by : Choirudin Anas
date : 5 Mei 2010
Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2010 pemerintah mengambil tema “Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa”. Tema ini memang sangat relevan jika melihat arah pendidikan Indonesia yang hanya berpegang teguh pada sisi kontekstualitas tanpa melihat moralitas para pelaksana pendidikan. Sekjen Kemendiknas, Bambang Indriyanto menjelaskan bahwa pentingnya pembangunan karakter dalam pendidikan. Siswa dengan karakter yang kuat pada akhirnya akan meningkatkan mutu pendidikan nasional. “Pembangunan karakter adalah bagian penting dalam pembangunan peradaban bangsa,” katanya. (kompas 29/4)
Namun, bila kita melihat situasi secara langsung dapat jelas terlihat karakter apa saja yang harus diperbaiki dan dikembangkan oleh bangsa Indonesia. Pendidikan karakter merupakan tema yang strategis karena memang amat kontekstual dengan situasi kekinian yang dinilai makin mengabaikan persoalan-persoalan aklak dan budi pekerti (Tuhusetya :2010). Degradasi moral dan involusi budaya telah menjadi fenomena rutin yang makin menenggelamkan kemuliaan dan martabat bangsa. Perilaku kekerasan, vandalisme, korupsi, dan berbagai perilaku tidak jujur lainnya telah menjadi sebuah kesalahan kolektif. Jika kita belajar dari sejarah, bangsa Indonesia didirikan oleh para proklamator dengan memegang teguh ideologi perjuangan yang luhur. Perjuangan pantang menyerah untuk mendapatkan kemerdekaan menjadi sebuah karakter kuat bangsa ini. Bangsa yang akan selalu berusaha melawan berbagai bentuk penindasan, kekhilafan, dan upaya okupasi para penjajah. Distorsi kebudayaan mulai muncul ketika arus perkembangan teknologi menjadi pesat, realita menjelaskan bahwa perkembangan teknologi ini membuat penyebaran informasi sudah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Berbagai paham dan kebudayaan mampu menembus dimensi pada sistem kebudayaan yang telah terbentuk sebelumnya, termasuk di Indonesia.
Kebudayaan “tidak jujur” di negeri ini mulai banyak kita rasakan telah menyebar ke setiap relung-relung di masyarakat dalam berbagai strata sosial. Untuk mendapatkan harta, pangkat, dan kedudukan tak jarang ditempuh dengan cara-cara curang ala Machiavelli, bahkan jika perlu menggunakan dunia mistik yang tak kasat mata. Pergeseran tatanan sosial di masyarakat secara tidak langsung telah mampu menghapus budaya-budaya luhur, jujur dan sopan santun khas Bangsa Indonesia. Tak ayal lagi, negeri ini tak lebih dari sebuah pentas kolosal yang menyuguhkan skenario yang tragis serta repertoar yang pilu dan menyesakkan dada.
Dalam mengembangkan karakter suatu bangsa melalui pendidikan, diharapkan anak bangsa mampu kembali pada nilai-nilai luhur yang secara historis telah membuat kesejatian diri bangsa menjadi lebih terhormat dan bermartabat. Menurut Tuhusetya (2010), bangsa Indonesia perlu kembali melihat romantisme masa silam. Bangsa ini perlu belajar pada nilai-nilai kearifan lokal masa silam sebagai dasar perilaku untuk memasuki pusaran global yang begitu kuat. Pusaran ini yang siap membawa bangsa Indonesia menuju dimensi yang semakin rumit dan syarat kompleksitas. Filter dan barier suatu bangsa akan diuji apakah mampu membendung berbagai paham-paham dan ideologi yang siap menggrogoti nilai-nilai historis bangsa. Namun, dengan optimis dan perjuangan intelektual sepenuh hati dari masyarakat, tidak mustahil bangsa ini dapat maju dan modern tanpa harus kehilangan pijakan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Jamrud di khatulistiwa dengan kemajemukan dalam soal budaya, agama, etnis, ras, dan berbagai kekuatan primordial lainnya itu sejatinya bisa membangun sebuah ikatan peradaban yang diharapkan oleh bangsa Indonesia. Peradaban yang menggambarkan mozaik keindonesiaan yang toleran, demokratis, sopan santun, berbudaya, dan beradab.
Terdapat sebuah puisi ciptaan Cahiril Anwar yang berjudul “Perjanjian dengan Bung Karno” , dan menggambarkan perjuangan bangsa ini,
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang di atas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api, aku sekarang laut
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
1948.
Puisi tersebut menyimpan makna yang sangat mendalam untuk dipahami dan dianalisis bahwa dinamika sejarah suatu bangsa di masa lalu, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masa kini, sehingga suka atau tidak suka, kita harus menyadari bahwa hal tersebut merupakan bagian dari perjalanan hidup dan sejarah Indonesia. Negara yang beradap tidak akan melupakan setiap awal tonggak perjuangan bangsanya. Apapun yang telah diraih oleh bangsa ini di masa sekarang, tidak bisa terlepas dari buah perjuangan para pendahulu di masa lalu, sudah sepantasnya generasi masa kini untuk menghormati dan menghargai segala pengorbanan para pahlawan yang diberikan kepada bangsa dan negara.
Pembangunan karakter sebuah bangsa tidak semudah membalikan telapak tangan. Kelemahan bangsa Indonesia adalah sangat mudah terprovokasi dan terjerumus akan setiap budaya-budaya baru yang masuk tanpa melihat apakah budaya ini berseberangan dengan ideologi bangsa Indonesia. Perlu kita akui, 65 tahun hidup merdeka, bangsa kita justru terjerumus dan kian tenggelam ke dalam budaya pragmatis, instan dan barbar, yang dinilai telah gagal memerdekakan rakyat dari kemiskinan dan kelaparan. Jika kita lihat pembangunan infrastruktur bangsa yang begitu pesat, terlihat bahwa pencapaian pembangunan ini hanya bersifat lahiriah atau fisik. Rohaniah bangsa kita justru kering kerontang, tak sanggup membebaskan diri dari kesewenang-wenangan, ketidak adilan, dan penindasan yang mulai terlihat kasat mata.
Pada masa sekarang, untuk keluar dari belenggu intelektualitas ini bangsa Indonesia harus kembali belajar kepada Ki Hajar Dewantara. Seorang pendidik asli Indonesia yang melihat bahwa manusia lebih utama terlihat pada sisi kehidupan psikologiknya. Menurut beliau manusia memiliki daya jiwa yaitu, cipta, karsa, dan karya. Pembangunan manusia yang bertujuan untuk meningkatkan keberadaban suatu bangsa dituntut untuk mampu mengembangkan daya secara seimbang. Pendidikan yang hanya menitikberatkan pada aspek intelektualitas belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari sistem masyarakat. Padahal kita tahu bahwa semua pijakan nilai-nilai luhur bangsa terdapat pada tatanan sistem masyarakat. Terbukti bahwa sampai sekarang pengembangan pendidikan hanya menekankan pada daya cipta saja, dan kurang memperhatikan pengembangan rasa dan karsa. Pemerintah harus melihat jika hal ini diteruskan, maka kedepan akan tercipta manusia-manusia Indonesia layaknya produsen robot yang tidak memiliki sisi humanis dan manusiawi.
Pedekatan karakter bangsa melalui budaya adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah ini. Indonesia telah memiliki pijakan yang kuat setelah tonggak berdirinya bangsa ini didirikan, bahkan telah tertuang dalam falsafah tertinggi kita, Pancasila. Melalui media kebudayaan berlaku pepatah : “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya“. Manusia akan menjadi manusia bila mereka hidup dengan budayanya sendiri (T. Riyanto, 2004). Dengan kemajemukan ras, budaya, dan etnis di Indonesia, upaya pembentukan karakter bangsa akan lebih efektif bila para pelaku pendidikan menggunakan pijakan budaya dalam kegiatan belajar. Peningkatan kualitas guru juga menjadi sebuah pekerjaan rumah yang besar bagi negara ini. Walaupun guru dituntut hanya menjadi sebuah fasilitator akan tetapi seorang pengajar tetap yang akan memegang kendali bila kegiatan belajar-mengajar sedang berlangsung. Seorang guru juga harus memiliki cara untuk melakukan pendekatan psikologik kepada muridnya karena telah dibahas sebelumnya bahwa pendidikan yang hanya mementingkan kontekstualitas tidak akan menghasilkan output yang baik. Seorang pendidik tidak harus menjadi Ksatria yang menjadi seorang pengajar, tetapi menjadilah Seorang Pengajar yang Berjiwa Ksatria. Karena apabila jiwa-jiwa ksatria ini yang mendidik putra-putri bangsa InsyaAllah, anak-anak bangsa besok yang mampu membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang beradab dengan karakter kuat budaya nasionalis.
Manusia seutuhnya adalah manusia berkarakter nasional yang dilingkupi oleh budayanya masing-masing (Ki Hajar Dewantara)
Namun, setiap upaya dan kebijakan pendidikan di Indonesia patut kita apresiasi penuh. Jika terdapat kekurangan kita kritisi dan bila ada kebaikan selalu kita dukung...Yahhh apapun yang terjadi,Pendidikan Nasional :”emang gue pikirin”. (baca : memang saya pikirkan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar