by : Choirudin Anas
date : 8 November 2009
Hakikat tentang cinta
Mengambil istilah Habiburahman El Shirazi, Cinta ( Al-huub) yang dirasakan manusia dimulai dengan rasa, kemudian permainan, dan lama-lama menjadi kesungguh-sungguhan. Cinta memiliki makna yang dalam, indah dan agung. Tak ada kata-kata yang dapat melukiskan dan menggambarkan bagaimana bentuk dari dimensi cinta ini. Dimensi dengan kemampuan mengkuadratkan ukuran dengan tempo yang relatif singkat. Cinta mengambil peranan dan ruang yang cukup besar dalam hati dan pikiran manusia ketika rasa ini mulai membekas dalam batin mereka. Hakikat cinta sebenarnya tidak dapat ditemukan, selain dengan segenap kesungguhan pengamatan dan penjiwaan dari insan yang merasakannya. Dalam perdebatan banyak tafsir tentang arti cinta. Muncul banyak sekali perbedaan yang signifikan mengenai arti dari cinta yang sesungguhnya. Menurut saya sendiri cinta adalah sebuah jembatan penghubung antar jiwa (Jiwa laki-laki dan perempuan) yang tidak berwujud tetapi dapat dirasakan kuat keberadaannya oleh jiwa yang bersangkutan. Jembatan ini akan terbangun ketika terdapat dua insan sepasang yang mampu meleburkan dimensi prerogatif pribadinya menjadi sebuah dimensi cinta yang mengukung dua jasad manusia ini dengan kepentingan untuk saling menjaga hati mereka masing-masing walau memiliki beraneka corak dan warna diri.
Jembatan fana ini sebenarnya yang mampu menembus jiwa sepasang insan. Menurut karakter ilmiah, jiwa adalah kejernihan, ketentraman atau keheningan. Jiwa dibangaun dalam bingkai kemungkinan-kemungkinan dalam kehidupan manusia. Kemungkinan untuk menyetujui sesuatu, condong pada sesuatu, rindu pada sesuatu, dan terpenting kemungkinan untuk bisa menjaga dan mengumbar nafsu dalam sebuah dimensi cinta. Dan rasa cinta lah yang mampu menembus kejernihan jiwa seorang manusia.
Cinta sebuah rasa yang tidak VALID
Arti Validitas menurut Wikipedia adalah kesahihan; kebenaran yang diperkuat oleh bukti atau data. Segala sesuatu dapat diukur validitasnya untuk mengetahui apakah sebuah hal memiliki kebenaran yang valid dan di dukung oleh bukti-bukti yang ada. Tapi berbeda dengan cinta. Sebuah perasaan yang didasari oleh intervensi batin akan kesukaan terhadap insan yang lain. Kadang rasionalitas seseorang pun tidak dapat memaknai perasaan ini. Dalam pengertian filosofinya, cinta merupakan sesuatu yang bersemayam dalam jiwa yang terdalam. Bisa jadi, seseorang jatuh cinta karena suatu “sebab”. Namun cinta jenis ini tidaklah abadi. Cinta jenis ini akan melayang bersamaan dengan melayangnya sebab tersebut. Ketika manusia memaknai cinta yang dengan instingnya maka cinta ini tidaklah salah hanya sebuah cinta nafsu. Cinta yang lebih didasari akan keindahan fisik semata. Cinta tidak mempunyai variabel pengikat. Cinta mampu hadir dan pergi dalam diri seseorang kapan saja, dimana saja, dan oleh sebab apa saja. Validitas cinta yang selama ini di suarakan oleh banyak orang sebenarnya tidak memiliki dasar dan bukti yang kuat. Validitas sebuah cinta hanya akan dapat dijawab oleh Jiwa kedua insane tersebut dan Tuhan yang Maha mengetahui.
Distorsi pikiran manusia
Proses ke tidak efektifan pikiran manusia (brain distorsy) akan berjalan sejalan dengan rasa adiktif yang semakin mereka rasakan. Mereka akan merasakan kesenangan tiada tara ketika rasa cinta mulai menjalar melewati jembatan syaraf mereka dengan intensitas tergangan yang tinggi. Rasa cinta yang akan diproses oleh otak ini mencapai limbiks (otak yang berfungsi dalam fungsi emotional) terkesan lebih cepat daripada gerak refleks karena benturan. Distorsi pikiran ini akan dimulai ketika manusia akan menomor duakan prioritas utama dalam diri mereka masing-masing. Dan mendewakan Rasa cinta yang mulai menjalar dalam hati, pikiran dan akal mereka. Kadang rasa ini sering mengalahkan segala prioritas manusia yang dibuat dengan matang dan tujuan pencapaian yang tinggi. Rasa cinta pun sering mengakibatkan distorsitas fungsi tubuh manusia. Metabolisme rutin dari makanan yang harus diterima tubuh manusia dapat terganggu ketika manusia meng-esakan cinta dari pada jam makan mereka. manusia melupakan kesehatan mereka, manusia melupakan kebutuhan dasar mereka, dan yang lebih penting ketika manusia melupakan tujuan mereka hidup sesungguhnya.
Cinta sering mengarahkan manusia ke budaya hedonism. Dalam Era globalisasi dewasa ini yang ditandai dengan semakin ketatnya persaingan di segala bidang, merupakan suatu realitas yang tak dapat dipungkiri dan tak mungkin dihindari oleh setiap orang yang hidup di zaman ini. Kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi, lebih-lebih media elektronik telah menawarkan suatu gagasan baru ke seluruh dunia tanpa memperhitungkan dampak-dampak negatif yang dapat ditimbulkannya terhadap norma agama dan akhlaq manusia. Produk berbalut cinta yang banyak ditawarkan di berbagai media memancing manusia untuk lebih memposisikan perasaan suci ini ke dimensi penafsiran dan perlakuan yang salah. Sekarang banyak orang mengenal No Money No Love., tidak ada uang maka tidak akan ada cinta. Walaupun sering dibantah oleh orang banyak orang namun realita ini semakin mendarah daging di kehidupan masyarakat.
Terlihat bahwa sebenarnya efek negative dari hedonism telah tertutup rapat oleh indahnya cinta. Manusia tidak melihat bahwa ini merupakan efek eksplisit dari sebuah paham yang salah. Itulah mengapa rasional manusia sering dipertanyakan ketika sedang di bawah dimensi ini. Dan its Distorsy Point
Iblis Mulai mengenal Cinta.
Berabad-abad lamanya, iblis dipahami manusia sebagai biang kerok kejahatan di atas dunia. Hanya para sufi sepanjang zaman yang mampu memahami hakikat iblis. Iblis bukanlah makhluk yang patut dibenci. Al-Hallaj mengakui bahwa iblis adalah figur sang pencinta sejati, seorang martyr, ia adalah sang murshid bagi para malaikat-Nya. Iblis
adalah sosok "perfect servant" bagi para pencinta Kebenaran. Kecintaan mutlaknya kepada Hyang Kang Akarya Jagat tidak diragukan lagi. Ujian penderitaan dari Sang Kekasih diterimanya "without question or complaint".
Ketika Iblis diperintahkan Tuhan untuk menggoda iman dan ketaatan para keturunan adam. Iblis menerimanya dengan begitu kerelaan. Manusia yang diciptakan manusia dengan akal, pikiran, dan hatinya. Menjadi target godaan iblis ketika rasional yang mereka punya sebagai makhluk paling sempurna tidak digunakan. Mereka lupa untuk menggunkan rasional itu untuk membedakan mana yang salah dan mana yang benar.
Iblis mulai mengenal cinta saat logika manusia menjadi tidak rasional karena keindahan cinta dunia. Mereka melihat celah kelemahan manusia dari dimensi cinta ini. Cinta dunia yang terasa lebih besar dari pada Cinta akan Tuhanlah yang akan mereka jadikan sasaran utama dalam hakikat mereka sebagai IBLIS.
Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, "Apa itu cinta? Bagaimana saya menemukannya? Gurunya menjawab, "Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta"
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?" Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja,dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)". Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwa ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya"
GUNAKAN HATI DAN RASIONAL UNTUK MENGENAL HAKIKAT CINTA..!! LET'S FIND THE BEST LOVE...!!WKWKWK
Tidak ada komentar:
Posting Komentar