Pesan Bumi Pada Hari Bumi 22 April...
Andaikan bukan lima milyar manusia menghuni bumi, melainkan
lima milyar harimau; tidak akan ada jarak seratus meter pun di Pulau Jawa tanpa anda bertemu seekor harimau. Apa anda tidak akan mengalami trauma/frustrasi dihantui begitu banyak harimau? Harimau yang berkompetisi mengeruk segalanya di bumi, Harimau yang semakin hari melupakan komunitas yang pertama terbentuk dan harimau yang semakin hari menuju pengelompokan yang lebih kecil dan individual. Hanya sebuah kepuasan jasmani yang dicari. Tetapi akal mereka tidak bisa menjawab kapan kepuasan itu mereka dapatkan. Apakah setelah bumi habis ataukah setelah mereka mati.
Bagi umat bumi yang beruntung tidak dibudidayakan, melihat manusia ibarat melihat harimau yang lebih harimau daripada harimau yang sebenarnya, karena “manusia harimau” ini tidak puas memakan daging saja, melainkan juga hasil tumbuh-tumbuhan, buah, daun, bunga, kayu bahkan juga bahan bakar, logam, plastik, semen, beton dan lain sebagainya.
Bayangkan, untuk memenuhi kebutuhan lima milyar “manusia harimau” itu, betapa banyak makhluk bumi harus dibudidayakan (alias dicalon-korbankan), diburu, ditembak, dijerat, dijaring, dipancing, dibabat, digergaji,…. Perut bumi pun dibor dan diledakkan. Dan pengotorannya tidak tanggung-tanggung mencemari tanah, sungai, laut, udara bahkan menyebabkan hujan asam, merusak lapisan ozon diudara dan meningkatkan suhu bumi. Saat efek global warming ada dimana-mana bumi mulai menyapa manusia. Bumi mulai mengirim pesan tanpa kata yang bertujuan agar manusia menjaga bumi ini dengan baik.
Jika dibiarkan, dalam tahun 2025 menurut ramalan, umat manusia akan mencapai jumlah 8,5 milyar. Naik sekitar 3,5 milyar dalam 35 tahun menuju malapeta¬ka dimana bumi berikut umat insan akan meratap dan berkabung. Bumi pun juga berkabung, banjir, longsor, pasang, gunung meletus menutup kecantikan bumi yang dikenal satu-satunya tempat tinggal terbaik manusia. Semoga manusia sadar bahwa bencana ini adalah pesan dari bumi.
Sebaliknya, andaikan bukan kenaikan melainkan penurunan 3,5 milyar jumlah penduduk itu bisa diwujudkan, bumi dan umat insan akan berseri. Begitulah pula pesan bumi.
Sadar akan “menghamanya” umat manusia, di Indonesia, terutama dikota-kota besar yang padat penduduk, pasangan-pasangan subur sibuk ber-KB untuk menurunkan jumlah populasi sampai serendah-rendahnya. Memang lebih baik, daripada menurunkannya melalui peperangan atau membiarkan orang-orang mati konyol melalui kelaparan atau penyakit. “Satu anak saja demi masa depan tanpa polusi, tanpa kemacetan lalu-lintas, tanpa pengangguran, tanpa kemiskinan, tanpa harus hidup berhimpit dalam kampung kumuh/rumah susun, tanpa transmigrasi, tanpa penggusuran, tanpa cemas kehamilan, tanpa pengguguran.
Bumi semakin renta, bumi semakin tua, bumi semakin berat menopang miliaran manusia di dalamnya. Bumi tidak bisa berkata hanya berusaha mengirim pesan dengan berbagai cara. Semoga manusia sadar dan selalu menjaga bumi ini.
SELAMAT HARI BUMI
Siapa saya..???
"Hanya mahasiswa biasa yang banyak omong di kelas namun punya niat tulus membuat bangsa ini menjadi lebih baik suatu saat nanti.." (amin)
--- Tulisan di dalam blog ini adalah OPINI personal dari penulis. Baik berupa pendapat, pandangan, perspektif, dan tanggapan terhadap suatu kejadian, keadaan disekitar kita. Tulisan dalam blog ini adalah gagasan penulis tanpa maksud menyindir, menjatuhkan, bahkan membuat GALAU pembaca. Tulisan dalam Blog ini bersifat netral, tidak ditunggangi oleh PARTAI POLITIK apapun dan KEPENTINGAN PENGUASA termasuk KONSPIRASI. Penulis mohon maaf bila ada kesamaan karakter, isi, dan makna dalam setiap tulisan. Terima Kasih ---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar