by : Choirudin Anas
date : (14 Agustus 2009)

Walaupun aku hanya sebuah benda mati tapi aku mempunyai seorang ibu dan bapak yang sangat aku banggakan dan aku yakin bangsa ini bangga pula memiliki putra putri pertiwi seperti mereka. Ayahku adalah Soekarno, dia adalah Presiden Indonesia pertama. Lelaki berjiwa pemimpin asal Blitar, yang jasanya tidak akan dilupakan negeri ini sepanjang hayat karena pernyataan PROKLAMASI nya bersama Moh. Hatta pada tahun 1945. Dan ibuku adalah Fatmawati, ibu negara pertama bangsa Indonesia. Beliau adalah seorang wanita tegar dan penyabar. Seorang wanita yang membalut kerasnya perjuangan bangsa ini dalam sebuah kasih sayang.
Aku dilahirkan dalam suasana mencekam negeri ini akan penjajahan bangsa asing. Saat aku dilahirkan bangsa ini masih berada dalam kerasnya perjuangan para pahlawan untuk memperoleh sebuah kemerdekaan. Kemerdekaan yang merupakan satu-satunya harga mati yang akan membawa Indonesia sebagai bangsa yang beradap dan berdiri sendiri sebagai negara yang berdaulat. Aku dilahirkan dari tangan Fatmawati, sepasang tangan yang lembut dan penuh kasih sayang. Aku tidak yakin tangan selembut ini telah merasakan kerasnya perjuangan bangsa ini.
Ibuku bilang walaupun aku hanyalah sebuah bendera, tapi beliau yakin suatu saat akulah yang mempunyai peranan penting dalam perjuangan bangsa ini mencapai kemerdekaan yang di tunggu-tunggu. Aku akan menjadi simbol lepasnya penderitaan rakyat Indonesia dari belenggu penjajah yang sangat kejam. Dan Aku akan selalu menjadi simbol bangsa Indonesia sampai hari akhir kelak.
Aku pun bertanya kepada ibuku, “ Kenapa aku dilahirkan hanya memiliki 2 bagian utama, yaitu warna Merah yang berada di atas warna Putih.?”. Dengan bijaksananya beliau menjawab bahwa itulah 2 simbol yang dibutuhkan negeri ini. Merah yang memiliki arti keberanian dan putih yang berarti kesucian. Sebuah keberanian dari rakyat Indonesia yang didasari atas kesucian hati dalam berjuang yang akan membawa bangsa ini menjadi bangsa maju yang diridhoi oleh Allah SWT.
Mendengar jawaban tersebut semakin meyakinkan diriku bahwa aku dilahirkan memiliki tujuan yang besar terutama bagi bangsa ini. Dan aku berjanji akan ikut berjuang di atas dasar penderitaan rakyat Indonesia akan penjajahan.
- - - -
Hari yang dinanti-nanti jutaan rakyat Indonesia pun datang. Menjadi bangsa yang berdaulat dan terbebas dari belenggu kaum penjajah akan diikrarkan hari ini. Aku pun menunggu datangnya hari ini. Pada hari ini Jum’at, tanggal 17 Agustus 1945, pukul 10.00 di jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, Proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan. Naskah proklamasi yang dibacakan oleh ayahku Soekarno disambut dengan gegap gempita oleh jutaan rakyat Indonesia. Walaupun hanya sebuah teks yang ditanda tangani oleh 2 orang proklamator negeri ini yaitu Soekarno dan Moh. Hatta, akan tetapi ini menjadi simbol kuat bahwa bangsa ini secara de fakto telah melepaskan dirinya dari belenggu penjajahan Jepang dan bangsa asing lainnya.

Dan moment terbaik sepanjang hidupku pun tiba, setelah pernyataan kemerdekaan tersebut pertama kalinya aku dikibarkan secara resmi sebagai Bendera Kebangsaan Republik Indonesia oleh Latief hendraningrat dan Suhud S di depan ribuan rakyat Indonesia yang menyaksikan langsung di Pegangsaan. Saat itulah pertama kalinya aku disebut sebagai “Bendera Pusaka”. Aku menjadi teringat perkataan ibuku dahulu saat aku dilahirkan dan hari ini aku merasakan bahwa semua yang dikatakan beliau menjadi benar adanya hari ini. Di puncak tertinggi aku merasa menjadi Tuhan sementara di depan ribuan rakyat yang meneriakkan semangat perjuangan “MERDEKA”, “MERDEKA”. Akan tetapi aku tetap sadar bahwa Tuhan yang sesungguhnya adalah Allah SWT, yang akan menjadi penentu takdir dari perjuangan rakyat Indonesia.
Aku dikibarkan siang dan malam di tengah hujan, tembakan sampai ibukota Republik Indonesia dipindahkan di Yogyakarta pada tahun 1946. Pada tahun 1948 Belanda juga datang kembali untuk melancarkan agresi militernya. Aku pun sadar ternyata perjuangan bangsa ini belum berakhir karena banyak negara penjajah belum mengakui kemerdekaan Indonesia secara de jure terutama Belanda.
Aku baru mengetahui bahwa salah satu agenda dari agresi militer Belanda adalah merebutku dari bangsa ini. Karena mereka menganggap akulah menjadi simbol pemersatu bangsa ini. Saat ibukota RI berada di Yogyakarta ayahku, Ir Soekarno memerintahkan bapak Husein Mutahar untuk menyelamatkanku sebagai Bendera Pusaka. Ayahku mengatakan bahwa penyelamatan ini bertujuan untuk terus menegakkan berkibarnya Sang Merah Putih di bumi pertiwi.
Untuk menyelamatkanku terpaksa bapak Husen Mutahar harus memisahkanku menjadi 2 bagian, antara bagian merah dengan putihnya. Sekali lagi aku menyadari betapa kejam dan beratnya perjuangan melawan penjajah sampai-sampai cara ini yang diambil untuk menyelamatkanku sebagai Bendera Pusaka negara Indonesia. Namun hal inilah satu-satunya cara yang harus dilakukan untuk menghindari penyitaanku dari Belanda. Selanjutnya kedua bagian tersebut masing-masing disimpan sebagai dasar pada kedua tas bapak Husein.
Berbulan-bulan aku terpisah menjadi 2 bagian. Memang sangat berat tapi demi bangsa ini aku rela melakukannya. Akhirnya moment bersejarah kedua yang kutunggu-tunggu telah tiba. Setelah hampir 2 tahun aku terpisah menjadi 2 bagian, akhirnya aku disatukan kembali oleh bapak Soejono atas dasar perintah resmi ayahku. Aku sangat sedih ketika mengetahui ayahku berada di pengasingan (Muntok, Bangka) saat mengirimkan surat perintah itu. Aku disatukan kembali menjadi sebuah “Bendera Pusaka” persis dengan posisi semula hanya terdapat kesalahan jahitan sepanjang 2 cm pada ujung bendera. Dan sampai sekarang aku tidak dipisahkan kembali dan atas dasar perjuangan Bapak Husein Muntahar, sekarang beliau dikenal sebagai bapak Paskibraka Nasional.
---
Bertahun- tahun aku menjadi simbol perjuangan bangsa Indonesia. Simbol semangat untuk memperoleh kebebasan akan belenggu penjajahan. Simbol yang menunjukkan inginnya rakyat Indonesia menjadi bangsa yang beradap dan berdaulat. Dan aku yakin Allah akan memberikan takdir yang terbaik bagi bangsa ini yang terus berjuang sampai titik darah penghabisan.
