Siapa saya..???
"Hanya mahasiswa biasa yang banyak omong di kelas namun punya niat tulus membuat bangsa ini menjadi lebih baik suatu saat nanti.." (amin)

--- Tulisan di dalam blog ini adalah OPINI personal dari penulis. Baik berupa pendapat, pandangan, perspektif, dan tanggapan terhadap suatu kejadian, keadaan disekitar kita. Tulisan dalam blog ini adalah gagasan penulis tanpa maksud menyindir, menjatuhkan, bahkan membuat GALAU pembaca. Tulisan dalam Blog ini bersifat netral, tidak ditunggangi oleh PARTAI POLITIK apapun dan KEPENTINGAN PENGUASA termasuk KONSPIRASI. Penulis mohon maaf bila ada kesamaan karakter, isi, dan makna dalam setiap tulisan. Terima Kasih ---

Sabtu, 07 Mei 2011

IBU AKU INGIN SEKOLAH

by : Choirudin Anas
date : 13 Juli 2009


“Ibu aku ingin sekolah”
“iya anakku nanti habis bapak dapat uang nanti kamu pasti sekolah..!!, Ibu sama bapak ngimpulin uang dulu ya..!”
“Iya bu aku pengen jadi anak pintar..!!”

Siapa yang tidak ingin menjadi orang pintar dan mampu meraih cita-citanya setinggi mungkin. Siapa juga seorang ayah atau ibu yang tidak menginginkan anaknya menjadi orang sukses dan mampu membanggakan orang tua di kemudian hari kelak. Tapi memang sangat ironis di sekitar kita masih banyak anak-anak yang seharusnya bersekolah dan berhak untuk mendapatkan pendidikan harus melupakan semua impiannya karena berbagai masalah kehidupan.

Percakapan diatas, mungkin tidak kita sadari sering terjadi di masyarakat sekitar kita. Masyarakat Indonesia yang sebagian besar berada di garis kemiskinan. Tidak ada yang bisa menyangkal bahwa keinginan untuk mendapatkan pendidikan sampai tingkat tertinggi adalah keinginan dari semua orang baik itu golongan miskin ataupun golongan kaya.

Saya teringat ungkapan dari Ary Ginanjar, seorang penulis serta trainer motivasi ESQ yang sangat terkenal. Beliau mengatakan, “Sesuai kodratnya semua manusia memiliki keadaan fisik atau kondisi yang berbeda-beda. Baik itu yang membedakan si miskin dan si kaya, si pintar dan si bodoh, maupun laki-laki dan perempuan. Akan tetapi, ada satu hal yang membuat membuat mereka sama sebagai makhluk Allah, yaitu mereka memiliki hati nurani atau suara hati yang mendorong mereka menginginkan berbagai kebaikan di dunia maupun di akhirat”

Saya melihat bahwa keinginan setiap orang untuk mendapatkan salah satu kebaikan di dunia adalah sama. Saya mengambil salah satu contoh kebaikan ini adalah pendidikan. Seperti iklan di televisi, dengan pendidikan, anak seorang nelayan bisa menjadi seorang wartawan, anak seorang sopir ojek bisa jadi seorang pilot, dan anak seorang kondektur bisa jadi seorang dokter. Dan pernyataan itu dipertegas dengan kalimat akhir “ASALKAN DENGAN PENDIDIKAN.”

Pendidikan yang seharusnya menjadi sebuah oase di pasang pasir, ataupun menu berbuka bagi orang berpuasa mulai kehilangan arti bagi sebagian orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Bagi mereka sekarang pendidikan hanya sebagai impian yang semakin hari semakin sulit diraih. Sebuah predikat “miskin” memang membawa mereka lebih jauh dari segala bentuk kelayakan atau hidup sewajarnya terutama di Indonesia.

Pendidikan pada saat ini dapat dikatakan seperti sebuah menara gading, Hanya memperlihatkan kebaikannya, Tetapi sulit sekali diraih terutama oleh orang-orang yang kurang beruntung. Pendidikan pun sekarang hanya memperlihatkan fungsinya sebagai hak semua warga, dan mulai menjadi sesuatu yang sacral. Karena hanya orang yang berekonomi mampu yang dapat merasakannya. Istilah NO MONEY, NO EDUCATION pun makin hari makin menjalar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Apa ada yang menolak jika saya mengatakan bahwa pendidikan sekarang menjadi sebuah barang dagangan..?? Semakin tinggi kualitasnya maka semakin besar harganya. Pernyataan ini dapat dibuktikan dalam momen tahun ajaran baru seperti sekarang. Banyak sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi favorit yang menetapkan harga secara otonomi untuk membandrol satu kursi di sekolah mereka. Walaupun pemerintah telah menetapkan kebijakan-kebijakan “sekolah gratis”, “BOS”, dan beasiswa pendidikan lainnya namun beberapa pihak tetap menetapkan harga-harga dan pungutan untuk siswa baru, baik itu diwujudkan dalam “Iuran pembangunan sekolah”, “Iuran seragam”, “dana suka rela”, dll. Memang sangat ironis karena status sekolah favorit yang pasti banyak dicari siswa baru mereka salahgunakan untuk mencari uang sebesar-besarnya. Bahkan tak sedikit kasus yang ditemukan di beberapa tempat, sekolah-sekolah ini dengan sengaja menjual kursi secara langsung tanpa proses seleksi yang sesuai prosedur. Dan perlu digaris bawahi pasti dana yang dikeluarkanpun berpuluh-puluh kali lipat dari dana normal yang harus dikeluarkan siswa baru. Berbeda sekali dengan beberapa sekolah-sekolah negeri non favorit yang untuk membiayai biaya operasional sekolah pun masih kesulitan. Oleh karena itu, system pendidikan pun mesti diperbaiki secara serius.

Tahun ajaran baru merupakan saat yang ditunggu-tunggu dan menyenangkan bagi banyak orang. Baik yang menjadi siswa baru di SD, SMP, SMA, bahkan bangku kuliah ataupun anak-anak yang naik tingkat ke jenjang kelas lebih tinggi. Biasanya bagi seorang anak atau siswa, tahun ajaran baru adalah saat paling mendebarkan dan menyenangkan. Mereka akan memperoleh teman baru, suasana baru, dan materi belajar baru yang lebih tinggi. Ada juga sebagian besar siswa yang melihat momen tahun ajaran baru untuk mengganti semua perlengkapan sekolah yang sudah lama seperti sepatu, tas, buku tulis, dan seragam menjadi baru semua. Sebagian besar anak ini memaknai bahwa tahun ajaran baru harus tampil beda baik dari penampilan maupun semua perlengkapannya.

Saya sendiri memaknai setiap tahun ajaran baru adalah saat-saat yang sulit bagi saya maupun orang tua saya. Dan saya yakin ada puluhan bahkan ratusan orang tua yang mempunyai kesan sama seperti saya, terutama mereka yang hidup dalam kesederhanaan. Bertolak belakang sekali dengan anak-anak yang menyambut datangnya tahun ajaran baru dengan keriangan dan kebanggaan , banyak orang tua yang merasa tidak tenang saat datangnya momen ini. Mereka akan dipusingkan dengan berbagai iuran-iuran yang harus dibayarkan agar anaknya mendapat tempat di sekolah-sekolah negeri favorit yang mereka inginkan.

Untuk orang mampu masalah ini tidak menjadi beban bagi mereka. Bahkan mereka rela membayar berapapun agar anaknya diterima di sekolah ataupun perguruan tinggi yang berkualitas. Akan tetapi untuk orang-orang kurang mampu mampu dan hidup dalam kekurangan bisa menyekolahkan anaknya atau melanjutkan anaknya bersekolah ke jenjang lebih tinggi merupkan kebanggaan bagi mereka. Walaupun sulit dan berat hal itu tidak menjadi halangan bagi mereka asalkan anaknya dapat belajar minimal bisa membaca dan menulis.

Ada pengalaman yang menurut saya cukup membuat saya bersemangat. Beberapa hari yang lalu saya pergi ke Semarang untuk bertemu dengan teman-teman. Karena memang saat akhir liburan, banyak sekali penumpang saat itu. Akhirnya saya putuskan untuk naik bis ekonomi sendirian.

Duduk paling belakang, selama perjalanan di sela-sela waktu saya ngobrol dengan kenek bis atau kondektur yang sering duduk di samping saya jika tidak ada penumpang yang naik. Memang kebetulan saya duduk di kursi panjang paling belakang. Saat itu pembicaraan masih tentang pemilu yang masih hangat-hangatnya dan kemudian berlanjut membahas tahun ajaran baru dan mahalnya biaya pendidikan. Dari percakapan kami, saya tahu bahwa bapak ini baru saja memasukkan anaknnya di salah satu SMA swasta di Solo. Beliau menceritakan bagaimana usahanya untuk mendapatkan uang untuk dapat menyekolahkan anaknya. Saat bapak ini menceritakan panjang lebar saya merasa terharu dan ada perasaan bangga yang saya berikan pada beliau. Saya masih ingat perkataan beliau ke saya yang sampai saat ini masih saya ingat dalam-dalam dan membuat saya terharu. Beliau bilang, (dalam bahasa jawa)

“Mas, kula rilo ngutang kanggo bayar sekolah, sing penting anak kula saget sekolah kaliyan dadi wong sing pinter. Ben ora dadi kayak bapak’e mung dadi kenek bis, marai ora sekolah.”

Dalam bahasa Indonesia,
“Mas, saya rela berhutang untuk bayar sekolah anak saya, yang penting anak saya bisa sekolah kemudian jadi orang pintar. Jadi tidak seperti bapaknya yang cuma jadi kenek/kondektur karena dulu tidak sekolah.”

Dan kata-kata ini selalu saya ingat sampai sekarang dan membuat saya terharu jika mengingatnya. Sebenarnya kita akan selalu bersemangat untuk menjalani hidup ini dan selalu menoleh ke bawah jika melihat orang seperti bapak ini. Betapapun sulitnya hidup mereka, pendidikan seorang anak akan selalu di upayakan untuk kemajuan anaknya kelak.

Dalam Surat Thaahaa ayat 31 terkandung :

“Dan janganlah layangkan pandanganmu kepada kenikmatan yang Kami berikan kepada beberapa golongan diantara mereka. Itu (hanyalah) kembang kehidupan dunia, supaya dapat Kami dengan demikian menguji mereka. Tetapi rezeki Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.”

Saya berkesimpulan bahwa sesungguhnya Allah selalu menciptakan manusia penuh dengan keadilan baik itu diciptakan kaya, miskin, cacat, sehat, dsb. Allah berupaya meyakinkan hambanya dalam surat Thaahaa ayat 31 bahwa segala kesusahan dan kesenangan di dunia adalah suatu kembang dunia. Dan Allah akan selalu memberikan rezeki sesungguhnya pada hambanya yang selalu berusaha.

Kita seharusnya harus belajar pada orang di bawah kita. Walaupun mereka hidup dalam segala kekurangan akan tetapi mereka selalu tawakal dan iklash dalam menjalani setiap masalah hidupnya. Mereka selalu meyakini bahwa ridho Allah itu akan selalu datang di saat mereka menerima segala kondisi hidup ini dengan iklash dan terbuka.

Mungkin sebagian teman-teman ada yang sering melihat acara TOLONG di televisi. Jika ada waktupun pasti saya luangkan untuk menonton acara ini Dari situ kita dapat melihat bahwa masih banyak sekali orang-orang yang hidup dengan kekurangannya dan kadang-kadang tidak mendapatkan hak untuk hidup dengan selayaknya masih mempunyai hati yang bersih dan iklash untuk membantu orang lain. Kita seharusnya banyak belajar dari orang seperti mereka, mereka tidak melihat bahwa kehidupan yang mereka jalani adalah sia-sia, mereka selalu bertawakal dan berikhtiyar untuk menjadi manusia yang berguna.

Apakah kita tidak malu dengan mereka..??

Dahulu orang tua saya pernah cerita bahwa pendidikan adalah hal yang harus diutamakan. Karena mempunyai seorang anak yang sukses dan berhasil meraih cita-cita yang diharapkan adalah kebanggaan semua orang tua. Mereka tidak akan malu dan berat untuk berhutang ataupun kerja membanting tulang asalkan bisa membiayai anaknya bersekolah sampai tingkat tertinggi. Hal inilah yang selalu membuat saya bersemangat untuk terus mengejar cita-cita saya dan menjadi seorang anak yang dapat membanggakan orang tua. Karena saya tahu betul bagaimana orang tua bekerja bahkan berhutang demi pendidikan terbaik untuk semua anaknya. Dan saya pun bercita-cita untuk menebus semua kerja keras itu dengan sebuah kebanggaan bagi orang tua.


SEMOGA SEMUA ORANG BERHAK MENDAPATKAN PENDIDIKAN.!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar