Siapa saya..???
"Hanya mahasiswa biasa yang banyak omong di kelas namun punya niat tulus membuat bangsa ini menjadi lebih baik suatu saat nanti.." (amin)

--- Tulisan di dalam blog ini adalah OPINI personal dari penulis. Baik berupa pendapat, pandangan, perspektif, dan tanggapan terhadap suatu kejadian, keadaan disekitar kita. Tulisan dalam blog ini adalah gagasan penulis tanpa maksud menyindir, menjatuhkan, bahkan membuat GALAU pembaca. Tulisan dalam Blog ini bersifat netral, tidak ditunggangi oleh PARTAI POLITIK apapun dan KEPENTINGAN PENGUASA termasuk KONSPIRASI. Penulis mohon maaf bila ada kesamaan karakter, isi, dan makna dalam setiap tulisan. Terima Kasih ---

Sabtu, 07 Mei 2011

KEHILANGAN PANUTAN SEORANG PENGEMIS KECIL..??

Tak Pernah bosan untuk menggali kehidupan seorang pengemis kecil.

Di siang terik matahari Depok hari ini, semua orang enggan keluar dari tempat teduhnya untuk merasakan panasnya matahari secara langsung. Kadang udara panas memang mengalahkan semangat semua orang untuk bekerja mencari uang. Tapi berbeda dengan Dani, siang itu teriknya matahari ia rasakan dengan penuh semangat pantang menyerah. Tak kenal lelah ia mengitari kawasan kampus Universitas Gunadarma untuk mengiba mencari rejeki walaupun hanya sekoin uang logam. Memang ada beberapa orang yang memandang bahwa rejeki yang ia dapatkan dari mengemis adalah rejeki yang memalukan. Karena mendapatkan uang hanya dengan modal tampang memelas dan satu tangan mengadah meminta belas kasihan. Maka tak jarang timbul persepsi bahwa pekerjaan mengemis adalah pekerjaan memalukan.

Akan tetapi bagi Dani semua perkataan orang itu ia anggap seperti angin lalu, yang cuma terasa di awal setelah itu hilang terbang tak tentu arah. Bagi Dani memikirkan bagaimana cara mengisi perutnya hari itu lebih penting dari pada memikirkan perkataan orang-orang yang sebenarnya kadang membuat hatinya terasa pedih. Yahh..tapi inilah jalan hidup yang harus dia jalani, semoga saja ini hanya pilihan hidup sementara baginya dan kelak dia akan menemukan jalan hidup yang lebih baik. Dani meyakini bahwa Tuhan Maha Adil, semua hambanya yang mati-matian berjuang akan selalu diberi jalan, bukan karena perjuangan karena setengah-setengah.

Siang hari yang terik itu, kalo dilihat dari sudut kemiringan matahari mungkin menunjukkan skitar pukul 1 siang. Dani terlihat sangat sibuk berjalan menghampiri semua orang. Ia mengadahkan kantong bekas tempat permen sambil berkata “mas, buat makan mas..!!”.

Bagi seorang pelajar, ilmu yang didapat dari sekolah adalah jurus jitu untuk bekerja, tapi bagi Dani kalimat itulah yang menjadi satu-satunya jurus jitu untuk mencari uang. Terlihat jelas siang itu semua sudut kompleks kampus dia datangi satu persatu. Ada orang yang sedang nongkrong, ada yang sedang makan, ada yang sedang beli makanan di toko, bahkan orang yang sedang jalan pun dia hampiri untuk meminta-minta. Terlihat sekali perjuangannya begitu hebat, dia tak memikirkan panasnya matahari yang membuat kulitnya semakin hitam kelam, serta terlihat jelas susahnya dia untuk berjalan dari satu tempat ke tempat lain, memang cara berjalan Dani masih agak pincang karena kecelakaan dahulu.

Terlihat dari jauh langkah kaki kanannya begitu berat menyeret kaki kirinya yang masih dibungkus kain lusuh. Apakah karena tidak pernah kontrol ke dokter jadi luka sobekannya belum sembuh walaupun sudah masuk bulan ke 3. Tapi kalau dipikir, dari mana dia mendapatkan uang untuk kontrol, untuk makan 2 kali sehari saja dia harus berkeliling siang malam untuk meminta-minta. Aku hanya bisa berdoa agar dia diberi kekuatan dan ketabahan. “Tuhan tidak akan memberi cobaan yang melebihi kemampuan hambanya”. Semoga Dani selalu ingat itu.

Hari itu Dani telat keluar dari tempat mangkalnya, jam 11 siang dia baru mulai keluar untuk mengemis. Semalaman tenaganya terkuras habis setelah jalan hampir 5 km ke Depok Baru, hanya untuk melihat pertunjukan musik gratis. Pertunjukan musik gratis untuk umum memang jarang dilewatkan oleh Dani dan teman-temannya sesama pengemis kecil. Selain bisa menghibur diri tanpa mengeluarkan biaya alih-alih dia juga bisa mengemis jika dia ingin mendapatkan uang malam itu.

Siang itu juga setelah aku dan pikiranku ikut bermain di dunia maya. Teriknya sang mentari membuat suasana forum dialogku dengan teman-teman di facebook semakin memanas. Aku lihat forum dialog siang ini menjurus ke perdebatan terhadap suatu hal yang menurutku tidak perlu di besar-besarkan. Akhirnya perdebatan yang tidak kunjung menemui titik temu ini membuat energi 400 kalori yang baru aku dapatkan setelah sahur tadi pagi seperti habis terkuras siang ini. Aku hanya bisa duduk dekat laptop tuaku, yang kubiarkan tergeletak di atas meja kayu, sementara tubuhku berusaha menenangkan diri sambil berpikir apa yang sebenarnya ada di pikiran seorang temanku, namanya Kiko.

Dari namanya memang dia keturunan Jepang asli tapi lahir di lingkungan betawi dan dia memiliki pendirian yang kuat terhadap segala sesuatu yang dia anggap benar. Walaupun kadang-kadang aku melihat dia selalu berada di sisi affirmative dan oposisi terhadap setiap aturan. Sekilas aku kagum dengan Kiko karena hari ini dia berperan sebagai “single fighter” menghadapi teman-temanku yang memiliki ideologis yang kuat dan tidak terima apabila sebuah prosedur yang sudah dibuat dengan matang tiba-tiba terusik oleh tindakan yang tidak etis.

Setelah berhasil menenangkan diri, aku berbaring terlentang di atas kasur lesehan yang aku taruh di pojok kamarku. Tiba-tiba tubuhku bergetar karena takut. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasakan kuatnya tekanan hebat siang ini. Adrenalinku pun mulai mengerut saat itu. Tubuhku seperti mengikuti ritme panasnya udara siang ini. Aku mulai sadar bahwa telah banyak umpatan yang telah aku keluarkan di bulan penuh berkah ini. Aku tidak tahu berapa kata yang telah aku keluarkan untuk mengungkapkan kemarahanku terhadap Kiko.

Aku seperti Hamba Allah yang tidak menghormati kesucian bulan Ramadhan. Tetapi semua beban itu mulai berkurang setelah aku merasakan segarnya air wudlu dan melaksanakan Sholat Dluhur 4 rokaat yang aku lanjutkan membaca kitab suci Al Qur’an. . Memang di kala kita sedang di tenggelamkan oleh amarah duniawi memang dekat dengan Allah adalah jalan keluarnya. Subhanallah.

Teduh yang kurasakan siang ini tidak dirasakan oleh Dani. Jam di kamarku menunjukkan angka 2. Dan terlihat udara di luar semakin panas. Waktu-waktu seperti ini adalah puncak dari suhu udara di musim kemarau. Jika mendekati jam 2 siang, letak matahari akan berada tepat di atas kepala kita. Kemiringan bumi inilah yang membuat pergeseran waktu dan sudut matahari terhadap bumi. Alhasil panas yang kurasakan bisa menembus angka 40 derajat celcius.

Panasnya siang itu tetap tak menyurutkan semangat Dani untuk terus meminta uang kepada orang-orang di sekitar dia. Tapi terlihat jelas raut mukanya menunjukkan keletihan yang luar biasa. Aku melihat tubuh Dani di basahi keringat dingin yang keluar dari tubuh kecilnya. Ternyata sampai pukul 2 siang ini perut Dani belum terisi makanan sama sekali. Dikantongnya baru ada uang 1500 yang dia dapatkan setelah 3 jam mengemis. Dan di Jakarta uang 1500 hanya cukup untuk membeli nasi putih sebungkus tanpa lauk. Tapi situasi yang dia rasakan saat itu ternyata sudah seperti batu kerikil kecil bagi Dani. Dia sudah sering merasakan kelaparan yang begitu berat sampai-sampai ibarat perutnya sekarang telah beradaptasi dengan kondisi yang Dani alami. Dani telah kebal dengan rasa lapar, kulitnya juga mati rasa, kering dan kusam untuk merasakan panasnya sinar matahari. Dia tidak peduli dengan berbagai penyakit yang kapan saja bisa menyerangnya tanpa dia mampu mencegahnya. Seperti kanker kulit, magh akut, ataupun kurang nutrisi. Bagi dia wajar bila banyak penyakit-penyakit itu datang menyerang, Karena hidupnyapun jauh dari budaya higienis.

Dalam hidupnya dia sudah tak mengenal lagi istilah Kebersihan pangkal Kesehatan. Sekarang dalam pikirannya sebagai anak yang masih belum dewasa dia hanya mengenal istilah Uang adalah Segalanya. Memang ironis ketika hak-hak asasi anak-anak di gaungkan secara tegas dimana-mana baik oleh Komnas Anak maupun LSM tapi masih banyak sekali Dani-Dani lain yang tidak tahu apa saja hak-haknya sebagai anak kecil.

Bagi seorang pengemis kecil seperti Dani jalan hidup yang dia jalani hanya mengalir seperti hembusan angin. Hanya bergerak tak tentu arah dan tidak memiliki tujuan yang pasti. Dani hidup tanpa panutan dan tujuan. Dia tidak mengenal arti cita-cita maupun impian seperti anak-anak kecil pada umumnya.

Manusia secara harfiah memiliki banyak sekali pilihan dalam hidupnya. Tapi bagi orang-orang seperti Dani kadang bingung untuk memilih salah satu sebagai jalan hidupnya. Karena begitu buruknya semua pilihan yang ada di hadapannya.

Akan tetapi, pada setiap hari berat yang akan selalu di jalani Dani, jutaan kilometer dari situ, di sebuah tempat yang setiap manusia pun di dunia tidak tahu. Seorang Panutan terbesar manusia akan selalu memberi jalan. Dengan mata terpejam dan sepuluh jemari selalu mengadap ke langit, Dani akan selalu merasakan deru angin sambil menyadari betapa besar karunia Tuhan yang kelak dirumuskan untuk mengubah hidup Dani menjadi lebih baik...AMIN



Tidak ada komentar:

Posting Komentar