Aku bangga terhadap jutaan rakyat Indonesia. Yang senantiasa berjuang dan mempertaruhkan nyawanya demi Bangsa ini. Aku teringat peristiwa di Hotel Yamato, Surabaya. Peristiwa yang membuatku semakin bangga terhadap perjuangan bangsa ini. Pada saat itu Belanda telah menguasai pusat pemerintahan di Surabaya dan mengibarkan bendera Belanda (Merah, Putih, Biru) di tempat tertinggi pada saat itu yaitu di tiang bendera gapura hotel Yamato. Ribuan arek-arek Surabaya tidak terima bahwa simbol bangsa penjajah di kibarkan di tempat tertinggi di Surabaya terutama bumi pertiwi ini. Ratusan arek-arek Surabaya mengepung dan berusaha masuk ke kompleks hotel dan menurunkan bendera Belanda tersebut. Akan tetapi perlawanan dari pasukan belanda dengan persenjataan lengkap siap menembak mereka bila mereka masuk. Para pahlawan Indonesia ini tidak gentar walaupun hanya membawa bambu runcing. Mereka terus maju, dan terjadilah peperangan yang hebat.
Aku teringat akhirnya beberapa pemuda berhasil mendekati dan memanjat dinding serta puncak gapura hotel. Mereka berhasil menurunkan bendera Belanda serta menyobek bagian birunya serta menaikkan kembali bendera MERAH-PUTIH diiringi pekikan “MERDEKA”, “MERDEKA”, “MERDEKA”yang disambut gegap gempita oleh masa rakyat yang berkerumun di bawah.
Setelah peristiwa itu warna tubuhku hampir merah semua, karena warna putihku hampir tertutup oleh warna merah darah para pejuang sejati. Tetapi perjuangan mereka akan selalu kukenang demi tegaknya Sang Saka Merah Putih di bumi persada.
---
Bertahun-tahun berlalu aku merasakan perjuangan rakyat Indonesia mulai membuahkan hasil dan akhirnya sampai sekarang bangsa Indonesia telah terlepas dari belenggu penjajahan bangsa Asing yang telah mereka rasakan selama lebih dari 3 abad. Dan sekarang aku hanya disimpan dalam meja kaca di Istana negara. Tetapi ada ribuan bahkan jutaan “merah putih” yang ada di masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke sebagai bendera negara.
Setelah bertahun-tahun menjalani masa-masa setelah kemerdekaan ini aku menyadari bahwa perjuangan yang kurasakan ternyata semakin berat. Karena tiap tahun berlalu aku harus melawan pergeseran ideologi rakyatku sendiri. Aku harus berjuang bagaimana menanamkan rasa cinta tanah air pada mereka. Rasa cinta tanah air yang seharusnya mereka miliki seperti saat jaman perjuangan kemerdekaan dahulu. Tetapi sekarang rasa cinta tanah air itu mulai luntur. Para generasi muda mulai melupakan bagaimana beratnya dan kerasnya perjuangan para pahlawan dahulu dalam merebut kemerdekaan. Bahkan nyawapun yang dipertaruhkan
Tiap hari hatiku terus menangis di tempat penyimpananku. Selama aku ikut berjuang berperang melawan penjajah dahulu, aku tidak pernah meneteskan air mata sedikitpun. Tetapi sekarang aku tidak kuat menahan hatiku yang terus menangis dan meredam kekecewaan yang begitu tinggi. Aku kecewa karena dahulu aku berjuang melawan bangsa asing yang hendak datang menjajah, akan tetapi sekarang aku harus berjuang melawan bangsaku sendiri.
Hatiku menangis saat mengetahui ada beberapa golongan yang ingin keluar sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Apakah mereka tidak menyadari bahwa negara ini terbentuk di atas lautan darah para pejuang. Yang rela mati demi tegaknya negara Republik Indonesia. Ketika teringat kasus Timor leste, Papua Barat, bahkan Aceh hatiku hanya memendam perih. Aku takut akan seperti temanku Bendera Uni Soviet, yang sekarang telah terbuang dan tidak dipakai lagi sebagai bendera negara setelah Uni Soviet pecah. Apakah aku harus mengecewakan ibuku yang dahulu bilang bahwa aku akan selalu menjadi simbol bangsa ini sampai akhir hayat..??
Aku sendiri bingung bagaimana sebenarnya menumbuhkan rasa cinta tanah air pada rakyatku sendiri. Ketika dahulu aku begitu dihormati setiap waktu, dijaga dari kaum penjajah, bahkan dilahirkan dengan tujuan yang besar, Tetapi sekarang semua itu telah berubah makna. Sekarang aku hanya dihormati minimal seminggu sekali saat upacara bendera di sekolah-sekolah, setelah itu aku hanya disimpan dalam lemari. Dan sekarang makna cinta tanah air hanya besar pada perayaan Agustusan saja.
Sekali lagi hatiku menangis, ketika mengetahui bahwa aku seperti dagangan musiman. Hanya ramai dijual pada bulan agustusan saja. Setelah itu sepi tak terlihat bahkan harus bingung mencari toko yang menjual aku. Apakah aku harus sama dan disejajarkan seperti Mangga, rambutan, dan dagangan musiman lainnya..??
Para generasi muda juga mulai melupakanku. Sekarang anak-anak lelaki lebih senang dan bangga memajang bendera-bendera tim-tim kesayangannya seperti MU, AC Milan, atau Real Madrid dari pada memajang Bendera Pusakanya sendiri. Anak-anak perempuanpun juga begitu, mereka lebih suka menempel foto-foto idolanya seperti Lee Young dai, Teuku Wisnu, ataupun Cristiano Ronaldo dari pada memajangku sebagai kebanggaan mereka.
Kembali hatiku menangis di penyimpananku. Ketika mengetahui bahwa saat Pemilu dan musim kampanye hanya sedikit diriku, Sang Saka Merah Putih yang dikibarkan. Mereka lebih memilih mengibarkan bendera partai politiknya sendiri dari pada mengibarkanku. Apakah pantas, ketika dalam pemilu mereka menginginkan kemajuan bangsa ini tetapi hanya mengusung kebesaran partai politiknya sendiri daripada Indonesia..?
Mungkin sekarang kebesaranku di masa lampau telah mereka lupakan. Mereka lebih mengidolakan Michael Jackson dan orang lain daripada Bendera Pusakanya sendiri. Dan mereka lebih memilih mengibarkan bendera golongan dari pada bendera INDONESIA.
Ada pertanyaan besar sekarang yang terus menghantuiku.
APAKAH SUATU SAAT NANTI AKU AKAN DILUPAKAN, SEPERTI TEMANKU BENDERA UNI SOVIET..?
---
Ketika hatiku terus menangis, terdengar sedikit kabar gembira dari luar. Ternyata masih ada banyak orang yang tidak melupakanku. Mereka berusaha menjaga rasa cinta tanah air dalam hatinya dan memaknai diriku sebagai simbol pemersatu bangsa sesungguhnya. Rasa cinta tanah air itu mereka wujudkan dengan tindakan nyata untuk membawa bangsa ini menjadi lebih maju. Mereka pun tidak hanya berusaha mengibarkan Sang Saka Merah Putih di bumi Indonesia tercinta, akan tetapi juga di negara lain lewat berbagai cara.
Dalam curahan hatiku ini aku hanya ingin berdoa agar para generasi muda tidak melupakan bagaimana sulitnya perjuangan memperoleh kemerdekaan dahulu, dan mereka juga menyadari bahwa negara ini dapat maju jika masyarakatnya memiliki rasa cinta tanah air yang tinggi bukan hanya pada perayaannya saja. Dan semoga kalian tidak lupa akan makna keberanian dan kesucian dalam diriku.

BERKIBARLAH SELALU BENDERA SANG SAKA MERAH PUTIH DALAM HATI KAMI..!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar