by : Choirudin Anas
date : 18 Desember 2009
Sedikit bersyukur dan merenung saat pepatah singkat yang terlupakan itu teringat lagi setelah membaca profil dari Dosen berprestasi tingkat Universitas Indonesia 2008, Prof. Dr. rer. nat. Rosari Saleh. Dalam catatan kaki profil Guru Besar Fisika UI di bidang condensed material dan material physicini terdapat pesan singkat tersebut yang dutujukan untuk civitas akademika Universitas Indonesia dan masyarakat secara umum. Menurut beliau keberhasilan seorang manusia didasarkan pada bagaimana seseorang mampu menjadikan dirinya sebagai seorang pekerja dan pemikir yang keras. Tak ada keberhasilan hakiki yang didapat tanpa sebuah perjuangan. Dan terakhir dalam catatan singkatnya, seorang manusia yang ingin sukses harus mampu merencanalan dan mengoptimalkan setiap proses yang akan dilaluinya serta yang terpenting dari semua ini tentang bagaimana dia mampu memanajemen waktu sebagai modal hidup.
Ada sebuah retorika dalam kehidupan bermasyarakat kita ketika ada pengingkaran tentang semua kegagalan hidup mereka di dunia. Ya..benar sekali..tak ada manusia satupun yang menginginkan sebuah kegagalan. Menurut survei salah satu lembaga survei independensi di Indonesia ada 999 dari seribu orang Indonesia yang tidak menginginkan kegagalan. Satu orang adalah orang yang telah mengalami kegagalan besar dalam hidupnya. Tapi ternyata tidak kita sadari secara rasional, banyak orang yang telah merencanakan kegagalannya masing-masing. Tak terkecuali diri kita sendiri. Manusia diciptakan menjadi seorang pribadi dengan kelebihan akal dan pikirannya. Namun kadang mereka tidak pernah melihat esensi terdalam dari kelebihannya itu dari makluk Tuhan yang lain. Sebenarnya manusia mempunyai kelebihan akal untuk dapat merencanakan proses dalam kehidupannya. Bagaimana proses tersebut akan di laksanakan dalam “proposal hidupnya” lah yang menentukan keberhasilannya kelak. Tetapi jarang terdapat seseorang yang mendaya gunakan seluruh akal dan pikirannya untuk merencanakan keberhasilannya di masa depan.
Berorientasi pada proses
Ketika ada beberapa kelompok anak-anak di taman kanak-kanak yang ditanya, “cita-citanya mau jadi apa.?”
Pasti hampir dari semua dari anak-anak ini akan menjawab:
Aku mau jadi dokter
Aku mau jadi pilot
Aku mau jadi presiden
Aku mau jadi polisi
Dll.
Memang bukan jawaban yang salah dan menyimpang dari kebiasaan. Namun, apakah kita sadari bahwa kita telah membiasakan anak-anak ini dari kecil hanya untuk berorientasi pada hasil. Sehingga budaya masyarakat Indonesia sekarang hanya berorientasi pada sebuah hasil dan pencapaian termasuk bagaimana hasil itu diperoleh, bagaimana hasil itu di dapat dan hanya kita sendiri yang tahu dan yang bertanggung jawab atas semua itu.
Seharusnya masyarakat harus di budayakan untuk selalu berorientasi pada proses bukan hasil. Menurut filosofinya, proses adalah sebuah kewajiban dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan untuk mendapatkan sebuah hasil. Sedangkan hasil adalah milik Allah, sehingga apa yang kita laksanakan akan selalu dalam dimensi amal.
Saat manusia berorientasi kepada sebuah proses maka dia akan dipancing menjadi seorang pribadi pekerja dan pemikir keras. Seorang pekerja dan pemikir keras akan terus berpikir bagaimana mereka merencanakan proses yang akan di jalani selama dia hidup. Akhir dari sebuah perjuangan manusia akan dihadapkan pada 2 keputusan hasil yang harus dia terima. Hasil baik dan hasil buruk sebuah logika sederhana yang akan menggambarkan output dari perjuangan ini. Dinamika sebuah perjuangan hidup sebenarnya telah tersusun rapi dalam berbagai pegangan hidup manusia dan menjelaskan secara jelas tujuan dari hidupnya di dunia ini. Ketika sebuah perencanaan telah dibuat, maka setiap jalan yang akan kita lalui akan selalu terarah dan terpikirkan dengan baik. Keuntungan yang kita dapatkan pula adalah secara tidak langsung kita telah membuat anaisis SWOT dalam hidup kita sendiri. Kita akan mampu melihat kekuatan sebagai modal dalam perjuangan hidup kita, dan akan terpacu untuk mengkonversi setiap kelemahan dalam pribadi ini menjadi sebuah strength yang baru. Setiap hasil yang baik juga terbuka lebar untuk kita dapatkan jika mampu melihat kesempatan (opportunities) di depan kita dan siap menghadapi setiap tantangan (threats) yang berpotensi untuk menggiring kita menuju kepada sebuah kegagalan.
Berorientasi pada proses juga akan menuntun kita untuk membuat sebuah “proposal hidup” yang terencana . Proposal hidup ini ibarat sebuah perencanaan matang yang akan menuntun kita dalam menjalani kehidupan di dunia. Dengan dasar prinsip dan ideologi yang kuat dalam menyusun puzle-puzle kehidupan ini sebenarnya memberi kita sebuah pegangan yang matang untuk mencapai keberhasilan yang kita inginkan. Keberhasilan yang terencana tentu menjadi sebuah goal dan hasil yang maksimal dalam semua proses ini. Secara tidak langsung kalimat, “Kehidupan yang Terencana” akan menjadi semboyan dalam hidup kita.
Menjadikan hasil adalah milik Allah merupakan sebuah keputusan yang paling bijaksana. Setiap hasil perjuangan yang akan kita dapatkan, apapun bentuknya apapun besarnya akan selalu kita syukuri sebagai imbalan sepadan dengan perjuangan kita dan InsyaAllah apapun itu akan menjadi amal bagi kita semua. Serta kita akan melihat bahwa sebagian kegagalan yang akan dia dapatkan merupakan sebuah ganjalan kecil sehingga kelanjutan dari perjuangan hidupnya akan masih terus berlanjut dalam jalur yang tepat.
Manajemen waktu = menggadaikan modal
Memanajemen waktu berarti bagaimana cara kita untuk mengatur dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin sehingga waktu dalam hidup kita akan dipergunakan secara efektif dan efisien.. Efektifitas terlihat dari tercapainya tujuan menggunakan waktu yang telah ditetapkan sebelumnya berdasar perencanaan dalam hidup kita . Dan efisien mengandung makna investasi waktu dalam menggunakan waktu yang ada. Manajemen waktu bertujuan agar waktu yang merupakan modal utama, dapat kita manfaatkan sebaik mungkin dalam proses kehidupan. Manusia yang mampu memanajemen waktu akan terbiasa untuk berbudaya disiplin dan memplot setiap kesempatan yang ada semaksimal mungkin. Sehingga prioritas yang pertama muncul adalah mencapai tujuan utama dalam hidupnya yaitu mencapai sebuah keberhasilan.
Memanajemen waktu merupakan kegiatan yang menggadaikan waktu. Tuhan dengan adil memberikan lama waktu yang sama pada setiap orang. 24 jam sehari dalam satu hari yang diberikan merupakan hak prerogative dari setiap manusia. Mereka boleh menggunakan waktu tersebut dengan berbagai hal yang menurut mereka benar, termasuk membuang-membuang waktu begitu saja. Setiap manusia secara langsung sebenarnya telah menggadaikan waktu yang mereka miliki ini. Waktu ini akan mereka gadaikan menjadi sebuah proses atau tindakan yang bermanfaat dalam hidupnya atau tidak. Dan pada akhirnya akan menentukan hasil keberhasilan masing-masing manusia.
Dan yang terpenting mari kita merubah pandangan kita dari orientasi hasil menjadi orientasi proses. Dan saya menunggu bila sekelompok anak-anak di taman kanak-kanak bila ditanya pertanyaan yang sama maka mereka akan menjawab:
Aku mau berusaha jadi dokter
Aku mau berusaha jadi pilot
Aku mau berusaha jadi presiden
Aku mau berusaha jadi polisi
Dll.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar