan tegas kedepan menuju barak militer Israel. Matahari pagi ini seperti sengaja menuntunnya untuk terus berlari mengejar semua impian dan tujuan hidup bangsa Palestina. Wanita itu terlihat mengeluarkan bongkahan dari bajunya yang ternyata adalah sebuah granat siap ledak. Dengan keyakinan dia masuk ke dalam barak itu saat tentara-tentara Israel masih terlelap tidur. Aku hanya bisa melihat dari kejauhan tanpa berani mendekat.

“Allahuakbar....Allahuakbar....Allahuakbar...!!”terdengar teriakan wanita itu.

Kemudian diikuti dengan ledakan hebat yang menyesakkan dada ini. Puluhan tentara Israel meninggal dan tentu saja wanita itu ikut di dalamnya. Air mataku tiba-tiba mengalir deras tanpa henti. Aku merasakan sebuah perjuangan dan kematian seorang wanita pemberani. Semoga dia menjadi Syahidah di mata Allah.

Kabut asap ledakan itu membumbung tinggi dan buyar oleh angin kering padang pasir. Menutup terangnya sinar sang surya di jalur Gaza. Namun, aku yakin perjuangan bangsa palestina tak akan redup sampai keadilan dijunjung tinggi.....

AMIN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar