by : Choirudin Anas
date : 31 Desember 2011
Bargaining life terjadi secara “vertikal”. Proses tawar menawar kehidupan (bargaining life) ini melibatkan manusia dengan Sang Pencipta. Menurut dasar filosofi teologi, Bargaining life menjadi sebuah proses prestige yang akan dijalani setiap manusia. Ketika manusia menjalani proses kehidupannya, ada empat komponen utama penting yang secara hakiki melekat dalam setiap individu, yaitu; kekuatan (strengths), kelemahan (weakness), tindakan (action), dan hasil (result). Empat komponen tersebut akan terakumulasi melalui satu rangkaian proses dalam proses pencapaian cita-cita.
Menyelesaikan tahun 2009 ini saya merasa sebagai pribadi yang jauh dari standar yang saya cita-citakan. Terkadang saya melihat kelebihan (strenghts) yang saya miliki dalam sudut pandang yang terlalu besar tanpa melihat potensi kelemahan yang tinggi, sehingga prioritas-prioritas yang diambil akan memiliki resiko yang besar pula. Resiko ini sebenarnyalah yang memiliki potensi besar untuk mengarahkan diri saya pada sebuah ‘kegagalan’. Seringkali pula saya memulai sesuatu di bawah bayang-bayang dimensi weakness pada diri sendiri, oleh karena itu saya sering memulai sesuatu dengan keyakinan pencapaian yang rendah. Dan apabila proses itu saya jalani seperti sebuah garis linear maka hasil yang tercapai tidak akan maksimal pula. Semua konflik ini mewakili diri saya dalam menentukan resolusi yang saya ambil di awal 2009.
Mulailah dengan sebuah tujuan
Saya belajar dari Bill gates, pendiri perusahaan microsoft adalah seorang yang paling berhasil di pentas bisnis perangkat lunak di dunia, bahkan perusahaan ini membawanya menjadi manusia terkaya di dunia sekarang. Kita tidak akan mengira bahwa Bill Gates memulai usahanya hanya dari sebuah garasi kecil di bawah rumahnya. Namun karena kegigihannya dalam berjuang, dia berhasil memutar balikkan nasib sesuai dengan cita-citanya. Kata-katanya yang terkenal adalah: “If you have a clear vision, you’ll even forget your breakfast,” (apabila anda memiliki tujuan yang jelas maka anda akan lupa dengan sarapan anda).
Cerita di atas melukiskan bahwa seseorang dapat berhasil dalam hidupnya apabila mereka selalu menentukan tujuan yang hendak dicapai secara jelas sebelum memulai. Tujuan itu mampu terealisasi dalam sebuah resolusi. Sebenarnya Resolusi di awal tahun bukanlah sebuah kewajiban ataupun kebutuhan yang dianggap mendesak. Resolusi ini hanya bersifat rekomendasi (should to do) karena resolusi mengandung artian tujuan yang akan dicapai. Menurut Ary ginandjar, semua orang harus mendahulukan visi (mental creation) dari pada tindakan nyata (physical creation). Banyak orang yang sering berpikiran terbalik, karena memang lebih mudah untuk melanjutkan kehidupan yang sudah ada di depan mata atau memperbaikinya, ketimbang mewujudkan sebuah resolusi baru yang sama sekali belum ada dan terlihat kasat mata. Seseorang berhak membuat sebuah resolusi ataupun tidak dalam menjalani pergantian waktu dalam hidupnya. Setiap manusia diciptakan memiliki modal waktu yang sama, 24 jam dalam satu hari, 7hari dalam seminggu, 4 minggu dalam sebulan, dst. Resolusi akan membuat seseorang mengerti dan memaknai bahwa waktu yang mereka miliki sangatlah berharga dalam mencapai cita-cita. Sehingga mereka tidak akan membuang waktu yang mereka miliki begitu saja. Bagi pribadi saya, resolusi sangatlah penting, ibarat seorang pelari, resolusi merupakan panjang garis finish yang harus dicapai. Dengan resolusi mereka akan menentukan apakah harus berlari 100m, 200m, ataupun 300m untuk mencapai garis finish. Dan tentunya mereka akan melihat kemampuan masing-masing dalam menentukan pilihan tersebut.
2009 merefleksikan emosi dan spiritual yang campur aduk. Ada keberhasilan yang saya dapatkan. Namun tidak sedikit pula saya menemukan kegagalan yang bersifat kontemporer baik atas proses memperbaiki kegagalan tahun sebelumnya atau melaksanakan resolusi yang baru dibuat di awal tahun. Baik itu dalam bidang akademis, prinsip hidup, spiritual, lingkungan, ataupun pergaulan. Dalam 1 tahun terakhir banyak hal yang saya jadikan sebuah literatur untuk menjadi sumber inspirasi. Selain berusaha mencapai target yang telah di tetapkan saya berusaha mengerjakan proses “belajar” dan penggalian yang mendalam terhadap sumber inspirasi tersebut. Semakin dalam penggaliaan tersebut maka semakin saya merasa mendapat ‘kesimpulan’ dari keseluruhannya sebagai sebuah titik terang pencerahan. Saya berharap kesimpulan ini dapat memberikan saya sebuah konsep pemikiran yang baru dan bisa membimbing diri ke arah “kesuksesan” dan menjadikannya sebagai sebuah pedoman atau penuntun hidup. Walaupun saya menyadari konsep ini akan memiliki ‘keterbatasan’ dalam menjawab masalah-masalah dan tantangan yang akan muncul besok terutama di tahun 2010. Dan menimbulkan satu pertanyaan besar dalam diri saya, apabila saya memutuskan memilih resolusi merubah arah ‘kesuksesan’, apakah itu merupakan titik terang yang terbaik.??(retorik)
Seringkali resolusi yang telah kita tetapkan adalah bersifat horizontal atau duniawi. Keberhasilan dalam bidang akademis, keberhasilan dalam pergaulan, ekonomi, cita-cita, dll adalah contoh pencapaian yang kita inginkan dan prioritaskan dalam sebuah resolusi. Tapi tak lupa kita harus ingat bahwa dasar ‘vertikal’ yang menjadi dalil utama dalam kehidupan. Setelah membuat sebuah resolusi, kita akan menjalani proses bargaining life dengan Tuhan. Spiritual kita akan bermain dalam proses ini karena kita mempercayai bahwa segala hasil dari proses perjuangan hidup kita ditentukan oleh Sang Pencipta. Kemampuan yang kita miliki ini akan menjadi modal dalam proses ‘tawar menawar’ dengan Tuhan. Semoga setiap resolusi yang kita ‘tawarkan’ kepada Tuhan dapat diterima dan mampu terealisasi di kemudian hari kelak.
2010.??
“Masalah besar yang akan kita hadapi tidak dapat dipecahkan dengan tingkat pemikiran yang sama ketika masalah itu terjadi”..(Albert Einstein)
Saya meyakini bahwa semakin lama saya hidup dan semakin tua umur saya maka masalah dan tantangan yang timbul akan semakin tinggi kualitasnya. Saya melihat bahwa tahun depan adalah tahun yang berat dan penuh perjuangan, karena masalah yang akan timbul dan muncul akan mengambil banyak space otak dalam memecahkan masalah. Semakin rumit masalah yang muncul maka semakin memancing tingkat kedewasaan kita. Saya berharap di tahun 2010 memiliki tingkat kedewasaan lebih baik dan kualitas memecahkan masalah yang baik pula, Sehinggaa mampu mengerjakan dan memecahkan tantangan dalam setiap resolusi yang saya prioritaskan dalam dalam tahun 2010. Terakhir di 2010 berharap bisa membebaskan diri dari kegagalan-kegagalan buruk yang membelenggu pikiran, dan berpikir lebih merdeka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar