by : Choirudin Anas
date : 17 Mei 2011
Budaya ”memang saya pikirkan” harus selalu berada di dalam hati kita semua, menghindari budaya apatisme dan pragmatisme Insyaallah akan membawa kondisi bangsa ini menjadi lebih baik. Budaya ”urun rembug” di jawa, terbukti mampu meningkatkan solidaritas masyarakat dan mampu menyelesaikan masalah-masalah baik kecil maupun besar. Semoga kita juga akan mengingat perkataan Mario Teguh, ”Jika ingin menjadi pribadi yang baik, jangan menunggu kondisi di sekitar anda baik terlebih dahulu, karena sebenarnya andalah yang akan mengubah sendiri kondisi tersebut”
Masuk dalam pembahasan yang lain, Ujian Akhir Semester. Dua minggu kedepan mahasiswa di beberapa perguruan tinggi khususnya di Universitas Indonesia akan menghadapi UAS atau Ujian Akhir Semester. Sebuah rutinitas wajib ini memang diselenggarakan untuk melengkapi salah satu agenda wajib dalam bidang akademis di sebuah lembaga pendidikan. Pihak Universitas berharap dari ujian ini diharapkan mampu didapat standar nilai-nilai kelulusan yang meningkat dari tahun ke tahun. Dari mahasiswa sendiri akan berharap mampu ”melewati” ujian ini dengan baik dan mendapatkan nilai setinggi-tinginya. Walaupun ada beberapa mahasiswa yang tidak berharap ”muluk-muluk” hanya berharap lulus dan tidak mengulang.
Rutinitas wajib ini membawa dampak lumayan besar bagi aktivitas harian mereka. Dapat diamati bagaimana beberapa hari sebelum ujian, mereka akan mempersiapkan berbagai keperluan untuk menghadapi ujian akhir ini. Mulai dari bersih-bersih kamar untuk membuat nyaman belajar, membeli lampu untuk mewaspadai jika mati lampu, membeli alat-alat tulis, makanan yang banyak, bahkan mulai meminjam materi-materi dan buku-buku untuk bahan belajar. Kegiatan belajar mereka juga akan meningkat secara drastis, yang awalnya sehari hanya belajar 1-3 jam atau bahkan tidak pernah sama sekali akan meningkat menjadi 5-7 jam perhari. Tiap waktu akan mereka isi dengan belajar dan belajar. Kegiatan begadang pun tidak akan dapat dihindari karena kebanyakan mahasiswa masih mendewakan Sistem Kebut Semalam (SKS). Saya sendiri juga menganggap bahwa sistem ini adalah sistem gerilya untuk ujian dan masih saya pakai sampai sekarang.
Ibarat peribahasa ”sedia payung sebelum hujan”, kegiatan belajar merupakan satu-satunya payung yang mereka gunakan untuk menghadapi ujian. Belajar memberikan mereka persiapan baik materi maupun mental. Jarang sekali ditemukan orang yang berhasil menghadapai ujian tanpa belajar sama sekali. Namun, perlu digaris bawahi bahwa orang-orang seperti ini akan menggunakan cara-cara yang tidak dihalalkan baik oleh Tuhan maupun pelaksana ujian. Mereka tidak memikirkan bahwa ilmu yang akan mereka dapatkan sebenarnyalah yang lebih penting dari sebuah nilai. Orang-orang yang tidak mau belajar sebelum ujian, harus siap menghadapi kemungkinan terburuk yaitu kegagalan. Ada sebuah pepatah, orang bijak mau mendengar dan tekun menambah ilmu. Orang yang bijak tidak akan pernah merasa puas, tidak pernah merasa pintar, tidak pernah merasa segalanya ada pada dirinya. Orang-orang bijak akan selalu melihat segi-segi kelemahan yang ada pada dirinya. Apalagi jika membayangkan bahwa dirinya adalah Hamba Tuhan. Dengan berpikir seperti ini InsyaAllah akan selalu membuat kita bersemangat untuk belajar dan mendorong kita untuk selalu meraih yang terbaik.
”Saya lebih menghargai usaha saya sendiri, dari pada nilai yang akan saya dapatkan nanti”
Ujian merupakan sebuah sarana untuk mengukur berapa besar kita mampu berkorban untuk diri kita sendiri. Setiap pribadi mempunyai hak untuk menjadi yang terbaik, memperoleh hasil yang memuaskan dan mendapatkan pengakuan dari orang lain. Dalam hukum Termodinamika I dijelaskan bahwa, Aksi = Reaksi. Untuk mendapatkan reaksi ataupun hasil yang memuaskan dan terbaik otomatis usaha awal yang harus kita lakukan harus yang terbaik pula. Persiapan yang matang dan mental yang siap akan membawa dampak besar pula dengan hasil yang akan kita dapatkan nanti. ”Orang bijak akan menghargai usaha keras yang dia lakukan walaupun hasilnya belum memuaskan”. Terkadang manusia akan dihadapkan dalam dua hasil, hasil baik dan buruk. Kita akan menerima jika usaha keras kita akan diganjar dengan hasil yang terbaik, namun, bagaimana jika usaha keras kita ternyata membuahkan hasil yang buruk dan tidak sesuai dengan target kita..??
Sering sekali dalam setiap awal melakukan tindakan seperti ujian, saya merasa sedang melakukanbargaining life dengan Tuhan untuk merundingkan keberhasilan dan kegagalan apa yang akan saya hadapi. Walaupun hasil dari setiap tindakan ini akan saya jadikan sebuah dimensi amal. Kita akan lebih memaknai bahwa nilai dari sebuah kehidupan, barangkali bukan hanya dari keragaman hasil pencapaian “gagal atau berhasil” dan energi positif yang dikeluarkan dalam menyelami liku-liku kehidupan. Melainkan dari kesungguhan nurani dan pemikiran manusia dalam menjalani ujian ini. Saya lebih menghargai usaha keras yang telah saya lakukan daripada merenungkan kegagalan hasil yang saya capai. Dengan berpikiran seperti ini InsyaAllah saya merasa siap menghadapi ”ujian kehidupan” yang sesungguhnya di depan saya.
Memaknai Sebuah Ujian
”Tidaklah seseorang dikatakan beriman sebelum mereka Aku uji”
Begitulah firman Allah SWT dalam Surat Al- Ankabut 2-3. Tentunya firman tesebut menegaskan bahwa memang sudah menjadi bagian dari rencana Allah SWT menempatkan berbagai ujian semata- mata untuk mengangkat derajat kita hingga menjadikan kita menjadi manusia pilihan-Nya. Dan begitu pula hakekat dengan Ujian Akhir Semester pada umumnya, yang tidak lain tidak bukan adalah meningkatkan derajat kita dari segi ilmu atau pendidikan.
Ujian memberikan sisi evaluatif dan sisi instropeksi (anonim: 2010). Kemasan yang rapi dalam pelaksanaan ujian pendidikan memiliki sifat evaluative. Allah memberikan kita ujian tidak tanpa dasar, Beliau ingin mengetahui sejauh mana penguasaan materi manusia akan sisi kehidupannya. Manusia yang diciptakan memiliki cipta, rasa, dan karsa mempunyai kelebihan untuk belajar dari kehidupan dan berbagai fenomena-fenomena kebesaran Allah SWT. Ujian yang diberikan Allah pun tidak akan diluar batas kemampuan manusia karena Allah tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuannya (Al Baqarah : 286). Sehingga tidaklah mungkin juga seorang Dosen atau pengajar akan memberikan soal ujian di luar batas kemampuan siswanya. Karena pada dasarnya ujian merupakan satu bentuk evaluasi atas penguasaan materi-materi yang tentu sudah dipelajari oleh penerima ujian tersebut sebelumnya. Dengan sifat evaluaif ini maka akan menunjukkan apakah peserta ujian atau mahasiswa layak menapaki tingkat yang lebih tinggi berikutnya.
Dan yang kedua, ujian juga memiliki sifat intropeksi. Hasil akhir dari ujian akhir ini tidaklah tepat kiranya jika hanya dijadikan sebatas stempel kelulusan akan mata kuliah yang diambil. Namun, harus menjadi sebuah materi berharga yang menunjukkan dimana letak kelemahan dan kekurangan kita dan sebesar apa kelemahan dan kekurangan tersebut. Jika kita mampu melihat sisi ini, InsyaAllah kita akan selalu belajar dari kekurangan kita dan berusaha memperbaiki kekurangan tersebut.
Walau samar-samar, terlihat senyuman indah dibalik ujian berat ini.
Aku merasa riskan akan kemampuanku,
Namun aku tidak menduakan keadilan Tuhan,
Kau menuntunku ke arah yang benar
Dimana kejujuran dijunjung tinggi,
Pondasi kuat kutancapkan tanpa lelah
Tak ingat hari, tak ingat waktu
Semua demi hasil terbaik.
Bukan nilai, bukan pengakuan
Namun Hanya Ridho Sang Illahi.
(CA :2010)
Well...!! apapun yang akan anda rasakan.. saya cuma mau mengatakan Ujian Akhir Semester : ”emang gue pikirkan” (red- Memang saya pikirkan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar