by : Choirudin Anas
date : 15 Mei 2011
Mungkin agak lebai kalau tulisan saya yang satu ini bakal membahas tentang arti perjuangan. Saya yakin tiap orang disekitar kita sudah familiar dengan kata PERJUANGAN. Ketika kita masih duduk di sekolah dasar sampai sekolah mengengah kita belajar bagaimana perjuangan para pahlawan merebut kemerdekaan. Tetes darah dan hilangnya ratusan bahkan ribuan nyawa rakyat Indonesia menjadi bukti begitu beratnya perjuangan yang mereka lakukan. Namun, bagai oase di padang pasir, perjuangan berat hampir selama 3,5 abad ini membuahkan hasil dengan digaungkan naskah proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh proklamator kita. Dan sekarang tinggal tugas kita sebagai anak bangsa untuk melanjutkan Perjuangan para pahlawan terdahulu untuk membawa Bangsa ini menjadi lebih baik.
Nilai Perjuangan sebenarnya telah diajarkan oleh para pendahulu kita sebelum kita lahir. Menurut saya arti PERJUANGAN adalah segala usaha dan upaya yang kita lakukan untuk mendapatkan hasil terbaik, bahkan perjuangan hidup tidak akan habis sampai kita menghembuskan nafas terakhir untuk terus mewujudkan setiap MIMPI kita baik di dunia maupun di akhirat. Setiap manusia dituntut untuk memperjuangkan hidupnya sampai akhir, secara hukum Tuhan usaha untuk mencapai keberhasilan setiap orang akan dihadapkan dengan berbagai masalah-masalah yang akan menghiasai warna hidup ini menjadi lebih berwarna. Dan seberapa besar perjuangan seseorang untuk keluar dari setiap masalah ini yang akan menentukan tingkat keberhasilannya kelak.
Saya mempelajari sebuah prinsip hidup yang sederhana bahwa yang terpenting untuk mencapai keberhasilan adalah mengatasi masalah yang muncul pada saat kita memperjuangkan KEBERHASILAN itu. Memang benar jika kita melihat orang-orang di sekitar kita, semua orang pasti ingin meraih prestasi atau keberhasilan setinggi-tingginya. Cuma sayangnya, hanya sedikit orang yang sanggup mengatasi masalah yang muncul saat sedang memperjuangkan keberhasilan itu. Bahkan tidak sedikit dari mereka berusaha lari dari masalah dan mencari jalan pintas dengan cara-cara yang tidak dibenarkan.
Bagaimana menghadapi sebuah Masalah..??
Kalau bicara tentang masalah atau problem dalam hidup ini memang tidak akan ada habisnya. Setiap orang dengan pekerjaan, status sosial, posisi, mimpi, dan cita-cita yang berbeda akan mempunyai masalahnya masing-masing. Masalah itu memiliki sumber bermacam-macam. Ada yang bersumber dari diri kita sendiri, dari orang lain, ataupun dari keadaan di sekitar kita. Ada masalah yang memang bisa kita kontrol dan kendalikan, namun ada pula masalah yang cuma bisa kita jalani atau hadapi. Saya berusaha mendeskripsikan beberapa masalah saya sebagai seorang mahasiswa semester 6 di Universitas Indonesia dan bagaimana cara mengatasi menurut pandangan saya.
Masalah yang pertama adalah rasa Malas. Menurut saya masalah ini adalah masalah utama yang bersumber langsung dari diri sendiri. Malas bukan sifat namun sebuah sikap. Malas merupakan sikap atau perilaku yang tidak mau melakukan sesuatu kegiatan dalam tempo waktu yang ditetapkan. Bisa dibayangkan seorang mahasiswa dengan banyaknya tugas, aktivitas, dan kewajiban lain baik akademik ataupun organisasi memiliki rasa malas yang tinggi. Banyak tugas yang akan menumpuk dan akhirnya tidak dapat diselesaikan sesuai jadwal, kewajiban belajar untuk mengejar materi tidak bisa dilakukan, managemen waktu tidak terkendali dan sampai akhirnya akan berdampak negatif pada setiap hasil yang akan saya peroleh di akhir. Ada sebuah pepatah yang mengatakan malas adalah tikarnya iblis. Bila kita membiarkan sikap malas ini dengan tidak berusaha memeranginya, maka tikar itu akan semakin lebar, sehingga semakin nyaman iblis bersemayam di atasnya. Kita akan menjadi semakin sulit keluar dari sikap malas itu dan hancurlah kita setinggi apapun ilmu kita, karena akan berakhir tanpa diamalkan. Rasa malas juga diprediksi akan membuat sebuah bangsa tidak akan maju. Mari kita melihat disekitar kita sikap malas yang semakin menjadi budaya bangsa Indonesia untuk tidak disipilin dan tepat waktu (ngaret) terhadap suatu janji atau pekerjaan.
Bagaimana cara mengatasi ??
Hanya satu cara yang paling ampuh, yaitu berusaha memerangi rasa malas ini. Semakin banyak waktu kosong seseorang maka semakin tinggi pula rasa malas yang akan muncul. Isilah setiap waktu kosong anda dengan kegiatan yang bermanfaat. Mengerjakan tugas yang diburu deadline (jangan ditunda), belajar, membaca buku, atau menulis jika waktu senggang. Yang terpenting jangan sampai waktu kosong terbuang dengan percuma. Apalagi ada prinsip ekonomi yang mengatakan bahwa waktu itu adalah uang..!! Ketika di kamar, jauhkanlah diri anda dari kasur atau bantal, dan dekatilah meja belajar atau buku. Karena saya membuktikan sendiri bahwa rasa mala situ tidak hanya timbul dari keingingan pelaku namun juga dari keadaan yang mendukung.

Ketiduran di kelas karena tidak ada dosen. (malas karena keadaan)
Anda lebih baik pula mencatat setiap tugas-tugas anda sebagai seorang pelajar atau mahasiswa. Karena, catatan ini cukup efektif mengingatkan saya untuk tidak malas karena ada banyak tugas-tugas yang menunggu. Dan terakhir saran saya untuk memerangi rasa malas adalah mintalah pada orang-orang diserkitar anda bisa teman, pacar, orang tua, atau siapapun untuk selalu mengingatkan anda agar selalu meninggalkan rasa malas dan melakukan kegiatan yang bermanfaat.
Masalah yang kedua, adalah Takut akan kegagalan. Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri tentang apa yang kita inginkan dalam hidup ini? Akan timbul berbagai macam jawaban untuk menjawab pertanyaan ini. tapi kita pasti sepakat bahwa semua itu bermuara pada satu kata, yaitu KESUKSESAN..!!
Saya termasuk tipe orang yang memiliki impian dan mimpi yang tinggi. Setiap awal tahun saya berusaha membuat resolusi atau target pencapaian yang harus dicapai di tahun tersebut. Memang sering kali saya bimbang untuk menentukan resolusi-resolusi apa yang akan saya perjuangkan. Telah menjadi hukum Tuhan bahwa setiap orang mendambakan kesuksesan dalam hidupnya. Energi hidup kita tercurah dalam proses perjuangan untuk menggapai sukses. Obsesi yang terlalu tinggi untuk mencapai kesuksesan membuat sebagian kita menjadi takut berhadapan dengan kegagalan. Lalu, disadari atau tidak, kita mengembangkan semacam alarm ‘awas gagal’. Gejala khasnya adalah kepala pening, jantung berdenyut lebih cepat, badan berkeringat dingin dan sulit tidur.
Rasa takut akan kegagalan sering kali membuat kita buntu untuk terus berjuang pada level yang lebih tinggi, keberhasilan memang harus diperoleh dengan resiko kegagalan sama dengan tingkat kepuasan yang akan kita dapatkan ketika kita berhasil. Namun, kadang sulit menerima sebuah kegagalan dalam proses kehidupan ini, sulit untuk tidak meratapi, dan sulit untuk kembali bangkit dan terus berjuang.
Salahkah merasa takut gagal? Sebenarnya, dalam takaran proporsional, perasaan takut gagal adalah wajar. Bahkan, pengelolaan yang baik atas perasaan ini bisa menjadi semacam ruang penyediaan energi cadangan, manakala energi utama tersedot habis oleh sebuah program sukses yang belum terwujud. Perasaan takut gagal dalam takaran wajar akan menjadi penyeimbang yang membuat kita tidak tersungkur jatuh saat limbung akibat hantaman kegagalan.
Ironinya, banyak di antara kita yang terlalu keras memasang alarm ini sehingga alih-alih menjadi penyeimbang, malah memasung dan memandulkan potensi diri. Kita memilih no action daripada gagal. Kita memilih bungkam dan diam saja daripada salah omong dan berisiko pada diri. Kita memilih tidak bergerak daripada jatuh. Well, berapa banyak dari kita yang sengaja menghindari beban dan tanggung jawab lebih besar daripada gagal?! Berapa banyak kesempatan terlewatkan karena kita tidak berani menanggung risikonya? Dan semakin lama sikap ini akan membuat kita seorang pribadi yang minder dan pesimistis.
Setelah itu Masalah yang ketiga adalah Pesimistis atau tidak percaya akan kemampuan diri sendiri. Pesimistis adalah sikap yang membuat kita tidak berkembang dan terkungkung dalam kotak yang sempit. Rasa pesimis membuat kita takut maju, rasa pesimis membuat kita tidak All out dalam berjuang, dan tentu saja rasa pesimis membuat kita merasa menjadi pribadi yang lemah. Dunia ini diciptakan oleh Sang Pencipta dengan berbagai halangan dan rintangan, tentu saja cobaan ini sengaja dibuat oleh untuk mampu dilalui oleh pribadi-pribadi yang kuat. Dalam dunia pendidikan di Universitas, mungkin kita merasa minder di sekitar orang-orang yang pintar, rajin, dan mengetahui banyak hal. Namun, mari kita berpikir apakah kita harus merasa menjadi seorang yang lemah?? , menjadi seorang yang lebih bodoh?? Dan menerima hasil apapun yang akan kita dapatkan walaupun hasil jelek sekalipun.
Untuk dua masalah terakhir akan saya bahas cara mengatasinya di tulisan berikutnya karena kebetulan sudah mengantuk waktuk menulis…hha
Namun secara garis besar inti dari semuanya adalah masalah penyikapan dari diri sendiri. Memang benar terdapat berbagai macam masalah yang ada di sekitar kita, coba anda manfaatkan setiap masalah di sekitar anda menjadi energi positif untuk terus maju dan memperjuangkan hidup ini. Secara hukum alam, Kita pasti akan sepakat bahwa sebuah masalah, apaun itu bentuknya dan sumbernya pasti rasanya berat dan tidak enak bagi kita. Namun, kalau berbicara kegunaannya, ini tergantung setiap orang yang menghadapi. Masalah itu bisa kita pilih untuk menggelapkan dan memperburuk jiwa kita atau bisa pula kita pilih untuk mencerahkan jiwa kita. Masalah bisa kita pilih sebagai materi yang mendorong ke arah perubahan yang lebih bagus, dan bisa pula kita pilih sebagai materi yang menghadang perubahan.
I LOVE MY Problem....:)
Tetap bersemangat dan terus jalani hidup ini dengan PERJUANGAN sesungguhnya….!!
Continue….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar